Menelisik Kampung Warteg di Tegal

Menelisik Kampung Warteg di Tegal

Fasilitas Publik desa Sidakaton © Liputan6.com

Tegal menjadi lebih terkenal setelah kehadiran warteg. Diketahui bahwa warteg sudah ada sekitar tahun 1960-an. Saat itu Ibu Kota Jakarta, sedang dalam tahap pembangunan sehingga banyak warga dari desa yang pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib, tidak terkecuali warga Tegal.

Kebanyakan warga laki-laki bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta, sementara perempuan memasak dan menjual nasi bungkus untuk para kuli tersebut. Dengan harga terjangkau namun bisa membuat perut kenyang, maka semakin banyaklah perempuan asal Tegal yang menjual nasi bungkus tersebut hingga akhirnya mendirikan warung-warung yang kini dikenal dengan warung Tegal (warteg).

Kini, warteg dapat dengan mudah kita jumpai di kota-kota besar seperti di JABODETABEK (Jakakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Di balik jumlah warteg di kota-kota besar yang kian meningkat, ada sebuah daerah dimana banyak warganya yang berprofesi sebagai pengusaha warteg bahkan disebut sebagai kampung warteg. Daerah tersebut adalah desa Sidakaton dan desa Sidapurna Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal. Kedua desa tersebut merupakan kampung halaman para juragan warteg di Jakarta.

Ragam lauk pauk di warteg dengan harga terngkau | Sumber: wikipedia

Uniknya, sebagian dari rumah-rumah di desa Sidakaton dan Sidapurna adalah rumah bertingkat 2 dengan halaman serta pagar yang mengelilingi rumah. Kesan mewah sangat melekat pada rumah-rumah tersebut. Namun, rumah-rumah tersebut terlihat sepi.

Berdasarkan penuturan warga sekitar, rumah-rumah itu adalah milik pengusaha warteg yang saat ini masih merantau di kota.

Rumah pemiliki warteg sebenarnya tidak kosong, tetapi ditunggui oleh salah satu anggota keluarga mereka atau orang yang mereka percaya. Para pemilik warteg pulang hanya ketika hari raya idul fitri, juga bisa sekitar sebulan sekali atau jika ada keperluan mendesak. Oleh sebab itu, rumah terkesan sepi pada hari-hari biasa.

Selain dapat terlihat dari barisan rumah-rumah mewah di sepanjang jalan, fasilitas umum di desa Sidakaton pun tergolong baik. Contohnya gapura dan jalan beraspal. Para pemilik warteg turut berpartisipasi membangun desa yang menjadi kampung halaman mereka. Hal ini merupakan salah satu alasan agar mereka tidak lupa untuk pulang.

Salah satu rumah mewah milih pengusaha warteg yang ditinggal merantau | Sumber: Tempo.co

Selain dua desa di atas, sebagian wilayah Kota Tegal, yakni Kecamatan Tegal Selatan juga terdapat banyak pengusaha warteg yang merantau di kota-kota besar. Keadaan rumah di daerah tersebut pun tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah di desa Sidakaton maupun Sidapurna. Meskipun tidak semua pengusaha warteg memiliki nasib baik mampu dan sukses membangun rumah megah di kampungnya, namun dapat dikatakan pengusaha warteg dapat memenuhi kebutuhan hidup melalui warteg.

Oleh sebab itu, desa Sidakaton dan Sidapurna dinamai dengan Kampung Warteg karena sebagian besar warganya adalah pengusaha warteg yang merantau ke kota.


Catatan kaki: Tempo.co | Liputan6.com | Radartegal.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Good News From Indonesia

Pohon Terkuat di Indonesia yang Kaya Manfaat Sebelummnya

Pohon Terkuat di Indonesia yang Kaya Manfaat

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

1 Komentar

  • Erdjon

    Benar, warteg itu makanannya enak dan pasti tersedia disetiap sudut kota-kota besar. Yang paling utama harga porsinya murah!

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.