Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia yang Kaya Akan Makna

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia yang Kaya Akan Makna
info gambar utama

Bali memang sangat identik dengan keindahan pantainya. Tempat yang banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara ini banyak menyimpan hal-hal dengan segala keindahannya termasuk masalah fesyen. Salah satu desa yang ada di Bali masih melestarikan salah satu kain yang menjadi termahal di dunia, yaitu Kain Gringsing.

Kain tersebut bisa dijumpai di Desa Tengganan Bali yang merupakan desa Bali kuno yang ada di Bali karena penduduknya masih memeluk agama hindu asli dan menyembah benda-benda yang dipercayai masih menjadi turunan nenek moyang mereka sendiri.

Proses double tenun ikat menjadi ciri khas Kain Gringsing: Sumber | medium.com
info gambar

Kain Gringsing memiliki keunikan yakni, proses pembuatannya dari awal hingga akhir mengerjakan menggunakan tangan dan tidak sedikitpun menggunakan mesin dalam pengerjakannya. Untuk mengerjakan sehelai Kain Gringsing ini menghabiskan waktu hingga 5 tahun, itu yang membuat Kain Gringsing menjadi cukup mahal ketika dijual. sebagai gambaran, selembar Kain Gringsing dibanderol Rp900 ribu hingga jutaan rupiah.

Makna dari Gringsing sendiri berasal dari kata gring yang artinya sakit dan sing artinya tidak, jadi Gringsing artinya tidak sakit atau terhindar dari sakit. Lain itu, mengandung makna sebagai penolak bala, yaitu mengusir penyakit yang bersifat rohani. Masyarakat percaya bahwa Kain Gringsing memiliki kekuatan magis yang dapat melindungi diri dari musibah.

pembuatan kain gringsing harus mengikuti peraturan adat: Sumber | Jejakarkeologi
info gambar

Teknik pengerjaan Kain Gringsing menggunakan teknik menenun double ikat. Sebuah teknik yang digunakan oleh 3 negara, termasuk Indonesia.

Dalam proses pewarnaan, Kain Gringsing bisa memakan waktu 1 tahun pengerjaan dengan warna-warna yang digunakan dalam pembuatan kain gringsing memakai bahan alami. Secara umum, Kain Gringsing memiliki 3 warna, yakni merah, kuning, dan hitam, yang disebut dengan Tridatu.

Untuk warna merah menggunakan bahan dari akar mengkudu, warna kuning menggunakan minyak kemiri, dan warna hitam dihasilkan dari kayu taum.

Kain Gringsing memiliki setidaknya 20 motif, namun saat ini di Desa Tengganan hanya ada 7 motif saja. Di antaranya bercirikan Kalajengking lubeng, Sanan Empeg bercirikan kotak poleng berwarna merah hitam, Bunga bercirikan Cempakaan, Cemplong bercirikan sebuah bunga yang besar di antara bunga-bunga kecil, Tuung Batun, dan Motif Wayang.

Sumber | Jejakarkeologi
info gambar

Teknik yang paling sulit dalam pembuatan Kain Gringsing adalah soal teknik pewarnaan atau penenunan yang harus mematuhi peraturan adat desa setempat. Dari situlah Kain Gringsing menjadi memiliki nilai yang sangat tinggi. Kain Gringsing pun lazim digunakan dalam upacara keagamaan.

Proses penenunan dari kain gringsong sendiri sangat memegang teguh aturan yang sudah diwariskan sejak turun temurun oleh sang leluhurnya. Warisan tersebut tetap dijaga dan melindungi keaslian setiap tata cara dan proses dalam pembuatan kain ini supaya nilai-nilai ritualnnya tetap terjaga.

Kain Gringsing juga merupakan kain yang sangat disakralkan bagi warga Desa Tengganan sebagai sebuah keindahan dan persyaratan tersendiri yang digunakan dalam peristiwa upacara.

Catatan Kaki: Kompasiana | Akar Media | Balitoursclub

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CM
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini