Golden Dragon, Tim Barongsai Asal Aceh yang Berhasil Harumkan Nama Indonesia

Golden Dragon, Tim Barongsai Asal Aceh yang Berhasil Harumkan Nama Indonesia

ilustrasi kegiatan barongsai | foto: uzone.id

Provinsi Aceh sering kali identik sebagai lokasi dengan mayoritas masyarakat beragama Islam yang ketat dalam melakukan hukum syariatnya. Walau begitu ternyata provinsi yang terletak di ujung barat Indonesia ini juga terbuka degan budaya dari luarnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan terbentuknya Golden Dragon, sebuah klub barongsai Aceh yang berada di bawah binaan HAKKA.

Pada 19-22 September 2019 tim ini telah mewakili Indonesia dalam “Gong Yi Cooper Camel Cup HAKKA Dragon and Lion Dance International Invitational Tournament”. Selain Indonesia, turnamen tersebut juga dimeriahkan oleh beberapa negara lain seperti Malaysia, Meksiko, Panama juga negara lainnya.

Dalam turnamen tersebut ada sembilan atlet dan empat ofisial yang diberangkatkan ke Henan, Zheng Zhou, Cina. Beberapa nama dari atlet yang berangkat di antaranya adalah Jhonsen Leonardi, Ratih Puspasari, Natasya, Silvi Natalia, Wiliam, Jeriko Abadi Putra, Martin, Kaspar Wiputra yang didampingi pelatih mereka, Harianto atau bisa dipanggil Achong.

Dalam turnamen tersebut, tim Golden Dragon yang dipilih Perkumpulan HAKKA Indonesia (PHIS), mengikuti salah satu kategori paling bergengsi yaitu pertandingan toulo bebas atau tonggak. Mereka pun berhasil meraih prestasi sebagai “The Most Performer Team”.

Tim Golden Dragon dengan medali penghargaan di Henan, Zheng Zhou, Cina | Foto: kumparan.com

Menurut Ketua Umum Pengurus Provinsi Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Aceh, Kho Khie Siong atau Aky, pemilihan tim asal Aceh tersebut untuk mewakili Indonesia dilatarbelakangi jam terbang mereka yang cukup tinggi. Golden Dragon sendiri pernah mendapatkan medali perunggu dalam eksibisi PON XIX/2016 di Jawa Barat dan pernah mengikuti ajang kejurnas di Jakarta dan padang.

Barongsai, pertunjukan yang memadukan seni dan olahraga

Lambang Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) | Foto: olahragabarongsai.blogspot.com

Barongsai banyak dikenal masyarakat sebagai pertunjukkan hasil dari warisan budaya, namun belum banyak yang tahu bahwa budaya yang berasal dari tiongkok tersebut kini telah menjadi salah satu cabang olahraga. Di bawah bendera Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 23 Februari 2013, barongsai sebenarnya telah ditetapkan sebagai salah satu kategori cabang olahraga yang dipertandingkan. Hal tersebut didukung dengan dibentuknya FOBI.

Fobi Aceh sendiri terbentuk pada 11 Juni 2014 dengan ketua yang masih menjabat hingga kini yaitu Aky. Sampai 2019 merka pun telah membimbing beberapa klub yang ada di Aceh. Hingga saat ini pengurus yang telah dibentuk telah mencapai kabupaten/kota tepatnya di Sabang, Aceh Timur dan Aceh Tamiang.

Barongsai, sen, dan olahraga milik bersama

Ratih Puspasari dan Nabila Wulansari, anggota Golden Dragon yang memakai hijab | Foto: viva.co.id

Seperti halnya Aceh menerima permainan barongsai, seni pertunjukan dan olahraga ini juga tidak membatasi para pemainnya. Salah satu bentuk harmoni tersebut terlihat dari pemain yang ikut berangkat ke Henan yaitu Ratih Puspasari.

Minat akan barongsai ternyata tidak terbatas muncul pada orang-orang yang memiliki darah keturunan Tionghoa. Ratih bersama Nabila Wulansari merupakan dua remaja muslim Aceh yang terpikat dengan Barongsai.

Dilansir dari viva.co.id, Ratih yang menjadi pemain simbal dalam timnya mulai tertarik akan permainan yang penuh teknik tersebut setelah ia menonton pertunjukkan barongsai. Ia merasa atraksi yang ditampilkan adalah sesuatu yang unik dan seru.

Setelah mendapatkan izin dari orangtua pada 2013 ia pun bergabung dan berlatih bersama teman-teman keturunan tionghoa. Dalam melakukan kegiatannya dalam berlatih maupun pertunjukkan Ratih pun tetap berpenampilan muslimah dengan balutann hijabnya.

Walaupun sering kali masih ada anggapan bahwa barongsai adalah sebuah ritual ibadah menurut Aky saat ini telah banyak masyarakat aceh yang telah mengerti tentang barongsai sehingga banyak anak non-keturunan keturunan yang telah diizinkan dan ikut berpartisipasi dalam tim seni pertujunjukan barongsai.

Sumber: kumparan.com | viva.co.id | antaranews.com | rri.co.id

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tuai Kesuksesan Mengenakan Nama Asli. Siapa Saja Mereka? Sebelummnya

Tuai Kesuksesan Mengenakan Nama Asli. Siapa Saja Mereka?

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono" Selanjutnya

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono"

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.