Mengenal Islam Tua di Ujung Utara Indonesia

Mengenal Islam Tua di Ujung Utara Indonesia

Muslim di Mindanao © Town & Country Philippines

Di ujung utara negara Indonesia, tepatnya di Kota Tahuna, Sulawesi Utara, terdapat budayawan Sangihe yang berasal dari keturunan para raja dari Kerajaan Kendar (Kendahe) dan Kerajaan Tabukan. Menyimpan banyak peninggalan kuno seperti aneka karya sastra lama hingga kebudayaan turun-temurun.

Kerajaan Tabukan, merupakan kerajaan yang dulunya disebut dengan Kerajaan Saluhang muncul pada abad ke-13. Kerajaan ini didirikan serentak dengan Kerajaan Kendahe kala itu.

Terletak di selatan negara Filipina, terdapat pemukiman warga negara Islam tua yang diturunkan dari nenek moyangnya. Menurut penelitian Antropologi dari Universitas Sam Ratulangi, agama Islam merupakan agama tertua yang terdapat di Desa Lenganeng, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.

Kerajaan Tabukan | Foto: barta1.com

Saat memasuki Orde Baru, tepatnya tahun 1978 Kementerian Agama mengemukakan keputusan tentang “Islam Tua” yang diakui sebagai aliran kepercayaan yang kepemimpinannya berada ada di bawah binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat Orde Baru cenderung memaksakan penggolongan dari kelompok ini dengan menamakan agama itu dengan sebutan Himpunan Penghayat Kepercayaan Masade.

Namun, bagaimana Islam dapat masuk ke kepulauan paling utara di Indonesia ini? Berawal dari Kepulauan Sangihe yang saat ini masih bersumber dari sejarah lisan. Menurut penutur dari pemeluk agama Islam setempat, dulu Islam dikenalkan oleh seorang yang berasal dari semenanjung Arab yang bernama Maulana Moe’min.

Datang sekitar abad ke-15 Masehi, ia mulai menyebarkan ajaran agama Islam dan mendapatkan dukungan Kerajaan Lumauge yang berada di bukit belakang Moronge. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan Islam di Sangihe yang merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Tabukan.

Hal ini juga didukung oleh perdagangan dan kekerabatan yang terjadi di kerajaan-kerajaan sekitar kepulauan Sulu dan Mindanao, yang kini menjadi milik Filipina. Penduduk setempat juga menyebutkan raja Syam Alam yang menjadi pelopor penyebaran Islam kala itu. Orang sekitar menyebutnya dengan Samangsialang.

Saat kerajaan Samangsialang berkuasa, muncul sosok bernama Imam Masade atau mereka memanggilnya dengan Mawu Masade. Mawu sendiri merupakan panggilan dengan kehormatan tertinggi pada masyarakat lokal.

Konon, salah satu sahabat Mawu Masade bernama Pendeta Valentijn yang ditangkap oleh rakyat Ternate sebagai aksi balas dendam terhadap tindakan Portugis yang dianggap telah membunuh raja mereka, Sultan Hairun.

Masjid lama di Kabanahe | Foto: detikTravel

Bermula dari kejadian yang menimpa Masade di tanah Ternate yang mengatakan sembilan hari tanah Ternate akan dimurkai tuhan. Sesaat setelah kejadian tersebut Masade kembali ke Sangihe di mana ia dilahirkan dan kemudian pergi ke Tugis (Sarangani-Filipina) dan mengajarkan ajarannya (agama Islam) kepada murid-muridnya.

Para peneliti sejarah yang melihat proses tersebut dikaitkan dengan sejarah pengaruh Syiah yang masuk di kepulauan Asia Tenggara. Berawal dari wilayah Sumatra hingga penghujung Filipina. Namun, “Islam Tua” ini mempunyai beberapa tradisi unik yang hanya dimiliki keturunan Kejaraan Tabukan, apa saja?

Diko’u Soro

Tradisi ini merupakan acara yang hanya dilakukan tiga hari jelang Idulfitri yang disebut sebut sebagai Hari Raya Buka. Tradisi yang mirip dengan tradisi Grebeg Mulud yang berebut makanan.

Sembahyang

Tak sama dengan tata cara ibadah agama Islam kebanyakan, ajaran ini mengajarkan salat yang hanya seminggu sekali, yakni hari Jumat. Seorang imam berada di tengah-tengah jamaah yang melingkarinya dan berdoa bersama.

Pemilihan imam

Penunjukan seorang Imam yang diberikan kepada seorang yang dirasa mampu dalam pengetahuan agama Masade atau “Islam Tua”. Saat imam dipilih, ia akan dikarantina selama 5 tahun untuk menjalani pengkaderan, kemudian ia akan menjadi seorang imam di desa itu dan memimpin keagamaan di situ.


Referensi: indonesia.go.id

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Tanam Benih Padi Ada Tradisinya di Flores Sebelummnya

Tanam Benih Padi Ada Tradisinya di Flores

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu? Selanjutnya

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu?

kevin naufal
@kevin_naufal

kevin naufal

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.