Edhi Sunarso, Sang Maestro Pematung Indonesia

Edhi Sunarso, Sang Maestro Pematung Indonesia

Alm. Edhi Sunarso © dwianto wibowo

Indonesia memiliki banyak tokoh-tokoh yang dijadikan sosok pahlawan, hal ini kemudian menjadi salah satu alasan mengapa banyak patung-patung pahlawan yang dibangun di Indonesia, pembangunan patung-patung ini bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan tersebut.

Tak hanya patung, museum-museum sejarah juga banyak didirikan, tujuannya sama yakni guna melestarikan nilai-nilai sejarah hingga dapat dikenang dan dipelajari para generasi berikutnya.

Jika dikupas lebih dalam pembangunan patung pahlawan dan museum-museum yang ada di Indoensia menimbulkan beberapa fakta menarik salah satunya yakni pembuat patung itu sendiri.

Alm. Edhi Sunarso l Sumber: dkj.or.id

Salah satu tokoh yang sangat berjasa pada pembuatan patung-patung pahlawan yang ada di Indonesia yakni Edhi Sunarso. Lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada tanggal 2 Juli 1932, ia merupakan lulusan dari Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STRI/ASRI) yang kemudian berkuliah di Visva Bharanti Rabindranath Tagore University, India. Dengan jenjang pendidikan seni rupa yang diambilnya sejak semasa sekolah, Edhi Sunarso mengabdikan dirinya sebagai pematung khususnya terhadap tokoh-tokoh pahlawan nasional.

Namun bukan hanya sebagai seniman, Edhi Sunarso juga pernah menjadi seorang tentara, salah satunya pada pasukan Samber Nyawa Divisi I, Batalyon III, Dan Resimen V Siliwangi. Tak selalu berjalan mulus, kisah hidup Edhi Sunarso juga memiliki lika-liku yang cukup berat. Ia pernah menjadi tawanan perang tentara Belanda.

Gemercik bakat seni Edhi mulai muncul kembali setelah ia bertemu dengan seseorang bernama Hendra Gurnawan yang juga merupakan seorang seniman pada tahun 1950. Pertemuan itu membuat Edhi menjadi semakin menyelami dunia seni khususnya seni pahat lebih mendalam. Tak hanya itu, sejak itu juga Edhi banyak bergabung dengan para seniman-seniman lain dan melepaskan statusnya sebagai tentara militer.

Nama Edhi Sunarso melejit ketika ia berhasil menduduki juara ke dua pada lomba sayembara patung sedunia yang diadakan di London pada tahun 1953. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan penghargaan medali emas sebagai karya seni patung terbaik, India pada tahun 1956 dan 1957.

Sumber: Panca Syurkani

Sejak itu, ia dipercaya untuk memegang kendali dalam seni pahat di Indonesia. Adapun beberapa karya Edhi Sunarso antara lain Monumen Tugu Muda (Semarang), Monumen Pembebasan Irian Barat (Jakarta), Monumen Jenderal Ahmad Yani (Bandung), Monumen Selamat Datang (Jakarta), Diorama Sejarah Museum Tugu Pahlawan 10 November (Surabaya), Diorama Sejarah Museum Benteng Vredeburgh (Yogyakarta), Monumen Yos Sudarso, Biak (Irian Barat), dan masih banyak lagi

Tak hanya seorang diri, pembuatan patung serta diorama tersebut tentu dibantu oleh beberapa seniman Indonesia lainnya. Berkat keahliannya dalam bidang seni khususnya patung, Edhi Sunarso menjadi salah satu maestro pematung Indonesia.

salah satu karya Edhi Sunarso l Sumber: nuryandi

Namun sayangnya ketenaran nama Edhi Sunarso hanya berjalan pada tahun 1960-an saja, nama Edhi Sunarso semakin tenggelam. Walau begitu, karya-karyanya yang selalu menarik, historis, dan nasionalis selalu abadi hingga saat ini dan dapat disaksikan hingga generasi selanjutnya.

Pada tanggal 4 Januari 2016, sosok Edhi Sunarso menghembuskan napas terakhir di Yogyakarta pada usia 83 tahun

Di balik patung-patung pahlawan yang berdiri kokoh terdapat sosok-sosok seniman yang memiliki peran penting disetiap pembuatannya.


Catatan kaki: tempo.co l merdeka.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Tunas Kelapa dan Makna dalam Pramuka Sebelummnya

Tunas Kelapa dan Makna dalam Pramuka

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya Selanjutnya

Peringati Hari Gunung Sedunia, Mapala UMN Terapkan Konsep Less Waste Pada Pendakian Perdananya

Atika Puji
@atikaapjpw

Atika Puji

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.