Cagar Budaya Tionghoa dalam Gereja Santa Maria de Fatima

Cagar Budaya Tionghoa dalam Gereja Santa Maria de Fatima
info gambar utama

Kelompok masyarakat dengan darah keturunan Tionghoa merupakan salah satu masyarakat yang hidup di Indonesia. Nuansa kehidupan yang kental dengan budaya Tionghoa sendiri masih banyak ditemukan di nusantara. Salah satu kawasan pecinan yang terkenal berada di Jakarta, tepatnya di Glodok, Jakarta Barat.

Salah satu peninggalan budaya Tionghoa yang berada pada kawasan Glodok terletak di Jalan Kemenangan 3 no. 47, Tamansari, Kota Tua. Walaupun Kebudayaan Tionghoa sering kali identik dengan Buddhisme, Taoisme atau Konfusianisme, namun lokasi tersebut merupakan tempat sebuah gereja katolik bernama Santa Maria de Fatima berdiri.

Sejak 1972 bangunan tersebut telah terdaftar sebagai cagar budaya dalam SK Gubernur. Tak hanya itu di depan gereja juga tertulis bahwa bangunan tersebut dilindungi oleh undang-undang monumen STBL 1931 no. 238.

Arsitektur yang kental dengan nuansa oriental

Sekilas gereja yang disebut masyarakat sekitar sebagai Geraja Toasebio ini memang tidak terlihat seperti rumah ibadah bagi umat katolik. Warna bangunannya didominasi oleh warna merah juga emas dan bentuknya pun tidak memiliki atap-atap tinggi seperti gereja katolik yang ditinggalkan orang Belanda.

Nama Santa Maria de Fatima yang diberikan pada gereja tersebut diambil dari cerita penampakan Bunda Maria kepada tiga anak gembala yang juga diperlihatkan pada relief Goa Maria di sisi kanan gereja.

Hingga saat ini gereja tersebut masih mempertahankan gaya arsitektur khas Fukien atau Tiongkok Selatan. Bentuk bangunannya diantara lain terdiri atas atap gereja yang memiliki bentuk melengkung dan lancip dengan jenis ian boe heng atau ekor walet dan keberadaan shishi atau patung singa di depan bangunannya yang melambangkan kemegahan. Warna-warnanya juga dipenuhi dengan nuansa cerah seperti merah, emas, hijau dan biru.

Pada beberapa sisi gereja dapat ditemukan beberapa aksara Tionghoa. Dua di antaranya bertuliskan Nan, An, Keresidenan Quanzhou, Provinsi Fujian yang merupakan daerah asal pemilik pertama bangunan tersebut dan fu shou kang ning yang berarti rezeki, umur panjang, kesehatan dan ketentraman yang keduanya berada di atap bangunan.

Bagian dalam gereja yang juga bernuansa oriental |foto: bluepacker.id
info gambar

Pada bagian dalam bangunan adaptasi budaya Tionghoa dan Katolik juga terasa, di antaranya lewat bahan baku kayu, ukiran dan ornamen-ornamen khas Tionghoa lainnya.

Salah satu hal unik juga terlihat pada area doa. Posisi patung Yesus dan Maria pada gereja tersebut ditempatkan didepan dinding dengan ilustrasi alam bernuansna tionghoa sebagai wujud surga.

Tak hanya pada arsitekturnya yang permanen, gereja tersebut juga kerap memeriahkan hari besar etnis Tionghoa. Pada perayaan seperti Imlek dekorasi pada bangunannya akan ikut dihiasi dengan atribut hari besar tersebut.

Berawal dari rumah seorang Tionghoa

Sebelumnya bangunan yang didirikan pada awal abad ke-19 tersebut merupakan rumah seorang kapitan atau lurah keturunan Tionghoa bermarga Tjioe pada zaman penjajahan belanda.

Pada 1953 rumah dengan luas satu hektare tersebut dibeli dan digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah. Bangunan tersebut merupakan wadah pelayanan dan pewartaan Pater Antonius Loew SJ dan Pater Leitenbauer kepada orang-orang Hokiauw atau Cina perantau.

Ibadah yang dilakukan di Gereja Santa Maria de Fatima | Foto: medcom.id
info gambar

Walaupun pada ibadah pertamanya gereja tersebut hanya dipimpin oleh empat orang imam yang diikuti oleh 16 orang umat, jumlah umat kian hari kian meningkat.

Saat ini gereja tersebut masih aktif menjadi tempat peribadatan dan menjadi salah satu gereja katolik yang menyediakan peribadahan dalam dua bahasa yaitu Indonesia dan Mandarin.

Sumber: liputan6.com | suara.com | detik.com | situsbudaya.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini