Mama Blandina Were Sang Penjaga Anggrek Merauke

Mama Blandina Were Sang Penjaga Anggrek Merauke

Anggrek Kribo © Sumber: Cerita dari Harit

  • Merauke, Papua, memiliki keragaman hayati tinggi, termasuk anggrek. Peminat dan pecinta anggrek pun banyak. Para pembudidaya atau penangkar anggrek menjembatani keinginan peminat agar menjaga tanaman di alam tak terganggu.
  • Blandina Were, pembudidaya anggrek Merauke dari Kampur Wasur. Selain, budidaya anggrek Merauke, juga kawin silang . Hasil mengawinkan anggek ini baru dia perjualbelikan.
  • Untuk anggrek dari kawasan konservasi, seperti di Taman Nasional Wasur, bisa dilakukan budidaya di bawah binaan BBKSDA.
  • Bibit induk dari taman nasional tak boleh dijual. Baru, generasi kedua, ketiga dan seterusnya, bisa diperjualbelikan.

Blandina Were, tampak berdiri di antara puluhan tanaman anggreknya. Ada anggrek Yohanes, kelinci, bawang dan lain-lain. Kecintaan Were pada anggrek Papua, mendorongnya untuk giat budidaya tanaman ini.

Untuk menjaga pertumbuhan rumpun asli tak rusak atau punah, dia mengambil sebagian batang bagian atas, dan bagian bawah tetap hidup di alam atau hutan. Dia ambil wadah berisi air, lalu masukkan perangsang akar. Batang dan daun anggrek dia rendam sebentar, baru tanam di pot.

“Sudah tumbuh, barulah disiram dengan air beras untuk merawat tanaman ini,” katanya, kala Mongabay, temui di sela pameran anggrek di Merauke, baru-baru ini.

Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Merauke, kali pertama adakan pameran anggrek di halaman Kantor Bupati Merauke.

Mama Blandina Were, pegiat anggrek di Kampung Wasur. Dia setia merawat anggrek asli Merauke | Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

Tampak jejeran beragam anggrek Merauke, dengan beragam warna nan indah. Ada anggrek yohanes, yang rimbun dari Distrik Ilwayab. Ada juga anggrek asal Kampung Wasur dan banyak lagi. Were, salah satu peserta. Hampir 200 jenis anggrek Merauke, dipamerkan.

Were bilang, budidaya anggrek Papua, terdorong keinginan menjaga kelestarian jenis asli ini. Anggrek, katanya, banyak hidup menempel di pohon bus, dalam bahasa Marind atau Eucalyptus sp.

Untuk jual beli, katanya, dari hasil silang atau mengawinkan anggrek maupun generasi kedua atau ketiga, bukan bibit yang diambil dari hutan.

Were senang kawin silang anggrek. Dia pernah mengikuti pelatihan menyilang atau mengawinkan anggrek di Semarang.

Saya juga langsung datang ke rumah Were, melihat langsung cara mengawinkan angrek, tepatnya di Taman Bunga Nirwana, kampung ini ada dalam Taman Nasional Wasur.

Hasil silangan anggrek, dia biasa jual berkeliling pakai mobil. Penghasilan dari jualan ini sekitar Rp4-Rp5 juta. “Uang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, dan mengurus keperluan beberapa cucu,” katanya.

Tanaman anggrek Mama Blandina Were | Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

Lucki Silahooy, Sekretaris Umum DPD PAI Papua bilang, tanah Papua memilik beragam spesies anggrek terutama di Kabupaten Merauke. Anggrek dari Merauke, katanya, juga banyak diminati orang baik dalam negeri maupun luar negeri.

Guna menjaga anggrek di alam, para pecinta tak bisa mengambil langsung tanaman asli, tetapi hasil budidaya. “Agar induk jangan sampai punah. Kawin silang digalakkan supaya hasilkan tanaman anggrek hias, biasa jenis Dendrobium.”

Rini Debore Gebze, Ketua Dewan Penasehat Cabang PAI Merauke bilang, pameran anggrek kali ini khusus spesies Papua. Tanaman ini biasa hidup di belantara hutan Merauke. Ia mampu hidup menumpang pada induknya dan cukup lama baru mekar.

Promosi Dewan Pierhimpunan Anggrek di Merauke, katanya, agar nilai tambah ekonomi warga dari anggrek lebih meningkat.

Dia berharap, anggrek Merauke mendunia, dan makin dikenal banyak orang. “Ini keragaman hayati Merauke, kebanggaan daerah,” katanya.

Menurut dia, keragaman hayati Merauke, maupun Papua, begitu kaya. Hingga, tak mustahil masih begitu banyak anggrek yang belum ditemukan hingga perlu penelitian lebih lanjut.

Yarman, Kepala Balai Taman Nasional di Merauke bilang, Balai Taman Nasonal Wasur bertugas membina para penangkar anggrek di Merauke.

Kalau berjalan di sekitar Taman Nasional Wasur, katanya, tampak di pinggir jalan di Kampung Wasur, halaman warga banyak tertutup paranet karena sedang budidaya anggrek.

“Balai Taman Nasional Wasur sebagai pembina penangkar di Kampung Wasur karena masuk taman nasional.”

BKSDA Merauke memberikan izin menangkar anggrek itu karena berada di kawasan Taman Nasonal Wasur.

Spesies O1, adalah induknya, bila diambil dari hutan dilarang diperjualbelikan. Yang boleh diperjualbelikan, katanya, hasil pengembangan generasi kedua (F2, F3 dan seterusnya).

Paranet pelindung ratusan bunga anggrek terletak di depan rumah Mama Balndina Were | Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia


Catatan kaki: (berisi sumber data artikel/tulisan, pastikan lebih dari satu)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Inilah Kayu Mewah Asli Pulau Jawa Sebelummnya

Inilah Kayu Mewah Asli Pulau Jawa

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono" Selanjutnya

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono"

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.