Belajar Toleransi di Tiongkok Kecil

Belajar Toleransi di Tiongkok Kecil

Tiongkok kecil atau China kecil di Lasem © foto : Ublik.id

Indonesia memang kaya akan suku budaya, etnis, ras, dan lain sebagainya. Bicara soal etnis China di Jawa, maka Lasem lah jawabannya. Lasem atau Lao Sam merupakan sebuah kota kecil tepatnya sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Rembang.

Lasem juga dikenal dengan sebutan “Tiongkok Kecil” karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di Jawa, serta terdapat perkampungan Tionghoa yang tersebar di kota Lasem. Tiongkok kecil ini yang merawat perpaduan budaya China dan Jawa.

Pada abad ke-14 sampai 15, selain Semarang (Sampotoalang) dan Ujung Galuh (Surabaya), Lasem menjadi salah satu tempat berkembangnya para imigran asal Tiongkok. Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho sebagai duta politik Kaisar China ke Jawa pada masa Dinasti Ming, mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas perniagaan dan kemudian banyak yang menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa.

Mereka ingin membina hubungan bilateral dengan kerajaan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan. Tentunya dalam beberapa kondisi, Lasem pada zaman dahulu dan sekarang tidaklah sama persis.

Lasem kini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang, atau sekitar 12 km ke arah timur dari ibukota kabupaten Rembang. Letaknya dilewati oleh jalur pantura, menjadikan kota ini sebagai tempat yang strategis dalam bidang perdagangan dan jasa.

Meskipun demikian, perkampungan Tionghoa masih sangat banyak tersebar di Lasem. Gang-gang rumah penduduk Lasem dibatasi dinding tinggi dengan pintu berbahan kayu tebal serta aksara China atau tulisan Han Zi. Penduduk perumahan yang dibangun dengan gaya arsitektur China ini rata-rata merupakan produsen batik.

Perpaduan China dan Jawa dalam Motif Batik Lasem

Batik lasem motif naga | foto : rumahukm.com

Menurut sejumlah catatan sejarah, para pendatang dari negeri tirai bambu tiba ke Lasem pada abad ke 15, saat dimana zaman penjajahan Belanda. Setelah mereka berbaur dengan penduduk setempat yang beretnis Jawa, kemudian lahirlah satu motif batik khas Lasem.

Batik Lasem dikenal sebagai salah satu batik tulis yang memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi. Tidak heran apabila harga batik Lasem cukup mahal. Seringkali batik Lasem diburu oleh para kolektor dan kelas menengah ke atas. Harga batik Lasem sendiri dimulai dari ratusan ribu rupiah, hingga puluhan juta rupiah.

Belajar Toleransi dari Lasem

Tampak depan pesantren lengkap dengan lampionnya | foto : ublik.id

Perpaduan budaya China dan Jawa di Lasem tidak hanya berhenti pada sepotong kain batik tulis. Nilai toleransi antar etnis dan agama begitu kental di daerah yang yang dijuluki sebagai Tiongkok kecil atau China kecil ini.

Dalam kehidupan bernegara di Indonesia yang plural, pembahasan isu terkait toleransi mungkin tidak ada habisnya. Benturan-benturan kepentingan masyarakat bisa menjadi sebab terjadinya konflik besar maupun kecil.

Namun, hal tersebut tidak terjadi di Lasem, justru Kawan GNFI dapat melihat bentuk toleransi yang sebenarnya.

Toleransi antar etnis dan agama di Lasem sudah terjadi sejak dahulu. Generasi saat ini yang menjadi penerusnya. Hubungan sosial yang harmonis antar etnis dan agama itulah yang membuat Lasem tidak terkena imbas kerusuhan rasial seperti halnya yang terjadi pada daerah lain, khususnya di Jawa Tengah pada tahun 1998.

Lasem juga dikenal sebagai kota santri. Salah satu pesantren yang terkenal disana yakni Pondok Pesantren Kauman Lasem, Desa Karangturi. Nilai-nilai budaya Tionghoa juga melekat pada arsitektur pondok pesantren di kawasan tersebut.

Bahkan, pos keamanan pesantren yang terdapat pada bagian depan dibentuk dan dicat serupa dengan bangunan kelenteng. Di beberapa bagian pun ditemukan lampion hingga huruf-huruf Cina.

Wah keren bukan ?


Catatan kaki: Ublik.id | detiktravel

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Bundengan Alat Musik Tradisional yang Berawal dari Pelindung Gembala Sebelummnya

Bundengan Alat Musik Tradisional yang Berawal dari Pelindung Gembala

Nikmati Akomodasi Tepi Pantai di BeeJay Bakau Resort Selanjutnya

Nikmati Akomodasi Tepi Pantai di BeeJay Bakau Resort

Asriyati .
@asriyati

Asriyati .

Hii Saya mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang lagi magang di Good News From Indonesia, bimbing aku yaa.. hehe

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.