Mengecat Ulang Kanvas Raksasa, Aksi Pasukan Oranye Pasca-Demonstrasi

Mengecat Ulang Kanvas Raksasa, Aksi Pasukan Oranye Pasca-Demonstrasi
info gambar utama

Hari Selasa (24/9) terjadi aksi unjuk rasa mahasiswa Indonesia yang menolak pengesahan terkait Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), hingga penolakan terhadap rencana kenaikan Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) di depan gedung DPR/MPR RI, Jakarta

Saat ini aksi tersebut telah digantikan oleh pasukan oranye untuk membersihkan sampah pasca-demonstrasi. Pemrov DKI Jakarta memastikan ibu kota kembali bersih usai demonstrasi pada 24 September 2019. Pasukan oranye dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta langsung membersihkan sampah usai aksi di sekitar Gedung DPR/MPR.

Dlinasir dari medcom.id, Andono Warih selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengatakan pasukan oranye sudah mulai turun bekerja setelah massa membubarkan diri. Sekitar 100 personel pasukan oranye telah bersiaga sejak demonstrasi digelar.

“Jam 23.00 WIB kami mulai bergerak membersihkan. Pagi ini tinggal finishing,” ujar Andono.

Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengarahkan 10 unit mobil penyapu jalan dan sebanyak dua truk sampah jenis typer, serta empat mobil pikap pengawas kebersihkan kota pun turut dikerahkan.

“Sampah yang terkumpul mencapai 80 meter kubik atau sekitar 17 ton,” ucap Andono.

Tidak hanya di sekitar Gedung DPR/MPR saja, tumpukan sampah juga terkonsentrasi di jalan Gatot Subroto, Gerbang Pemuda, dan Semanggi.

Menurut Andono umumnya sampah yang terkumpul berupa batu-batu, kayu, dan sisa makanan.

Dilansir dari tirto.id pasukan oranye tidak hanya membersihkan sampah saja namun mengecat ulang kembali tembok pembatas Tol Dalam Kota. Arena tersebut merupakan arena mahasiswa menjadikannya sebagai kanvas raksasa saat berdemontrasi menentang pengesahan berbagai peraturan kontroversial yang tengah dibahas oleh DPR dan pemerintah.

“Ada yang ngecat tembok, nyemprot trotoar, nyapu, macam-macam tugasnya dibagi-bagi,” kata Najib, salah satu pasukan oranye.

Coretan dinding karya demonstran

Banyaknya coretan dinding yang dibuat oleh demonstran, menampilkan pesan-pesan protes dan geram terhdapat kinerja DPR dan pemerintah.

Beberapa di antaranya seperti Hutan Dibakar, KPK diperkosa, Save Riau, Dewan Penindas Rakyat, Demokrasi Dikorupsi, Mahasiwa Indonesia Ada dan Berani, Tolak RKUHP, DPR Enggak Mutu, dan Revisi Otak DPR.

Rahman salah satu petugas oranye mengakui meskipun tugasnya menjadi lebih menumpuk ketimbang hari-hari biasa, namun dia enggan menyalahkan para demonstran.

“Yang namanya demo, aneh kalau cuma diam-diam, mungkin mereka saking jengkelnya sampai mengekspresikannya dengan berbagai cara,” katanya.

Menurutnya, kerusakan tersebut tidak tergolong parah. Memang terdapat beberapa yang rusak, seperti pembatas jalan TransJakarta dan jalanan umum seperti DPR. Namun, hal tersebut menurutnya mudah untuk diperbaiki.

Alih-alih coretan dinding, yang menghambat kerja pasukan oranye adalah gas air mata yang masih terasa.

Beberapa orang petugas bahkan mengoleskan pasta gigi di bawah kelopak mata. Cara ini dianggap ampuh untuk meminimalisir efek gas air mata.

“Sampai sekarang masih terasa, pengaruh ke kinerja kami,” ujar Rahman.

Saat pasukan oranye tengah bekerja, pasukan polisi masih bersiaga di dalam kompleks parlemen. Kendaraan taktis juga terpantu diparkir di bagian dalam.


Catatan kaki: Tirto.id | Medcom.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini