Tembang Macapat, Penuh Filosofi Kehidupan

Tembang Macapat, Penuh Filosofi Kehidupan

Gamelan © southbankcentre.co.uk

“Ngelmu iku,

Kalakone kanthi laku

Lekase kas nyantosani

Setya budaya pangekese dur angkara”

Pernah mendengar nyanyian dengan lirik di atas?

Saya pertama kali mendengarnya ketika guru Bahasa Jawa saya menyanyikannya. Lirik di atas hanya satu bait dari beberapa bait lainnya.

Setelah mendengar dari guru Bahasa Jawa, saya jadi sering mendengarnya kembali ketika mengikuti ekstrakurikuler karawitan di sekolah saya saat SMA. Penggalan lirik di atas merupakan penggalan dari tembang macapat jenis tembang pucung.

Kalian sebagaian mungkin telah mengenalnya karena masuk dalam materi pelajaran Bahasa Jawa saat SMP. Tapi untuk mengingat tidak ada salahnya ktia menggalinya kembali.

Tembang macapat masuk dalam golongan tembang cilik dalam bagian tembang Jawa. Terdapat sebelas jenis tembang macapat yakni maskumambang, mijil, sinom, kinanti, asmarandana, gambuh, dandanggula, durma, pangkur, megatruh, dan pucung.

Salah satu jenis Tembang Macapat, Tembang Kinanthi | Sumber: Budayajawa.id

Watak Tembang

Setiap jenis tersebut memiliki watak-watak yang berbeda. Tembang maskumambang menceritakan manusia dari awal mula manusia diciptakan. Masih dalam kandungan. Maskumambang dimaknai sebagai “emas terapung”. Memiliki karakter kesedihan, suasana hati sedang nelangsa.

Tembang Mijil melambangkan bentuk sebuah biji atau benih yang telah terlahir di dunia berasal ari kata wijil yang bermakna keluar. Awal mula perajalanan manusia yang masih memerlukan perlindungan. Menggambarkan keterbukaan menyajikan nasehat dan tentang asmara.

Tembang Sinom berarti pucuk yang baru tumbuh atau bersemi. Dari kata enom atau masih muda. Manusia telah beranjak dewasa. Tentang kesabaran dan keramahtamahan.

Tembang Kinanti berasal dari kanti menggandeng atau menuntun. Kehidupan seorang anak yang masih perlu dituntun.

Tembang Asamarandana tentang perjalanan hidup manusia sudah waktunya memadu cinta kasih bersama pasangan hidup. Namun gambaran dari temabng ini adalah cinta kasih, asmara, dan juga rasa pilu dan sedih karena rasa cinta.

Tembang Gambuh menceritakan menemukan pasangan hidup yang cocok, keramah tamahan dan persahabatan. Sikap bijaksana, nasihat hidup, persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan.

Tembang Dhandhanggula berasal dari kata dhang-dhang atau berharap. Berharap sesuatu yang manis atau indah. Mengenai kehidupan pasangan baru.memiliki gatra yang paling banyak.

Tembang Durma menggambarkan peristiwa duka, selisih dan juga kekurangan akan sesuatu berkarakter tegas, keras, dan amarah yang menggebu-gebu. Kondisi seseorang yang tidak memiliki etika disebut dengan munduring tata krama sehingga mereka sering marah dan semena-mena.

Tembang Pangkur berasal dari kata mungkur menggambarkan kehidupan yang harusnya dapat menghindari hawa nafsu dan angkara murka. Berkarakter gagah, kuat, perkasa, dan hati besar.

Tembang Megatruh berasal dari kata megat dan roh berarti terlepasnya roh perjalanan hidup manusia telah usai. Tentang kesedihan dan kedukaan.

Tembang Pucung menunjukkan kondisi manusia ketika sudah meninggal. Ada pula yang mengatakan bahwa pucung berasal dari kudhuping gegodhongan atau kuncup dedaunan yang masih segar. Menceritakan hal-hal lucu dan tebak-tebakan.

Dalam tembang macapat terdapat beberapa unsur di dalamnya. Dikenal dengan nama guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Guru gatra merupakan banyaknya jumlah larik atau baris dalam satu bait. Guru lagu merupakan persamaan bunyi sajak pada akhir lirik setiap barus atau biasa dikenal dengan rima. Bunyi lagu a, i, u, e, o disebut dengan dong dinge swara. Sedangkan guru wilangan merupakan jumlah suku kata atau wanda.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan | Sumber: Budayajawa.id

Sejarah Tembang Macapat

Masuk dalam karya sastra Jawa berbentuk puisi tradisional. Tidak hanya di Jawa saja di Bali dan Sunda juga ditemukan karya yang sama.

Prabu Dewawasesa atau Prabu Banjaran Saru Sigaluh dikatakans sebagai pencipta tembang macapat. Tepatnya pada tahun 1279 Masehi. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa tidak hanya ada satu orang yang menciptakan tetapi beberapa orang wali dan bangsawan.

Sunan Giri Kedaton, Sunan Giri Prapen, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Muryapada, Sunan Kali Jaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunang Geseng, Sunang Majagung, Sultan Pajang, Sultan Adi Eru Cakra, dan Adipati Nata Praja adalah tokoh-tokoh yang diduga juga sebagai pencipta tembang macapat.

Mengingat tembang macapat juga digunakan sebagai media dakwah ajaran Islam maka sangat masuk akal jika para sunan dan sultan andil dalam penciptaan tersebut.

Sedikit berputar ke materi ketika sekolah masih ingat bukan? Mengenai tembang macapat yang penuh filosofi kehidupan manusia. Oh ya apakah kalian sempat mendapatkan tebak-tebakan dari gurunya dengan menggunakan tembang pucung juga bukan?

Sumber: academia | Badan Bahasa

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih13%
Pilih SenangSenang13%
Pilih Tak PeduliTak Peduli13%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi13%
Pilih TerpukauTerpukau25%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Wajib Dicoba, Inilah Lokasi-Lokasi Panjat Tebing di Indonesia Sebelummnya

Wajib Dicoba, Inilah Lokasi-Lokasi Panjat Tebing di Indonesia

Jelang 55 Tahun Perkembangan Teknologi Material Indonesia Selanjutnya

Jelang 55 Tahun Perkembangan Teknologi Material Indonesia

Kendita Agustin M.A
@kenditaagustin

Kendita Agustin M.A

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.