Macam-Macam Wayang di Indonesia (Bagian 1)

Macam-Macam Wayang di Indonesia (Bagian 1)

Ilustrasi pewayangan © Wikimedia

Pertunjukkan wayang semalam suntuk terlihat di sebuah acara khitanan tetangga saya. Pak Dhe saya terlihat sangat bersemangat untuk menonton. Maklum beliau memang suka wayang sejak dahulu.

Kalau dulu di kampungnya sering mengadakan pertunjukan wayang ketika ada pasar malam, saat ini sudah sangat jarang. Paling-paling tetangga yang sedang khitanan atau menikah.

Selama ini kita mengenal berbagai bentuk wayang seperti wayang kulit, wayang beber, wayang klitik, dan wayang wong. Selain itu cerita mengenai bagaimana Sunan Kalijaga memakai media wayang untuk berdakwah. Asal wayang yang asli dari Indonesia dan sebagainya.

Menarik untuk digali bukan?

Wayang memiliki arti bayangan dalam Bahasa Jawa dan dalam Bahasa Melayu disebut baying-bayang, Dalam bahasa Aceh disebut baying.

Berdasarkan penelitian, wayang merupakan budaya asli Jawa dilihat dari istilah-istilah yang ada pada pertunjukan wayang. Fungsi semula dari pertunjukan wayang adalah sebagai upacara pemujaan kepada nenek moyang bagi penganut kepercayaan “Hyang”.

Saat ini fungsi wayang menjadi media hiburan tradisional. Wayang juga memiliki beberapa macam.

Wayang Beber

Hadiah dari Raja Brawijaya yang kemudian diwariskan. Saat ini wayang beber dimiliki oleh Mbah Mardi disimpan dan dilestarikan di Pacitan. Di Wonosari, Ki Supar sebagai keturunan ketujuh Kyai Remeng Mangunjaya yang menyimpannya. Biasanya cerita yang dilakonkan adalah cerita pada masa kerajaan Kediri dan Majapahit.

Wayang disajikan dengan membentangkan layar atau kertas yang berupa gambar. Menguraikan cerita lakon melalui gambar yang tertera pada kertas atau layar tersebut.

Wayang Beber| Sumber: Wikipedia.id

Pada tahun 1223 Masehi yakni zaman Jenggala, wayang beber merupakan gambar pada daun siwalan. Kemudian pada 1244 Masehi digambar di atas kertas yang terbuat dari kayu yang disebut dlancang gedig berwarna kekuningan dengan tambahan ornamen. Saat itu bersamaan dengan pindahnya keraton Kerajaan Jenggala ke Pajajaran.

Barulah pada tahun 1316 Masehi di zaman Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Jaka Susuruh, kertas wayang tersebut dipasangi tongkat kayu di setiap ujungnya dan mempermudah penggulungan dan penyimpanan.

Tahun 1378 Masehi terdapat tiga set cerita yakni Panji di Jenggala, Jaka Karebet di Majapahit, dan Damarwulan dengan pewarnaan yang lebih beragam dan penggambaran raja dan punggawa yang lebih terlihat.

Gulungan Wayang Beber| Sumber: Wikipedia.id

Kemudian wayang semakin berkembang seperti modifikasi ilustrasi dan penambahan kisah-kisah baru.

Saat ini wayang beber tidak hanya menyajikan kisah Mahabharata dan Ramayana saja, tapi adanya wayang kontemporer kisah mengenai kehidupan masyarakat saat ini.

Wayang Purwa

Disebut sebagai wayang yang paling tersohor. Purwa sendiri memiliki makna “awal”. Pada kalangan masyarakat Jawa purwa juga bisa diartikan sebagai purba. Menampilkan cerita-cerita zaman dahulu.

Wayang purwa ini telah disebutkan dalan Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa pada masa pemerintaah Raja Airlangga di abad ke-11 yakni dalam kalimat “Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap”.

Kalimat tersebut memiliki arti “Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara”.

