Benarkah Kebun Raya Bogor Kebun Raya Tertua di Dunia?

Benarkah Kebun Raya Bogor Kebun Raya Tertua di Dunia?

Kebun Raya Bogor © Sumber: Harga Tiket.Net

  • Kebun Raya Bogor telah memasuki usia 202 tahun, dihitung ketika Gubernur Jenderal Belanda, Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen, mendirikannya pada 18 Mei 1817.
  • Beberapa tulisan tentang sejarah berdirinya Kebun Raya Bogor, adanya bukti hutan Samidha merupakan cikal bakal Kebun Raya Bogor seperti disebutkan dalam Prasasti Batutulis.
  • Sedang dilakukan penelitian untuk membuktikan bahwa Kebun Raya Bogor merupakan kebun raya tertua di dunia, karena sudah ada sejak tahun 1500-an.
  • Kebun Raya Bogor mempunyai koleksi tanaman yang cukup komplit, yaitu 213 famili, 1202 genus, 3156 spesies, dan 12.141 spesimen tumbuhan. Melihat sejarah dan koleksi tanamannya, Kebun Raya Bogor diusulkan sebagai situs Warisan Dunia (World Heritage Site) kepada UNESCO.

Di tengah hingar bingarnya tahun politik ini, ternyata Kebun Raya Bogor telah memasuki usia yang sungguh tidak muda lagi, yaitu 202 tahun. Usia itu ditetapkanketika Gubernur Jenderal Belanda, Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen, mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama Lands Plantentuin te Buitenzorg pada 18 Mei 1817. Pembangunannya dipimpin. Caspar Georg Karl Reinwardt, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris.

Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt adalah ilmuwan botani dan kimia berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya.

Reinwardt tertarik menyelidiki berbagai tanaman obat. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti “tidak perlu khawatir”). Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.

Logo Kebun Raya Bogor yang biasa digunakan pengunjung untuk berfoto | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Pengunjung di Kebun Raya Bogor | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Di usianya sekarang ini, Kebun Raya Bogor mempunyai koleksi yang cukup komplit. Tercatat dalam situs Pusat Konservasi Kebun Raya LIPI, Kebun Raya Bogor memiliki kekayaan flora, dengan perincian 213 famili, 1202 genus, 3156 spesies, dan 12.141 spesimen tumbuhan.

Dan dalam perkembangannya, Kebun Raya Bogor menjelma menjadi benteng konservasi plasma nutfah –substansi pembawa sifat keturunan yang dapat berupa organ utuh atau bagian dari tumbuhan atau hewan serta jasad renik– keanekaragaman hayati tumbuhan Indonesia. Ini menjadi salah satu alasan utama, Kebun Raya Bogor diusulkan sebagai situs Warisan Dunia (World Heritage Site) kepada UNESCO.

“Sebenarnya usulan tentang ini sudah dimulai sejak 25 September 2017. Yang kemudian setelah melalui beberapa proses, Kebun Raya Bogor resmi terdaftar di Tentative List UNESCO World Heritage List pada tanggal 26 April 2018,” kata Prof. Enny Sudarmonowati, Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI melalui siaran persnya.

Sebuah kubah peninggalan sejarah di dalam Kebun Raya Bogor | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Untuk menyambut itu, diadakanlah berbagai persiapan. Seperti Focus Group Discussion pada 23 Mei 2019, yang berlangsung di Kebun Raya Bogor dan dihadiri berbagai pihak, diantaranya peneliti, akademis, pemerintah dan sejarawan.

Menurut Plt. Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R. Hendrian, diskusi ini terfokus pada 2 hal penting, yaitu sejarah kawasan hutan Samidha dan keterkaitannya dengan Kebun Raya Bogor, serta manajemen konservasi dan pengembangan Kebun Raya Bogor, terkait dengan tata ruang kota Bogor.

Seekor burung yang hinggap di pohon di Kebun Raya Bogor | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Pepohonan besar koleksi Kebun Raya Bogor | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Hutan Samidha

Merujuk kepada beberapa tulisan tentang sejarah berdirinya Kebun Raya Bogor, ada keterkaitan erat hutan Samidha dengan Kebun Raya Bogor. Misalnya LIPI menjelaskan bahwa hutan Samidha adalah merujuk pada artian hutan buatan/ lindung yang dibuat/ dibangun oleh Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Pajajaran (1474-1513 ) . Hutan Samida dibangun untuk menjaga kelestarian lingkungan serta tempat untuk memelihara benih-benih kayu yang langka.

Merujuk Wikipedia, Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari ‘samidha’ (hutan/taman buatan) yang setidaknya telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja.

Semua tulisan yang menjelaskan bahwa hutan Samidha ini merupakan cikal bakal dari Kebun Raya Bogor, merujuk pada tulisan dalam Prasasti Batutulis.

Ini dikuatkan dengan ditemukannya tanda-tanda awal, berupa sebidang tanah yang terdapat bebatuan padat, yang seolah-olah ditata sedemikian rupa di dalam Kebun Raya Bogor. Hal itu diduga sebagai bukti tentang hutan Samidha dan Kebun Raya Bogor sebagai bagiannya dalam Prasasti Batutulis.

Lokasi ini diduga sebagai hutan Samidha, cikal bakal Kebun Raya Bogor | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Walaupun membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya, lanjut Hendrian. Bila terbukti benar, maka Kebun Raya Bogor bisa dinobatkan sebagai kebun raya tertua di dunia, karena sudah ada sejak tahun 1500-an. Pembuktian itu menjadi penting untk digunakan sebagai data penunjang kepada UNESCO.

Saat ini masih terjadi perdebatan diantara para ahli, arti kata Samidha berarti hutan lindung, atau nama sejenis pohon, ataukah hal yang lain.

Sejarawan kota Bogor Rachmat Iskandar, mengatakan dalam Prasasti Batutulis, yang dibuat oleh Prabu Surya Wisesa, anak dari Prabu Siliwangi, pada baris ke tujuh, ada tertulis kata “nu nyieun Samidha”, yang artinya bisa bermacam-macam. Bisa berarti satu tempat yang dibuat Prabu Siliwangi, atau hanya sekedar bentuk peringatan supaya hutan-hutan itu tidak hancur sebagai sumber tanaman, air dan lain sebagainya.

Jembatan di dalam Kebun Raya Bogor | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Sedangkan Endang Sumitra, sejarawan yang turun temurun tinggal dan menjadi pengurus Istana Bogor — bagian dari Kebun Raya Bogor— mengatakan para ahli arkeologi sedang meneliti balai batu atau sebidang tanah yang berupa bebatuan padat di dalam kebun raya itu. “Apakah sebagai megalith peninggalan masa lalu dari masa Padjajaran, atau bahkan lebih dari masa itu, yang digunakan kembali pada masa Pajajaran,” katanya kepada Mongabay-Indonesia.

Menurut Endang, ada beberapa versi arti dari Samidha, tetapi semuanya mengarah kepada artian botanical. Bahkan diantaranya ada yang menyebutkan bahwa Samidha itu adalah nama sebuah pohon, yang secara jamak diartikan hutan. Dan jenis pohon Samidha ini, biasa dipergunakan sebagai ritual, seperti kremasi atau pembakaran mayat.

Bakal bunga tumbuhan Rafflesia padma, koleksi Kebun Raya Bogor | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Kebun raya bogor menyimpan sejarah yang luarbiasa, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia. Mengingat umur dan kelengkapannya. Keberadaannya kini harus dilindungi sedemikian rupa, agar tetap lestari.

Walaupun Kebun Raya Bogor juga telah menjelma sebagai salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Dan mendatangkan keuntungan untuk perkembangan Kebun Raya Bogor.

Sementara di sisi yang lain, jika terus dibiarkan tanpa pembatasan kuota pengunjung dan pengawasan yang ketat, maka lambat laun Kebun Raya Bogor akan kehilangan fungsi sesungguhnya, sebagai hutan konservasi yang harus dijaga dengan ketat keberadaan keanekeragaman hayatinya.

Butuh keterlibatan semua pihak terkait agar “kelestarian” kebun raya semakin terjamin, dan membuatnya layak menjadi salah satu world heritage site kebanggaan Indonesia.

Seekor capung yang hinggap di tanaman teratai di Kebun Raya Bogor | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia


Catatan kaki: Ditulis oleh Anton Wisuda dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ini Magnet Pariwisata Baru di Teluk Saleh Sebelummnya

Ini Magnet Pariwisata Baru di Teluk Saleh

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu? Selanjutnya

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu?

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.