Diskusi Konstruktif Diaspora Muda Indonesia di CID 2019

Diskusi Konstruktif Diaspora Muda Indonesia di CID 2019

Paserta Young Diaspora: Am I Making Myself Heard? © Panitia CID 5

Congress of Indonesian Diaspora (CID) kembali digelar. Tahun 2019 ini merupakan kelima kalinya agenda semacam ini digelar oleh Indonesian Diaspora Network (IDN) Global.

Kali ini IDN Global mengangkat tema Empowering Indonesia's Human Capital. Agenda CID 5 dimulai pada tanggal 10 Agustus 2019, sebagai event pembuka CID 5 menghadirkan pembicara-pembicara dari berbagai kalangan.

Agenda hari pertama ini dihadiri oleh diaspora dan masyarakat umum, bertujuan sebagai ajang pembuka gathering tahunan para diaspora Indonesia, pengenalan tentang kediasporaan kepada khalayak, serta memunculkan dialog interaktif terkait diaspora dari berbagai macam sudut pandang.

"We are connecting dots, melalui koneksi yang tercipta dari sinergi para diaspora di berbagai negara," ujar Dino Patti Djalal, saat berbicara di depan audiens yang memenuhi The Kasablanka Hall, Kota Kasablanka, Jakarta (10/8).

Agenda-agenda selanjutnya terbagi menjadi beberapa fokusan topik yang lebih spesifik. Baik untuk hari kedua: Diaspora Internal Meeting (12/8) bertempat di di Kantin Diplomasi, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, maupun hari ketiga: Diaspora Sectoral Dialogue (13/8) yang berlangsung di berbagai tempat dan kementerian terkait.

Selain agenda-agenda besar tersebut, ada satu sub-agenda yang menarik untuk diulas secara spesifik, yaitu forum diskusi paling akhir yang diperuntukkan khusus untuk para diaspora muda Indonesia.

Mengambil tajuk Am I Making Myself Heard? sub-agenda Young Diaspora yang menjadi penutup dari CID 5 kali ini menghadirkan berbagai pemuda Indonesia, baik yang pernah mengenyam kehidupan di negara lain dan sudah kembali ke Indonesia, maupun para pemuda yang masih menjalani kehidupan di negara lain, baik sebagai pelajar maupun pekerja profesional.

Sub-agenda ini diisi oleh salah satu pengurus inti IDN Global, yang juga merupakan koordinator IDN UK, Mrs. Ayleen.

Mrs. Ayleen saat memandu jalannya diskusi
Mrs. Ayleen saat memandu jalannya diskusi © Panitia CID 5

Mrs. Ayleen telah lebih dari 40 tahun tinggal di Inggris, menjadi contoh dari figur diaspora produktif. Memulai kehidupan sebagai mahasiswa di bidang Psikologi di University of Westminster, menjadi peneliti di bidang serupa, hingga menjadi tenaga pengajar.

Bahkan setelah masa pensiun, Mrs. Ayleen mengabdikan diri sebagai pengajar tamu untuk berbagai universitas ternama di Indonesia.

Sub-agenda Young Diaspora: Am I Making Myself Heard? yang dihadiri oleh sekitar 31 orang peserta dari 20 IDN negara berbeda ini diawali dengan sebuah proses pengenalan diri, melalui salah satu metode klasifikasi kepribadian, untuk mengelompokkan para peserta sesuai dengan klasifikasi kepribadian yang sama.

Lalu, berlanjut dengan agenda untuk saling memahami masing-masing kepribadian melalui percakapan acak yang dilakukan dalam waktu tertentu.

Setelah dirasa pengetahuan dan teknik untuk memahami kepribadian telah cukup dikuasai oleh peserta, mereka semua dituntun untuk melakukan sebuah diskusi bersama dengan metode brainstorming dan mind-mapping.

Apa yang menjadi topik diskusinya?

Diskusi yang berlangsung lebih dari 120 menit tersebut membahas tentang hambatan yang dialami dan kelebihan yang dimiliki oleh para diaspora ketika kembali ke Tanah Air untuk mengabdi, tentunya melalui sudut pandang diaspora muda.

Berbelitnya birokrasi di Indonesia, kurang memadainya teknologi dan infrastruktur, ekspektasi dan pola pikir masyarakat terhadap alumni kampus luar negeri, ketidaksesuaian ekivalensi nilai antara kampus luar negeri dengan Indonesia, kelayakan gaji, culture change, hingga keberadaan koneksi, menjadi hambatan-hambatan utama yang berhasil dirumuskan oleh para peserta.

