Uniknya Tari Perpisahan Khas Gowa, Sulawesi Selatan

Uniknya Tari Perpisahan Khas Gowa, Sulawesi Selatan
info gambar utama

Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki tarian khas daerahnya masing-masing, tarian-tarian tersebut sudah menjadi warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Memiliki ciri khas yang berbeda-beda yakni dari gerakan, pakaian, hingga musik membuat tarian tiap daerah patut untuk dipelajari.

Beberapa tari yang ada di Indonesia antara lain tari kecak, tari piring, tari saman, tari remong, tari pendet, tari serimpi, tari tor-tor, dan masih banyak lagi. Setiap tarian-tarian tersebut memiliki maknanya sendiri-sendiri. Terdapat tarian yang bermakna penyambutan selamat datang, bentuk syukur kepada tuhan, hingga tarian perpisahan. Adapun salah satu tarian yang bermakna perpisahan yaitu tari kipas pakarena.

Tari Kipas Pakarena l Sumber: triptrus.com
info gambar

Tarian ini berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan, tak hanya sekedar nama, “Pakarena” merupakan bahasa setempat yang memiliki arti “main”. Tari kipas pakarena termasuk dalam salah satu ekspresi kesenian oleh masyarakat Gowa itu sendiri

Konon katanya, tarian ini tercipta berawal dari kisah perpisahan antara penghuni boting langi (Negeri khayangan) dengan penghuni lino (bumi) dimana sebelum berpisah, penghuni boting lingo mengajarkan cara menjalani hidup, seperti bercocok tanam beternak, berkebun, dan berburu. Kemudian, melalui gerakan-gerakan tangan dan kaki dari kegiatan sehari-hari tersebut digunakan penghuni lino sebagai ritual mengungkapkan rasa syukur.

Dalam tari kipas pakarena terdapat beberapa gerakan yang mencerminkan karakter khas perempuan Gowa yang sopan, setia, dan patuh terhadap laki-laki khususnya kepada suami.

Sumber : Indonesiakaya.com
info gambar

Terbagi menjadi 12 bagian, tarian ini memiliki pola yang berbeda-beda sperti gerakan duduk yang menjadi penanda dimulainya dan diakhirinya tarian ini, gerakan naik turun dan berputar yang mencerminkan siklus kehidupan.

Untuk melakukan gerakan tari ini, biasanya diiringi dengan alat musik gondrong rinci yang terdiri dari gendang dan seruling. Ada beberapa cara yang digunakan untuk menabuh gendang yakni dengan menggunakan stik atau bambawa yang terbuat dari tanduk kerbau dan menabuh menggunakan tangan. Musik tersebut dimainkan dengan tempo yang cukup cepat walaupun gerakan dari tarian tersebut relatif lambat.

Terdapat fakta unik dari tari tradisional Gowa yakni para penari tidak diperbolehkan membuka matanya terlalu lebar, gerakan kakinya pun juga tidak boleh diangkat terlalu tinggi.

Sumber: Romadecade
info gambar

Kostum yang digunakna dalam tari kipas pakarena merupakan busana adat khas Gowa yang terdiri dari baju longgar, kain selempang, dan kain sarung khas Sulawesi Selatan. Sedangkan pada bagian kepala, rambut para penari dikonde dan dihiasi dengan tusuk konde yang berwarna emas ataupun berbentuk bunga-bunga. Aksesoris tak hanya tusuk konde saja, melainkan juga terdapat beberapa aksesoris lainnya seperti gelang, kalung, anting khas, dan juga kipas lipat yang digunakan untuk menari.

Hingga saat ini tari khas dari Gowa, Sulawesi Selatan ini masih terus dilestarikan. Tari ini biasa ditampilkan pada acara-acara budaya seperti pertunjukan tari, festival budaya, dan acara pengenalan budaya lainnya. Guna menarik setiap penontonnya, tari ini mengalami perkembangan dari segi kreasi dan variasi. Hal tersebut tentu menjadi salah satu cara agar tarian ini tetap diminati masyarakat namun juga tidak mengubah ciri khas dan makna yang ada di dalam tarian tersebut.


Catatan kaki: indonesiakaya.com l negerikuindonesia.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
YF
GI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini