Kenapa Nasi Padang Kalau Dibungkus Porsinya Lebih Banyak?

Kenapa Nasi Padang Kalau Dibungkus Porsinya Lebih Banyak?

Bentuk Penyajian makanan Padang di Rumah Makan Padang |foto: resep koki.id

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Makanan Padang merupakan salah satu kuliner khas yang menjadi favorit masyarakat Indonesia. Tak hanya di negara ini, kenikmatannya juga diakui secara internasional. Salah satu menunya yaitu rendang, pernah dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia oleh situs berita internasional, CNN.

Saat ini makanan yang identik dengan sentuhan santan tersebut mudah ditemukan di mana-mana. Restoran besar maupun rumah makan Padang kecil kerap menjadi pilihan orang untuk memuaskan lidah dan perutnya.

Kenapa lebih banyak kalau dibungkus?

Penampilan makanan Padang yang dibungkus| Foto: idntimes.com

Ada satu hal yang sering dipertanyakan masyarakat terkait kuliner asal Sumatra Barat ini yaitu soal banyaknya satu porsi makanan ketika dibawa pulang.

Banyak orang berpendapat bahwa ketika makan di tempat, porsi yang disajikan akan lebih sedikit dibandingkan pesanan yang dibungkus. Porsi tersebut terlihat dari banyaknya nasi dalam bungkusan masakan Padang yang dibawa pulang.

Ada berbagai versi cerita terkait asal muasal penyajian makanan Padang. Pertama adalah solidaritas, pada zaman penjajahan Belanda hanya orang-orang elite yang dapat makan di rumah makan Padang seperti orang Belanda sendiri dan para saudagar.

Hal tersbut membuat pribumi yang memesan makanan tidak bisa makan di tempat, dan akhirnya mendorong penjual untuk memberikan porsi lebih banyak.

Selanjutnya adalah anggappan bahwa makanan yang dibawa pulang bukan untuk sendiri. Ketika makan di tempat dianggap satu porsi yang dipesan akan jelas diperuntukkan oleh pemesan, sedangan ketika dibawa ke rumah ada anggapan bahwa makanan itu tidak hanya akan dimakan oleh si pemesan.

Dengan penambahan porsi, diharap si pemesan dapat berbagi makanannya.

Berikutnya mengenai biaya pelayanan. Pengertian ini sama seperti tax and service yang biasa kita bayar ketika berada di restoran. Namun pada masakan Padang, ketika memesan makanan untuk dibawa pulang, penjual menganggap pelayanan yang dikeluarkan tidak sebesar pada para pelanggan yang makan di tempat.

Lalu ada perkara tentang sabun cuci. Makan di tempat akan membutuhkan wadah berupa piring, sehingga akan membutuhkan biaya untuk pencuciannnya. Seballiknya pesanan yang dibawa pulang tidak akan dicuci, dan pengurangan biayanya dilakukan dengan menambah porsi.

Alasan berikutnya terkait dengan estetika makanan Padang itu sendiri. Ketika diisi dengan menu yang padat bungkusan akan terlihat bagus, salah satu parameternya jika bungkus nasi Padang sudah bisa berdiri.

Dan yang terakhir adalah tentang kemudahan. Jika makan di tempat, orang akan mudah minta tambah, sering kali juga sudah disediakan nasi tambahan. Sedangkan jika orang yang membawa pulang makanan Padang ingin tambah, ia akan kesulitan. Dalam bahasa Padang orang-orang Minang sering meminta tambahan tersebut dengan kata “tambuah ciek” atau tambah satu.

Namun praktek ini sebenarnya tidak benar-benar dilakukan semua tempat makan. Dilansir dari kompas.com, Rumah Makan Sepakat yang berdiri sejak 1969 adalah salah satunya.

Rumah makan Padang tertua di Jakarta yang memiliki dua cabang tersebut justru memberi tambahan biaya seribu untuk makanan yang dibungkus. Biaya tersebut dikenakan untuk membayar kertas atau bungkusannya.

Kenapa masakan padang ada di mana-mana?

Rumah Makan Padang yang mudah ditemui hampir di seluruh Indonesia | Foto: potretlampung.com

Menjamurnya masakan Padang, bahkan di luar Sumatra, memiliki berbagai alasan. Orang Padang dianggap memiliki kebiasaan untuk merantau. Budaya dari Sumatra barat pun ikut terbawa, salah satu yang paling sederhana adalah kulinernya.

Selanjutnnya juga didukung dengan profesi kebanyakan orang dari Sumatra Barat. Sejak dulu mereka terkenal sebagai saudagar yang sering berjualan di perantauan. Tak heran di daerah rantau mereka juga memanfaatkan masakan dari tempat asal mereka untuk diperdagangkan.

Sumber: merdeka.com | kompas.com | idntimes.com | hipwee.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga14%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang71%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau14%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Melalui Kejuaraan Paralayang Internasional, Sumedang Promosikan Destinasi Wisata Sebelummnya

Melalui Kejuaraan Paralayang Internasional, Sumedang Promosikan Destinasi Wisata

Siapa Sangka, Inilah Produk-Produk Buatan Indonesia yang Ternyata Mendunia Selanjutnya

Siapa Sangka, Inilah Produk-Produk Buatan Indonesia yang Ternyata Mendunia

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.