Sebaliknya, untuk kelebihan yang bisa ditawarkan oleh para diaspora Indonesia ketika dia kembali di Indonesia di antaranya adalah kemahiran menggunakan media, terbiasa berpikir terbuka, lebih tangguh dalam menghadapi tantangan baru (terutama beradaptasi di lingkungan manapun), memiliki toleransi yang tinggi karena terbiasa hidup di lingkungan dengan beragam suku, agama, ras, golongan, kebangsaan, bahasa, dll.

Dan tentunya daya tawar yang tinggi terkait kemahiran berbahasa asing. Nah, menariknya ternyata dari hasil diskusi konstruktif yang mereka lakukan, ada satu anomali unik terkait "keberadaan koneksi". Karena pada dasarnya keberadaan koneksi bagi diaspora Indonesia ketika kembali ke Tanah Air bisa menjadi hambatan, pun kelebihan untuk berkarya.

"Saya S1 dan S2 di Belanda. Sama sekali tak memiliki koneksi kawan-kawan dari kampus di Indonesia. Sejujurnya itu yang sempat mempersulit pergerakan saya ketika merintis usaha saya. Alhasil, saya memanfaatkan rekan-rekan saya semasa SMA," ujar Rizky Lasabuda, founder dari TravelBuddy.id yang turut hadir dalam forum diskusi tersebut.

Lain halnya dengan pendapat dari peserta lainnya, bahwa keberadaan koneksi justru bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi para diaspora Indonesia. Terutama bagi orang-orang yang aktif mengikuti organisasi-organisasi semacam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) maupun Indonesian Diaspora Network (IDN).

Sebab pada akhirnya jaringan yang terbangun selama di luar negeri tersebut bisa jadi ladang yang potensial untuk mendapatkan jalur kerja sama untuk berkarya di dalam negeri usai kembali.

Suasana diskusi dan interaksi peserta
Suasana diskusi dan interaksi peserta Young Diaspora: Am I Making Myself Heard? © Panitia CID 5

Di sesi paling akhir, para diaspora muda ini sepakat bahwa demi bisa meminimalisir hambatan dan memaksimalkan kelebihan yang dimiliki oleh diaspora Indonesia, maka IDN Global dan DiasporaConnect.id harus bisa lebih bersinergi menghadirkan fitur-fitur yang lebih mampu memaksimalkan sharing informasi penting, utamanya berbasis fokusan kemampuan bidang yang digeluti oleh para diaspora Indonesia di berbagai negara.

Karena basis dari sharing informasi para diaspora mayoritas hanya bisa lewat media, apalagi jika mengingat masalah jarak dan perbedaan waktu.

Selanjutnya, harus diadakan face to face gathering lebih sering untuk diaspora-diaspora yang berada di regional yang sama, bukan hanya di satu negara. Contohnya bisa dilakukan pembagian gathering diaspora di Eropa, Amerika, Asia Pasifik, Timur Tengah, Afrika, dan Australia, membahas berbagai hal yang menjadi isu hangat Indonesia, serta untuk membuka jalur kerja sama.

Terakhir, harapannya para diaspora Indonesia di manapun berada bisa saling meng-amplify informasi penting satu sama lain. Misalnya, salah satu diaspora Indonesia membangun start-up, dan sedang butuh promosi, maka diaspora Indonesia lainnya bisa membantu membuka jalur kerja sama, entah dengan berkolaborasi langsung maupun melalui koneksi yang dimiliki.

Jadi, siapkah para diaspora muda Indonesia ini menjadi game changer di masa depan?

#KotakAjaib

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pertama di Indonesia, Bonus dari Suporter untuk Klub Sepak Bola Sebelummnya

Pertama di Indonesia, Bonus dari Suporter untuk Klub Sepak Bola

Kabar Baik! Indonesia Masuk Kategori Pembangunan Manusia Tingkat Tinggi Selanjutnya

Kabar Baik! Indonesia Masuk Kategori Pembangunan Manusia Tingkat Tinggi

Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
@herozh

Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha

https://hernandha.co.id/

Mahasiswa di National Chiao Tung University/國立交通大學, Taiwan. Mengambil bidang riset Materials Science and Engineering (keteknikan dan ilmu bahan), fokus pada topik riset Energy Storage dan teknologi baterai. Beberapa produk hasil corat-coretnya ada di https://hernandha.co.id/ (sebelumnya di http://tanpa-inspirasi.blogspot.com/).

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.