Mengenang Habibie di Monumen Cinta Sejati "Habibie-Ainun"

Mengenang Habibie di Monumen Cinta Sejati "Habibie-Ainun"

Ilustrasi © Harian Aceh

Bangsa Indonesia kehilangan seorang tokoh panutan. Sosok lengkap yang punya semuanya. Bapak Baharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia, bapak teknologi Indonesia, yang wafat kemarin di Jakarta. Banyak warisannya, tak hanya untuk Indonesia, namun juga untuk umat manusia.

Selain kontribusinya sebagai salah satu penemu teknologi-teknologi dirgantara kelas dunia, kisah cintanya dengan mendiang sang istri, ibu Ainun Habibie yang dikisahkan lewat layar lebar beberapa tahun yang lalu, mampu membuat kita tersentuh dan seolah ikut merasakan kedalaman cinta mereka.

Ternyata kisah cinta sejati bapak BJ Habibie dan Ainun bukan hanya diabadikan di layar lebar, tetapi juga diabadikan lewat sebuah monumen yang ada di Parepare, Sulawesi Selatan. Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih dikenal sebagai BJ Habibie merupakan anak bangsa kelahiran Parepare 25 Juni 1936.

Monumen Cinta Sejati. Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun | Wikipedia
Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun | Wikipedia

Monumen yang terbuat dari perunggu ini sengaja dibuat di daerah Parepare karena kota tersebut merupakan kota kelahiran bapak BJ Habibie. Parepare berada sekitar 153 kilometer dari Kota Makassar. Kota ini terletak di sebuah teluk yang menghadap ke Selat Makassar. Pada bagian utaranya berbatasan dengan Kabupaten Pinrang, sedangkan sebelah timurnya berbatasan dengan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), dan di bagian selatannya berbatasan dengan Kabupaten Barru.

Meskipun terletak di tepi laut, tetapi sebagian besar wilayahnya berbukit.

Kisah cinta mereka abadi di Pare-pare | awalone.com
Kisah cinta mereka abadi di Parepare | awalone.com

Monumen ini selalu ramai dan tidak pernah sepi pengunjung. Pengunjung selalu datang dan pergi ke monumen cinta sejati BJ Habibie dan Ainun. Dilansir dari tribunnews.com, monumen ini diresmikan pada bulan Mei 2015 yang lalu. Waktu itu, bapak Habibie pulang kampung ke Parepare dan meresmikan langsung monumen yang dinamakan Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun.

Habibie - (alm) Ainun semasa muda
Habibie - (alm) Ainun semasa muda

Pada monumen ini berdiri patung Habibie yang memakai jas dan kacamata. Sedangkan sang istri memakai kerudung dan menggengam setangkai bunga. Monumen ini berada di sebelah barat Lapangan Andi Makkasau, Jl Andi Isah, Kelurahan Malluse Tasi, Kecamatan Ujung Kota Parepare.

Selamat jalan, Bapak Bangsa.

Pilih BanggaBangga59%
Pilih SedihSedih7%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi17%
Pilih TerpukauTerpukau10%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Berusia 13,33 Abad, Kota Ini Masuk Kota Tertua di Dunia Sebelummnya

Berusia 13,33 Abad, Kota Ini Masuk Kota Tertua di Dunia

Pesan Perdamaian Melalui Rumah Sakit Indonesia di Myanmar Selanjutnya

Pesan Perdamaian Melalui Rumah Sakit Indonesia di Myanmar

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.