Perjalanan Teh, “Teman” Berbagai Kalangan

Perjalanan Teh, “Teman” Berbagai Kalangan

Kebun Teh Kayu Aro Kerinci, Jambi © Travelingyuk.com

Sudah sangat lama teh menjadi teman sehari-hari kita. Mulai dari teman sarapan dengan roti atau gorengan, teh disajikan dengan hangat. Menemani teriknya siang hari dengan sajian teh dingin atau biasa dikenal dengan es teh. Tidak lupa menemani malam hari yang dingin sambil mengobrol.

Menjadi jamuan untuk tamu dengan berbagai cemilannya. Bahkan di Indonesia ada tradisi meminum teh. Seperti tradisi Teh Poci di Jawa khususnya di Cirebon, Slawi, Tegal, Pemalang, dan sekitarnya. Nyaneut di Sunda, Patehan di Keraton Yogyakarta, dan Nyahi di Betawi.

Selain itu Indonesia juga menghasilkan teh-teh berkualitas. Terdapat lima jenis teh yang memiliki kualitas terbaik dari Indonesia. Teh-teh tersebut adalah teh hitam atau black tea, teh melati, teh kayu aro, teh oolong, dan teh putih atau white tea.

Diketahui bahwa teh mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1686. Masuknya teh tersebut berupa biji teh yang dibawa dari Cina. Andreas Cleyer-lah orang yang membawa biji teh tersebut.

Cleyer merupakan seorang botani, dokter, pengajar, dan saudagar di dalam VOC. Pria berkebangsaan Jerman tersebut menjadikan teh sebagai tanaman hias pada awalnya.

Kemudian pada tahun 1694, pendeta bernama F. Valentijn menemumkan adanya perdu teh muda yang terlihat tumbuh di Taman Istana Gubernur Champhuys di Jakarta.

Tanaman teh pun menghiasai Kebun Raya Bogor tepatnya pada tahun 1826 dilanjutkan pada tahun 1827 tanaman teh ditanam di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat.

Penanaman teh kemudian terus berlanjut ke wilayah Purwakarta dan Banyuwangi. Barulah masyarakat mulai mengenal teh.

Selain di Jawa, penyebaran tanaman teh juga menyebar ke luar jawa tepatnya di Pulau Sumatera. Pada tahun 1910 perkebunan teh di Simangulung, Sumatera Utara juga didirikan.

Masyarakat Indonesia diajak untuk mengajak menanam teh di tanah sewaan. Kemudian ketika panen, teh akan dibeli oleh Belanda.

Sejalan dengan hal tersebut perkebunan teh pun semakin banyak begitupun pabrik pengolahan teh. Pengolahan menghasilkan teh kering dan dikirim ke Eropa lebih tepatnya Amsterdam. Ekspor tersebut dilakukan pada tahun 1835. Sekitar 200 peti teh Indonesia dikirim ke Amsterdam. Nah, sejak saat itu teh dari Indonesia menjadi terkenal di luar negeri.

Kebun Teh Jawa Barat | Sumber: Pinterest

Jenis teh yang ditanam pun mulai beragam. Termasuk jenis teh Assamica dari Sri Lanka yang ditanam pertama kali oleh Rudlof Kerhoven di Kawasan Gambung, Bandung Selatan. Kemudian didirikanlah perkebunan Teh Malabar di Jawa Barat yang operasionalnya dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara VIII.

PTP Nusantara VIII | Sumber: Indeksberita.com

Kemudian jenis lainnya adalah jenis teh kayu aro yang menjadi salah satu teh dengan kualitas terbaik. Menjadi industri terluas di Indonesia. Selain teh kayu aro juga ada teh hitam. Tentunya sudah diakui dunia. Penanaman teh Indonesia menggunakan biji dan tidak menggunakan teknik stek daun teh. Teh hasil produksi Indonesia dikenal memiliki kandungan katekin atau anti-oksidan alami yang tertinggi

Beberapa daerah penghasil teh adalah Puncak Bogor, Jawa Barat dikelola oleh PTP Nusantara VII. Ciwidey, Jawa Barat memiliki beberapa perkebunan seperti Malabar, Rancabali, Gununghalu, dan Pangelangan. Di Wonosobo, Jawa Tengah dengan luas wilayah 892, 14 hektar.

Di Brebes, Jawa Tengah bernama perkebunan Teh Kaligua sebagai argowisata. Malang, Jawa Timur di lereng gunung Arjuna dikenal sebgai Kebun Teh Wonosobo. Di Simalungun, Sumatera Utara ada beberapa kebun yakni Toba Sari, Sidamanik, Di Kerinci, Jambi bisa menghasilkan 80 ton daun teh yang masih basah. Nah, di Kerinci inilah produksi teh kayu aro. Teh ini dirawat di atas tanah seluas 3000 hektar.

Proses pengolahan teh dari yang masih basah hingga menjadi teh dengan berbagai jenis sangat panjang prosesnya. Mulai dari pemetikan dengan teknik batang daun hanya boleh ditarik. Kemudian proses pelayuan dengan teknik menjemur.

Proses oksidasi, nah di proses inilah sesuai dengan berapa persen oksidasi maka menghasilkan jenis teh yang berbeda. Selanjutnya warna hijau pada teh dihilangkan dengan memanaskannya dengan suhu tertentu.

Teh telah menjadi minuman dari berbagai kalangan. Dalam keluarga bangsawan mereka memliki tradisinya tapi bagi warga biasa teh juga bebas dinikmati dengan berbagai aktivitas. Bahkan teh dikelola dengan berbagai campuran seperti dengan susu atau rempah-rempah. Kios-kios penjual teh modern juga sangat banyak seperti bubble tea, milk tea, dan lainnya.

Sumber: idntimes.com | repository.usu.ac.id | Proses Sejarah Teh | Jenis Teh | bobo.grid.id | bobo.grid.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Dari Uang Hingga Emas Senilai Rp 6 Miliar, Harta Karun De Javasche Bank Sebelummnya

Dari Uang Hingga Emas Senilai Rp 6 Miliar, Harta Karun De Javasche Bank

Eksotisnya Kepulauan Banda Tak Pernah Mengada-ada Selanjutnya

Eksotisnya Kepulauan Banda Tak Pernah Mengada-ada

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.