Nasi Jangkrik Makanan Khas Kota Kretek

Nasi Jangkrik Makanan Khas Kota Kretek
info gambar utama

Dalam bayangan GNFI, jangkrik adalah serangga yang lebih sering muncul di malam hari dan bersuara unik, ‘krik...krik’. Lalu, bagaimana jika ternyata ada Nasi Jangkrik? Apakah jangkrik dijadikan sebagai lauk bersama nasi?

Jawabannya adalah tidak. Meskipun bernama Nasi Jangkrik, namun nasi ini tidak disandingkan dengan serangga jangkrik, melainkan daging kerbau. Lho, kok bisa?

Jadi, awal mulanya, Nasi Jangkrik ini adalah makanan kesukaan Sunan Kudus, salah satu walisongo yang menyiarkan agama Islam di daerah kabupaten Kudus. Kata “jangkrik” disematkan pada makanan ini berawal saat Kyai Telingsing bersama Sunan Kudus dan wali lainnya sedang berkumpul di bangunan menara Kudus. Saat itu, istri Sunan Kudus menyuguhkan suatu menu santapan. Tiba-tiba ada yang menyeletuk “jangkrik! masakan opo iki, kok enake pol” yang artinya “jangkrik! masakan apa ini, kok enak sekali”. Nah, perlu kawan GNFI ketahui, bahwa kata jangkrik bagi masyarakat Jawa Timur merupakan salah satu bentuk kata umpatan untuk merespon suatu hal, bisa karena kaget, marah ataupun takjub. Oleh karena celetukkan kata “jangkrik” tersebut, maka nasi tersebut diberi nama Nasi Jangkrik.

Lalu, apa saja isi dari Nasi Jangkrik tersebut, sehingga digadang-gadang menjadi makanan yang sangat enak?

Nasi Jangkrik makanan khas Kabupaten Kudus | Sumber cookpad.com
info gambar

Satu porsi Nasi Jangkrik berisi nasi putih, daging kerbau, pengolahan daging kerbau ini dapat dipotong dadu maupun disuwir-suwir, tahu serta sedikit kuah santan yang diguyur di atasnya. Semua itu dibungkus menggunakan daun jati, sebagai penambah cita rasa makanan. Daging kerbau dimasak dengan cara direbus hingga empuk lalu dibumbui dengan rempah-rempah yang sudah disediakan yakni kencur, bawang merah, bawang putih, kemiri, lengkuas dan cabai. Setelah diberi bumbu, daging kerbau diberi santan dan direbus lagi hingga semuanya meresap. Nasi Jangkrik disajikan di atas daun jati dan diberi taburan bawang goreng, kol dan tahu.

Sebagai tambahan yang perlu kawan GNFI ketahui, disebut Nasi Jangkrik juga karena bawang goreng yang ditaburkan di atasnya. Bawang goreng tersebut dianggap mirip bulu jangkrik, sehingga masyarakat sekitar menyebutnya Nasi Jangkrik. Oleh karena Nasi Jangkrik adalah makanan favorit Sunan Kudus, maka Nasi Jangkrik inilah yang menjadi makanan khas Kabupaten Kudus.

Buka Luwur adalah salah satu tradisi menyambut bulan Muharram bagi masyarakat Kudus | Sumber bp.blogspot
info gambar

Nasi Jangkrik juga menjadi tradisi bagi pemeluk agama Islam di Kabupaten Kudus. Semasa hidupnya, Sunan Kudus membagikan Nasi Jangkrik kepada masyarakat sekitar setiap tanggal 10 Muharram dengan niat berbagi untuk sesama. Akhirnya, kebiasaan Sunan Kudus dilanjutkan turun temurun oleh masyarakat sekitar hingga saat ini. Sebelum dibagikan, Nasi Jangkrik didoakan oleh juru kunci makam Sunan Kudus. Hal ini biasanya dilakukan di pagi hari setelah subuh. Tradisi ini disebut Buka Luwur.

Bagi kawan GNFI yang sedang berada di Kudus ataupun sekedar mampir ke Kudus, jangan lupa untuk mencicipi makanan khas Kota Kretek ini ya. Belum lengkap rasanya jika ke Kudus tanpa makan Nasi Jangkrik.

Catatan kaki: Kompas.tv | Detik.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini