Sejarah dan Alam Banda Neira yang Tak Lekang Oleh Waktu

Sejarah dan Alam Banda Neira yang Tak Lekang Oleh Waktu

Banda Neira © Sumber: uprint.id

Banda Neira adalah sebuah pulau dalam gugusan Kepulauan Banda milik Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku.

Berbagai literatur menyebutkan Banda Neira atau lebih akrab dengan Bandanaira telah dikenal berabad-abad lalu. Mengutip dari bandanaira.net, pada abad ke 16 dan 17, Spanyol, Portugis, dan Inggris bertempur di Kepulauan Banda yang berisi Banda Neira.

Situs tersebut juga mengatakan bahwa hingga akhir abad ke-18, Banda Neira adalah pusat monopoli rempah-rempah pertama di nusantara Indonesia. Rempah-rempah khas Banda adalah pala dan cengkeh.

Fort Belgica | Sumber: Wikipedia

Pulau-pulau tersebut merupakan perselisihan pertama antara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau kamar dagang Hindia Belanda) dan Portugis yang kabarnya berlangsung selama 60 tahun. Banda Neira dikenal sebagai sumber utama rempah-rempah bernilai tinggi hingga pertengahan abad ke-19.

Jejak sejumlah negara Eropa yang ada di Banda Neira tetap terlihat hingga sekarang. Ditempatkan ke dalam kategori wisata sejarah, Bandanaira.net mencatat bahwa ada Fort Nassau (dibangun oleh Portugis pada 1529 kemudian diikuti oleh Belanda pada 1608).

Meski sekarang tidak lagi utuh, ada juga benteng Kolombo yang dibangun oleh Belanda pada abad ke-18. Benteng benteng ini berfungsi sebagai penjaga lalu lintas kapal dagang Belanda.

Selanjutnya, Benteng Belgica dikenal sebagai Pentagon Indonesia. VOC membangun benteng tersebut pada tahun 1611 atas perintah Gubernur Jenderal Pieter Both. Benteng yang dibangun untuk menghadapi perlawanan rakyat Banda terhadap monopoli perdagangan pala VOC pada saat itu, masih berdiri bahkan lengkap sampai sekarang.

Ada juga istana Mini Banda atau kediaman gubernur jenderal VOC yang dibangun pada tahun 1622. Tidak hanya itu, masih ada beberapa jejak sejarah dalam bentuk bangunan yang tampaknya menjadi saksi bisu perjalanan Banda Neira dimana menurut catatan oleh pecintawisata di halaman wordpress adalah Gereja Tua Banda Neira (dibangun tahun 1600) dan sejumlah rumah tua.

Fort Belgica | Sumber: Whats New Indonesia

Sejumlah rumah peninggalan bangsa Eropa saat itu, digunakan sebagai rumah pengasingan untuk Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Tjipto Mangkunsumo, dan Iwa Kusuma Sumantri. Rumah pengasingan dari empat tokoh di mana hak-hak mereka disita pada saat itu, kini telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan Banda Neira. Semua peralatan dan peralatan yang digunakan, katakanlah, mesin tik Bung Hatta yang digunakan selama periode pengasingan 1939-1942, juga dipamerkan.

Namun, Banda Neira bukan hanya tentang rempah-rempah dan jejak sejarah yang tersisa dari kedatangan sejumlah negara Eropa ke Indonesia, terutama di pulau itu. Pulau yang berhadapan langsung dengan Gunung Api Banda juga memiliki pesona keindahan alam dan dunia bawah lautnya.

Tidak diragukan lagi, dunia bawah laut Banda Neira dan seluruh Kepulauan Banda adalah salah satu tujuan dari daftar area yang wajib dikunjungi untuk menyelam penggemar atau sekadar snorkeling. Halaman sportourisms menyebutkan setidaknya ada 30 titik menyelam, yaitu, Batu Kapal, Pulau Hatta, dan Lava Flow.

Map antik Fort Nassau | Sumber: Bartele Gallery

Lagi pula, untuk mencapai Banda Neira, ada dua alternatif. Pertama, dengan pesawat terbang; Jakarta-Ambon, Ambon-Banda Neira; Kedua, dengan kapal dari Jakarta langsung ke Banda Neira dilayani oleh kapal Pelni atau juga melalui laut tetapi dari Ambon ke Banda Neira.

Untuk sepenuhnya menikmati kekayaan dan keindahan Banda Neira, baik di darat maupun di bawah air, serta untuk belajar dari pengalaman perjalanan sebelumnya, saya menyarankan sebelum bepergian terlebih dahulu periksa prakiraan cuaca termasuk ombak laut ketika pergi ke Banda dan juga setelah tiba di sana. waktu terbaik untuk mengunjungi Banda Neira sebagai situs web negerisendiri mengatakan adalah April hingga Mei dan Oktober hingga November.

Tetapi terutama bagi penggemar menyelam, tetap pantau situs web informasi cuaca yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).


Catatan kaki: Netral News

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Jika Jadi, Gedung di Kepulauan Riau ini Akan Menjadi yang Tertinggi di Indonesia, dan Tetangganya, Singapura Sebelummnya

Jika Jadi, Gedung di Kepulauan Riau ini Akan Menjadi yang Tertinggi di Indonesia, dan Tetangganya, Singapura

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono" Selanjutnya

Di Pasar Tradisional ini, Rupiah diganti dengan "Dhono"

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.