Bundengan Alat Musik Tradisional yang Berawal dari Pelindung Gembala

Bundengan Alat Musik Tradisional yang Berawal dari Pelindung Gembala

Alat musik unik asli Wonosobo, Bundengan yang sedang dimainkan | foto: mbakyublogger.com

Bundengan adalah alat musik asal Wonosobo, Jawa Tengah yang memiliki bentuk unik. Dengan bentuk menyerupai tameng yang menguncup di bagian atasnya, Bundengan dibuat dengan bahan dasar kelopak ruas bambu dan senar. Alat tersebut juga dapat mengeluarkan bunyi nyaring yang mirip dengan gamelan.

Kemunculan bundengan

Penggembala yang memakai Kowangan yang merupakan asal muasal Bundengan | foto: Muhammad Sa'id/ mbakyublogger.com

Bundengan dipercaya telah muncul sejak lama bahkan menurut kitab Wreta Sancaya keberadaannya telah ada sejak abad ke-12. Fungsi awal dari bundengan sendiri memang bukan sebagai alat musik melainkan sebagai alat berteduh. Layaknya sebuah caping, para penggembala unggas biasa memakainya sebagai pelindung diri dari hujan dan matahari, namun bundengan memiliki bentuk yang lebih panjang dan lebar.

Umumnya bundengan memiliki tinggi kurang lebih 1,5 meter dan lebar sekitar 50cm. Dengan bentuk yang besar tersebut bundengan dapat melindungi tubuh dari bagian kepala hingga sebagian belakang tubuh.

Bentuk bundengan sendiri dianggap menyerupai kuwangwung, sebutan orang Jawa untuk hama yang menyerang pohon kelapa. Kerangka dari alat musik tersebut terbentuk dari Kowangan, sebilah bambu yang dianyam nyaris setengah lingkaran. Selanjutya bagian luarnya dilapisi oleh pelepah bambu atau clumpring.

Karena awalnya dipakai oleh para penggembala, bagian kepala bundengan berbentuk sedikit mendongak. Hal tersebut untuk mempermudah gembala dalam mengamati unggas-unggas peliharaannya saat berjalan.

Pada bagian dalam bundengan awalnya para penggembala memasang ijuk yang menjadi asal muasal suara musik alat tersebut, namun seiring berjalannya waktu ijuk mulai sulit didapatkan sehingga pemakaiannya digantikan dengan senar dari raket badminton bekas.

Ada beberapa versi penjelasan tentang asal-usul sebutan bundengan. Jika mengambil pengertian dalam versi Yogyakarta nama tersebut diambil dari kata bundeng atau dalam bahasa Indonesia bindeng yang memiliki pengertian tidak bisa keluar jika tanpa bantuan alat.

Dalam versi lain sebutan tersebut muncul sebagai penjelasan atas bentuk inovasi nada kendang yang umumnya mengeluarkan suara dang deng dang deng . Adapula yang menganggap sebutan tersebut muncul karena suaranya yang menghasilkan efek suara berdengung.

Permainan bundengan

Bundengan dimainkan dengan cara dipetik. Walaupun bentuknya terlihat sederhana untuk memainkannya seseorang memerlukan teknik khusus dan harus memiliki rasa terhadap alat musik tersebut. Dalam memainkannya, pemetik bundengan harus bisa menyesuaikan kedua tangannya dan harus menguasai lagu lenggeran yang dimainkan.

Bundengan yang dimainkan untuk mengiringin penampilan tari lengger | foto: kotakreatif.id

Umumnya bundengan memang dimainkan untuk mendampingi kesenian Tari Lengger, tari yang biasa dilakukan secara berpasangan dengan peran perempuan yang dimainkan oleh laki-laki. Namun permainannya saat ini juga seringkali turut mengiringi campur sari, rebana, dangdut sholawatan, pementasan wayang hingga untuk mengiringi lagu-lagu masa kini.

Bundengan sendiri dianggap alat sederhana yang suaranya dapat disamakan dengan gamelan. Susunan senar yang ada dalam alat musik tersebut memiliki bunyi yang serupa dengan beberapa alat yang termasuk dalam set permainan gamelan, diantaranya seperti kenong, bende, gembul, gong tengahan, gong gede, dan kendang.

Saat ini pemain bundengan dan pemilik alat musiknya sendiri terbilang masih sangat sedikit. Upaya untuk melestarikan alat musik tersebut harus dilakukan secara lebih giat agar keberadaannya tidak terlupakan.

siswa yang mengikuti ekstrakuliluler Bundengan di SMP Negeri 2 Selomerto, Wonosobo | foto: mbakyublogger.com

Salah satu upaya tersebut pun telah dilakukan oleh sekolah di Wonosobo. SMP Negeri 2 Selomerto, Wonosobo telah memasukkan kesenian Bundengan sebagai salah satu kegiatan ekstrakulikuler yang bisa menjadi pilihan pelajaran murid-muridnya.

sumber : kumparan.com | kompas.com | detik.com | kotakkreatif.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Stunting Bukan Sekadar Pendek Badan Sebelummnya

Stunting Bukan Sekadar Pendek Badan

Pulau-Pulau yang Sangat Bagus di Kepulauan Seribu Selanjutnya

Pulau-Pulau yang Sangat Bagus di Kepulauan Seribu

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.