Wayang Purwa | Sumber: hadisukirno.co.id

Ringgit sendiri memiliki sinonim dengan kata wayang. Terbuat dari walulang inukir atau kulit yang diukir, dan dibuat dari bahan kulit binatang yang mengambil pola dari bentuk-bentuk wayang yang dilukis di daun lontar, dikenal sebagai wayang beber.

Di sinilah wayang purwa sebagai perkembangan lebih lanjut dari wayang beber dan berkembang secara berdampingan.

Jumlah wayang purwa dalam satu kotak bisa 200 buah lebih dan akan bertambah jika tiap tokoh diwujudkan dalam berbagai wandha atau ekspresi dan ungkapan watak serta kondisi batin

Cerita yang disajikan bersumber dari Mahabarata dan Ramayana. Wujud dari wayang purwa dapat berupa wayang rontal, wayang kertas, beber purwa, demak, keling, jengglong, kidang kencana, purwa gedig, kulit purwa Cirebon, kulit purwa Jawa Timur, golek, krucil atau wayang klithik, sabrangan, rama, dan lainnya.

Wayang Gedog

Wayang ini berada dalam genre wayang madya. Berbentuk wayang kulit dan penggunaan gending dan sulukan.

Muncul pada abad 15 dan diciptakan oleh Sunan Ratu Tunggal atau Sunan Giri di Kerajaan Demak denga penambahan cerita Damarwulan. Pada masa pemerintahan Paku Buwana X di Surakarta, wayang gedog dipergelarkan pada berbagai upacara kerajan seiring dengan pertunjukan wayang purwa.

Wayang Gedog | Sumber: Bernas.id

Mempresentasikan cerita yang bersumber dari Serat Panji dengan cerita pertemuan tokoh utama yakni Panji Inukertapati atau Panji Asmarabangun dengan istrinya yakni Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana.

Bentuk wayang yang berupa wayang kulit dengan tekes, keris, dan rapekan. Gending dan sulukan memakai laras pelog.

Gedog diartikan sebagai kuda dalam Bahasa Kawi dan juga diartikan sebagai batas antara siklus wayang purwa yang mengambil seri cerita Mahabarata dan Ramayana dengan siklus cerita Panji.

Bentuk wayang mengambil pola dasar wayang purwa jenis satria sabrangan. Kain busana berbentuk rapekan dengan keris. Hanya ada empat jenis muka dengan gusen seperti tokoh wayang Arjuna dan muka berhidung dempok seperti tokoh wayang Wrekudara. Jenis wayang gedong ada dua yakni wayang klithik dan langendriyan.

Wayang Madya

Diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita Wayang Purwadengan Wayang Gedog. Peralihan cerita purwa ke cerita panji. Cerita yang terkenal dari wayang madya adalah cerita Anglingdarma.

Terbuat dari kulit dan memakai keris, kemudain ditatah dan disungging.

Jika wayang Purwa menceritakan dewa-dewa sampai keluarga Pandawa maka wayang Madya mengambil cerita cucu Pandawa samppai menjelang Panji. Juga cerita sejak wafatnya Parabu Yudayana sampai masa Prabu Jayalengkara naik tahta pada tahun 863 M-1130 M.

Wayang Madya | Sumber: Wayangku.id

Memiliki bentuk paduan wayang kulit purwa dengan wayang gedog. Bagian atas mengambil bentuk wayang purwa dan bagian tengah ke bawah bentuk wayang gedhog.

Beberapa tokoh dari wayang madya adalah Anglingdarma, Batik Madrim, Anglingkusuma, Gandakusuma, Merusupadma, Wil Maricikunda.

Catatan Kaki: indonesia.go.id | budaya-indonesia.org | jurnal.ugm.ac.id | jurnal.isi-ska.ac.id | staff.ui.ac.id

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Legenda Kopi Jawa, Cup of Java Sebelummnya

Legenda Kopi Jawa, Cup of Java

Selain Bumilangit, Ini Cinematic Universe Asal Indonesia Lainnya Selanjutnya

Selain Bumilangit, Ini Cinematic Universe Asal Indonesia Lainnya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.