Mengenal Sejarah Situs Trowulan Peninggalan Kerajaan Majapahit

Mengenal Sejarah Situs Trowulan Peninggalan Kerajaan Majapahit
info gambar utama

Kalau kawan GNFI berkunjung ke Kota Mojokerto jangan lupa juga berkunjung ke situs budaya resmi yang satu ini yaitu Trowulan yang terdapat di Provinsi Jawa Timur. Ada banyak pengetahuan yang tentunya harus kita ketahui mengenai peradaban pada zaman Majapahit terdahulu yang perlu dikaji. Dari pelajaran sejarah kita banyak mengetahui sumpah amukti palapa dari Gadjah Mada.

Dan juga tentang Ratu Tribhuwanotunggadewi Jayawisnuwardhani dan Raja Hayam Wuruk dua nama tersebut yang berhasil membawa nama Majapahit di puncak kejayaan. Jika berkunjung di Trowulan pengunjung akan disajikan banyak sekali cerita dan bukti yang dapat dilihat tentang peradaban pada abad ke 13 dahulu. Mulai berdiri pada tahun 1293 dan diperkirakan runtuh pada tahun 1521 Masehi. Dikutip dari Kompas.com juru kunci atau perantara di Wringin Lawang salah satu dari ribuan artefak dan puluhan bangunan bersejarah penanda kebesaran dari Majapahit, penguasa dari negeri ini juga menyempatkan waktunya untuk berziarah dan berdoa supaya diberikan kelancaran saat pemilihan pejabat kelak.

Wilayah Komplek situs Trowulan: Sumber | Iklantravel
info gambar

Letak Trowulan sendiri berada di 60 Km barat daya dari Kota Surabaya. Surabaya sendiri adalah ibukota dari Majapahit ketika mencapai puncak kejayaan. Area yang seluas 11 x 9 kilometer persegi. Nurhadi Rangkuti mengatakan bahwa, wilayah yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Majapahit telah ditemukan setidaknya 32 kanal, ada satu kolam yang mempunyai seluas lebih kurang 6,5 hektare, dua pintu gerbang, gapura bajangratu dan gapura wringin lawang. ada juga pemukiman dan pendopo kuno, candi brahu, candi tikus,dan candi gentong.

Komplek Candi Tikus yang digunakan untuk pemandian zaman dahulu: Sumber | Triptrus
info gambar

Sejarah mencatat bahwa situs Trowulan merupakan satu-satunya situs peninggalan dari purbakala yang mempunyai bentuk kota dari era kerajaan kuno klasik nusantara dari abad V sampai XV masehi. Rumah pemukiman penduduk sekitar Trowulan mempunyai bentuk rumah yang megikuti pada zaman kerajaan Majapahit terdahulu. Masih asri dan mempunyai atap yang hanya berbahan kayu dan batu. Pada abad ke 13 yang masih belum ditemukannya kayu warga dahulu menggunakan sehelai serat kayu untuk mengikat genteng dan kayu supaya menyatu tetapi, mengikat kayu dan genteng haruslah sangat kuat. Uniknya lagi untuk pengamanan pada pintu warga dahulu hanya mengandalkan sebalok kayu untuk mengganjal pintunya dan sudah termasuk kategori aman.

Ilustrasi pemukiman warga Majapahit pada abad ke 13: Sumber | Bertahanwalker
info gambar

Situs bekas Kerajaan Majapahit ini dibangun di sebuah dataran yang merupakan ujung penghabisan dari tiga jajaran gunung yaitu Gunung Penanggungan, Gunung Welirang dan Gunung Anjasmara. Kondisi dari daerah Trowulan sendiri termasuk kondisi geografis yang sesuai untuk pemukiman. Hal ini didukung oleh antara lain yaitu topografis yang landai dan air tanah yang relatif dangkal.

Catatn Kaki: Kompas | CNNIndonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini