Selasa Berkebaya, Upaya Pengingat Budaya Kepada Wanita Indonesia

Selasa Berkebaya, Upaya Pengingat Budaya Kepada Wanita Indonesia
info gambar utama

Saat ini pemakaian kebaya pada hari-hari biasa terbilang sudah mulai jarang. Walaupun dalam acara-acara tertentu busana perempuan Indonesia ini masih dipakai, namun pamornya mulai tergerus dengan gaya busana modern.

Melihat budaya berkebaya yang semakin ditinggalkan khususnya oleh anak muda, perempuan-perempuan yang memiliki keresahan yang sama membentuk sebuah komunitas bernama Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB).

Komunitas yang lahir pada 4 Desember 2014 ini awalnya dibentuk oleh Kristin Samah, Rahmi Hidayati, Tuti Marlina, Ezki Suyanto, Myrna Ratna, Lea Tandjung, Maria Karsia, Christine Tjandraningsih, Hadriani Pujiharti, Lia Natalia,
Fairuz Husaini dan Tingka Adiati.

Pada pertengahan tahun 2019 komunitas ini mulai mengajak orang-orang untuk ikut rutin berkebaya seperti mereka, sebuah gerakan yaitu Selasa berkebaya digaungkan kepada masyarakat.

Salah satu bentuk aksi nyata dari gerakan tersebut telah mereka lakukan dengan beramai-ramai mengenakan kebaya di Area Monumen Nasional pada 2 Juli 2019.

Dengan memakai busana kebaya berwarna-warna cantik, mereka mencoba mempopulerkan kembali pemakaian kebaya dalam keseharian pada masyarakat luas. Mengapa harus berkebaya?

Dalam berkebaya sebenarnya KPB memiliki empat tujuan dasar yang mendorong mereka. Pertama untuk memperkenalkan kembali sejarah dan budaya Indonesia, di mana kebaya sempat menjadi busana harian yang rutin bahkan sangat umum dipakai perempuan Indonesia pada zaman dahulu.

Kedua sebagai pemersatu perempuan Indonesia, dengan memakai kebaya sebagai identitasnya diharapkan akan muncul rasa memiliki satu sama lain pada perempuan Indonesia.

Ketiga adalah kreativitas, sebagai produk budaya kebaya merupakan salah satu bentuk kreativitas anak bangsa yang otentik dan memiliki nilai seni yang tidak hanya indah namun juga filosofis karena memiliki pakem-pakem budaya di dalamnya.

Hal terakhir yang menjadi dasar KPB adalah ekonomi, dengan adanya kesadaran untuk memakai kebaya masyarakat dapat membantu ekonomi kerakyatan yang ada di Indonesia. Dengan adanya permintaan akan produk dan
aksesorinya kita dapat mendukung perekonomian dari para pengrajinya.

Kemauan untuk berkebaya

Dalam wawancaramya dengan kompas.com Rahmi Hidayati selaku pendiri KPB menyatakan bahwa memakai kebaya bukanlah suatu hal yang sulit, menurutnya kebaya menuntut kita agar dapat bersifat anggun.

Dengan memakai kebaya perempuan dituntut untuk berjalan secara perlahan namun tetap memiliki ketangguhan. Diakuinya memakai kebaya pada keseharian bukanlah suatu hal yang mustahil, bahkan ia sering memakai kebaya ketika melakukan aktivitas naik gunung.

kebaya encim yang penuh warna | foto : review.bukalapak.com
info gambar

Sebenarnya ada jenis-jenis kebaya yang nyaman untuk dipakai sehari-hari dan sederhana dalam pemakaiannya. Dua di antara kebaya tersebut adalah kebaya encim dan kebaya kutubaru.

Dengan melakukan modifikasi pada kebaya, bukan hal yang mustahil busana tersebut dapat kembali dijadikan busana harian masyarakat Indonesia.

Rasa hormat dan bangga akan budaya sendiri memang harus selalu dipupuk agar lestarinya budaya seperti kebaya dapat terjadi. Dukungan terhadap Komunitas Perempuan Berkebaya

Hingga saat ini komunitas ini sudah memiliki kurang lebih dua ratus anggota aktif di dalamnya. Tak hanya Selasa berkebaya, komunitas ini juga sudah beberapa kali melakukan kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian kebaya.

Upaya mereka dalam melestarikan budaya Indonesia ini pun telah diapresiasi banyak pihak salah satunya dengan adanya acara diskusi bertajuk “Indonesia berkebaya” pada 16 Juli yang turut dihadiri dan didukung oleh organisasi-organisasi perempuan ibu kota, mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) juga pihak dari pemeritah seperti Direktorat Jendral Kebudayaan dan
Kemendikbud.

Rahmi Hidayati Pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya bersama Direktur Jenderal Kebudayaan Dr. Hilmar Farid, Desainer Busana Indonesia, Musa Widyatmodjo, Dosen FPTK UPI Dr. Suciati, dan Dosen FIB UI Woro Mastuti dalam diskusi bertajuk
info gambar

Walaupun banyak dukungan terhadap KPB mereka memiliki harapan lebih besar lagi. Komunitas ini berharap pemerintah dapat mendukung lestarinya kebaya dengan diadakannya hari nasional berkebaya seperti yang sebelumnya dilakukan dengan batik.

Lebih jauh lagi mereka berharap kebaya dapat terdaftar sebagai warisan budaya tak benda di UNESCO.


Referensi: kompas.com |tirto.id | cnnindonesia.com | genpi.co

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini