Menyingkap Asal Mula Rendang, Kuliner Khas Minangkabau yang Mendunia

Menyingkap Asal Mula Rendang, Kuliner Khas Minangkabau yang Mendunia

Rendang Kuliner Khas Minangkabau | foto : Fimela.com

Indonesia terkenal akan budaya serta kulinernya yang beragam. Saat ini banyak sekali makanan-makanan tradisional Indonesia yang sudah mendunia. Salah satunya adalah rendang.

Rendang merupakan makanan tradisional dari Minangkabau, Sumatera Barat. Hampir semua orang di Indonesia mengetahui apa itu rendang, mengingat banyaknya rumah makanan Padang yang tersebar di seluruh Nusantara.

Tidak hanya di Indonesia, saat ini kelezatan rendang sudah diketahui sampai ke mancanegara.

Dilansir dari detikfood, CNN Travel telah merilis kembali 50 makanan terlezat di dunia, Salah satunya adalah rendang, kuliner khas Minangkabau dari Indonesia yang tetap masuk di urutan pertama.

Rendang Kuliner Indonesia yang Mendunia | Foto : Detikfood

Rendang atau dalam bahasa Minang disebut dengan randang. Berasal dari kata “merandang” yang berarti memasak santan hingga kering dengan perlahan.

Rendang merupakan masakan yang menggunakan bahan dasar daging dicampur dengan berbagai macam bumbu dan rempah-rempah yang memiliki cita rasa pedas dan gurih.

Rendang ini dihasilkan dari proses memasak yang dipanaskan secara berulang-ulang menggunakan santan kelapa, sehingga proses memasaknya pun membutuhkan waktu berjam-jam, biasanya memakan waktu sekitar empat jam. Jika disimpan dalam suhu ruangan yang pas, rendang bisa bertahan hingga berminggu-minggu lamanya.

Sebetulnya dari mana sih asal usul masakan rendang ini?

Bagi masyarakat Minang, rendang sudah ada sejak zaman dahulu dan telah menjadi masakan tradisi yang selalu dihidangkan dalam berbagai acara adat maupun dijadikan sebagai makanan sehari-hari. Rendang diduga telah hadir sejak orang Minang pertama kali mengadakan acara adat, maka dari itu makanan ini dijadikan sebagai makanan tradisi adat Minang.

Kemudian, cara memasak rendang ini berkembang ke kawasan serantau budaya Melayu lainnya seperti, Riau, Jambi, hingga ke negeri seberang yakni Negeri Sembilan dimana banyak dihuni perantau asal Minangkabau. Maka dari itulah rendang dapat dikenal luas baik di Sumatera maupun ke Semenanjung Malaya.

Sejarawan Universitas Andalas Prof. Gusti Asnan menduga bahwa rendang telah menjadi masakan yang tersebar luas sejak masyarakat Minang mulai merantau ke Malaka untuk berdagang pada awal abad ke-16.

Karena perjalanannya yang melewati sungai dan membutuhkan waktu yang lama, saat itu rendang menjadi pilihan yang tepat untuk dijadikan sebagai bekal. Hal ini dikarenakan rendang kering sangat awet dan tahan lama sehingga dapat disimpan hingga berbulan-bulan lamanya.

Meski merupakan makanan khas Indonesia, ternyata keberadaan rendang tidak lepas dari kedatangan orang Arab dan India di Kawasan pantai barat daerah Sumatera pada abad ke-14. Rempah serta bumbu-bumbu sudah diperkenalkan oleh orang-orang tersebut. Masakan kari yang menjadi makanan khas orang India pada abad ke-15 diduga menjadi dasar bahan untuk membuat rendang itu sendiri.

Bukan sesuatu hal yang mustahil hal ini terjadi, mengingat pada masa itu adanya kontrak perdagangan antara Indonesia dengan Arab dan India. Menurut ahli waris Tahta Istana Pagaruyung berkemungkinan bahwa rendang merupakan tingkatan proses dari masakan kari. Perbedaannya adalah rendang bersifat kering sehingga lebih awet dibandingkan dengan kari.

Foto : Travistory

Rendang semakin terkenal dan tersebar luas sangat jauh melampaui wilayah aslinya berkat budaya merantau suku Minangkabau. Masyarakat Minang yang biasanya pergi merantau, selain untuk bekerja sebagai seorang pegawai atau berniaga, banyak di antara mereka beriwarusaha dengan cara membuka rumah makan Padang di seluruh Nusantara, bahkan saat ini meluas sampai negara tetangga hingga Eropa dan Amerika. Maka dari itu rumah makan inilah yang memperkenalkan rendang serta hidangan Minangkabau lainnya secara lebih meluas.

Selain sejarahnya yang menarik, rendang juga memiliki filosopi yang cukup mendalam. Makanan khas Padang ini sebagai masakan tradisional yang memiliki posisi yang terhormat bagi kehidupan bermasyarakat di Minangkabau. Hal ini dikarenakan bahan-bahan yang digunakan mempunyai makna tersendiri.

Bahan utama yang digunakan yaitu daging sapi, dimana daging ini melambangkan sebagai niniak, mamak, dan bundo kanduang, sebagai pemberi kemakmuran pada anak dan kemenakan. Bahan yang ke dua adalah karambia atau kelapa, yang melambangkan kaum intelektual atau dalam bahasa Minang disebut dengan Cadiak Pandai, dimana mereka akan mempererat kebersamaan secara kelompok maupun individu. Yang ketiga adalah lado atau sambal melambangkan sebagai alim ulama yang tegas dan pedas dalam mengajarkan agama. Kemudian bahan terakhir yaitu pemasak atau bumbu, melambangkan setiap peran dari masing-masing individu agar dapat hidup secara berkelompok, hal ini menjadi unsur terpenting dalam kehidupan masyarakat Minang.


Catatan kaki: Kompasiana | RendangIndonesia

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Good News From Indonesia

Rumah Adat Kalimantan Timur, Gambaran Khas Budaya Suku Dayak Sebelummnya

Rumah Adat Kalimantan Timur, Gambaran Khas Budaya Suku Dayak

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu Selanjutnya

Di Balik Paras Cantik Penari Gandrung Sewu

Asriyati .
@asriyati

Asriyati .

Hii Saya mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang lagi magang di Good News From Indonesia, bimbing aku yaa.. hehe

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.