"Cakep"nya Tradisi Pantun Betawi

"Cakep"nya Tradisi Pantun Betawi

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang melegenda © The Jakarta Post

Eh ujan gerimis aje, ikan teri diasinin, eh jangan menangis aje, yang pergi jangan dipikirin.

Kalau baca kalimat ini saya sudah otomatis menyanyi, mungkin teman-teman juga melakukan hal yang sama. Bait lagu legendaris Gerimis Aje ini sempat populer khususnya saat sinetron Si Doel Anak Sekolahan di pertelevisian Indonesia.

Lagu duet penyanyi terkenal Benyamin Sueb dengan Ida Royani ini memang kental dengan budaya Betawi di dalamnya. Termasuk dengan lirik lagunya yang menggunakan pantun.

Sejarah pantun Betawi

Menurut yang dituliskan dalam situs resmi Pemprov DKI Jakarta, pantun adalah kebudayaan Betawi yang diyakini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.

Pantun digunakan untuk mengungkapkan isi hati dan menjelaskan keadaan sosial masyarakat. Hingga saat ini pantun Betawi juga masih dilakukan saat acara pinangan adat Betawi dan lagu-lagu khas Betawi.

Meskipun tradisi berbalas pantun tidak hanya dimiliki oleh orang-orang Betawi, namun terdapat perbedaan dari ciri-ciri pantunnya. Seperti di Minangkabau yang menggunakan kaprinyo, sebutan lain dari pantun.

Ondel-ondel khas Betawi | Sumber: sportourism

Keunikan pantun Betawi

Selain itu struktur pantun khas Betawi juga tidak mutlak empat baris, bisa kurang dan lebih. Penggunaan bahasa juga lebih bebas dan terkadang sampirannya tidak memiliki makna tertentu.

Pantun khas Betawi selain menggunakan bahasa Betawi, juga membahas tentang kehidupan masyarakat sekitar. Mulai dari adat istiadat, sosial budaya, agama, hingga keadaan alam Betawi. Selain itu syair yang digunakan terkesan kocak, blak-blakan, dan berbalas dengan cepat.

Masyarakat Betawi mempercayai bahwa memberi nasehat dan kritik menggunakan pantun akan lebih mudah dicerna dan dapat disampaikan dengan suasana yang lebih menyenangkan.

Menurut catatan sejarah, pantun Betawi disebarkan oleh pedagang Gujarat pada abad ke-15. Pantun yang dibawa saat itu bertujuan untuk menyebarkan nasehat keagamaan.

Seiring berkembangnya zaman, pada abad ke-17 hingga ke-18, kedatangan orang Melayu ke Betawi mempengaruhi tujuan pantun menjadi sebuah syair ungkapan isi hati.

Benyamin Sueb, sang pelantun Gerimis Aje | Sumber: Beritagar

Pantun Betawi setelah kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak bermunculan seniman Betawi yang menggunakannya dalam nyanyian dan seni hiburan lainnya. Di tahun 1950-an, penyair Betawi yang terkenal saat itu adalah Susi Aminah Aziz dan Tuti Alawiyah.

Kemudian generasi yang menyusul berikutnya adalah Ridwan Saidi dan Benyamin Said yang kita kenal hingga saat ini.

Tidak hanya itu, sekarang pun acara hiburan di televisi juga menggunakan berbalas pantun yang lucu. Para pengisi acara akan menyebutkan syair pantun, kemudian yang mendengarkan akan serempak mengatakan "cakep!".

Catatan kaki: jakarta.go.id | Netral News

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih40%
Pilih SenangSenang40%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Inilah Ragam Kuliner Khas Kota Palu Sebelummnya

Inilah Ragam Kuliner Khas Kota Palu

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya Selanjutnya

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya

Nabila Ghaisani
@bellaghaisani

Nabila Ghaisani

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.