Jangan Ada Sampah di Antara Kita (GNFI & Verne Indonesia)

Jangan Ada Sampah di Antara Kita (GNFI & Verne Indonesia)

Ilustrasi Produk © GNFI & Verne Indonesia

Dari angka satu hingga sepuluh. Berapakah angka yang pantas untuk pertanyaan ini “Sudahkah kita peduli terhadap masalah sampah?” Beranikah kita menyebut angka delapan atau mungkin angka tujuh? Sedangkan sering kita melihat, sungai-sungai banyak yang tertutup sampah, bermacam-macam bentuknya; penampakan kasur mengambang di atas sungai, berkantong-kantong plastik menyembul di permukaan sungai. Foodcourt kampus yang bertebaran tisu sisa bersantap makan, kertas-kertas struk transaksi berhamburan di sisi ATM yang bersanding dengan tempat sampah, puntung-puntung rokok tergeletak di sudut-sudut lampu lalu lintas, cup-cup plastik tersebar di taman-taman kota, bungkus mie intan tergulung-gulung ombak di pantai. Geli ketika melihat sampah bertumpuk di bawah plakat bertulisakan “Kebersihan adalah sebagaian dari iman”.

Jangan ditanya, siapa yang tidak tahu dampak negatif dari masalah sampah yang tidak diperlakukan semestinya? Semenjak di bangku sekolah, kita sudah kenyang mendengarnya. Pigura-pigura bertulisakan “Kebersihan Pangkal Kesehatan” melekat kuat di benak kita. Tetapi mengapa sampah-sampah masih bertebaran di tempat yang tidak seharusnya.

Kenapa masih ada sampah di antara kita? Padahal kita tahu bahwa tindakan membuang sampah sembaranagan itu salah. Lantas kenapa sampah masih menjadi masalah? Karena adanya sikap a-pathos, yakni ketiadaan perasaan atau miskin rasa terhadap sesuatu. Sikap innouncent (tidak apa-apa), cuek dan ”emangnya gue pikirin” adalah bab pembuka terhadap masalah persampahan. Bayangkan jika ternyata orang-orang a-pathos ini jumlahnya ribuan bahkan jutaan orang, seberapa besar dampak negatf yang akan mengganjar kita kelak? Mampukah kita menanganinya?

Dari keresahan inilah muncul sebuah ide, gagasan agar a-pathos tidak semakin banyak malahan sebaliknya pathos lah yang harus meluas dan meluber. Good News From Indonesia bersama Verne Indonesia menggagas sebuah gerakan sederhana, yah sederhana saja, karena gerakan ini bisa dilakukan oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Gerekan kecil yang harapannya menjadi kesadaran bersama-sama untuk membuat nyaman lingkungan kita.

Namanya adalah gerakan #pungutsampah, bisa dilakukan ketika sedang berjalan dari ruang kelas menuju kantin, dari tempat kerja menuju warung di depan kantor, dari rumah menuju mini market, atau dari dan kemanapun. Ketika mata menemukan serakan sampah yang tidak pada tempatnya, kemudian memungutnya dan memasukkan ke tempat yang benar, tempat sampah.

Gerakan #pungutsampah bukanlah budaya poles, yang dilakukan karena ada maunya, sesaat dan sesekali. Gerakan atau apapun yang berkaitan dengan masalah lingkungan sudah menjadi bagian sedari dulu kedua brand ini, Good News From Indonesia sebagai media pemberita kabar baik tentang Indonesia sudah lama mengangkat isu-isu tentang ramah lingkungan, demikian pun Verne Indonesia sebagai perusahaan pembuat kerajinan dari bahan-bahan kulit, selalu menerapkan budaya bersih dan peduli lingkungan.

Kolaborasi inipun ditandai dengan sebuah simbol, bracelet bertuliskan “I'm Good News From Indonesia” yang membawa sebuah pesan bahwa kebaikan dapat dimulai dari diri sendiri dana siapapun bisa menjadi sebuah kabar baik untuk negeri ini. Gelang yang terbuat dari kulit ini memiliki keunikan-keunikan, di salah satu sisinya ada jahitan benang berwarna merah dan putih menandakan tujuan dari gerakan ini, yakni hanya untuk Indonesia. Harapannya, setiap pemakai gelang ini memiliki semacam alarm pengingat untuk tidak pernah berhenti berbuat baik bagi negeri ini. Kemasan gelangnya juga menarik, dari sarung tangan. Sarung tangan ini bisa digunakan untuk #pungutsampah sebagai upaya nyata untuk membuat nyaman lingkungan sekitar.

Pada hari ini, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, harinya orang-orang muda menentukan arah dan nasib negeri ini, 91 tahun yang lalu. Sekarang, kesempatan berbuat baik untuk negeri ini terbuka lebar, mari daya gunakan masa muda kita untuk negeri ini dimulai dari diri sendiri, lupakanlah a-pathos jadilah pathos. Dari miskin rasa menjadi kaya rasa, peduli lingkungan kita dengan #pungutsampah.

-Abimanyu Yusuf

View this post on Instagram

Daffodil II Bracelet: I'm Good News From Indonesia telah diluncurkan, mengiringi upaya dan komitmen kami sendiri, Verne Indonesia dan GNFI, juga bagi siapapun, untuk berkemauan menjadi kabar baik. Mencipta sebuah konten, kami rasa perlu pertanggungjawaban besar. Salah seorang tim produksi film ini bercerita. Usai melakukan proses shooting, ia beberapa kali melewatkan #pungutsampah. Malu pada diri sendiri dan merasa bersalah, katanya. . Gelang ini sudah bisa di dapatkan di Display Room dan toko online @verneindonesia, juga @imgood_official GNFI Store. . Upaya sederhana untuk lingkungan yang lebih nyaman, karena kita adalah kabar baik. Kolaborasi Verne Indonesia dan Good News From Indonesia, untuk kampanye khalayak bersama yang sudah berjalan sejak lama. . @verneindonesia #verneindonesia #goodnewsfromindonesia #sumpahpemuda #aprofessionalbagsandleathergoodsmaker

A post shared by Im Good I GNFI Store (@imgood_official) on

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

3 Kuliner Khas Betawi Yang Terkenal Sebelummnya

3 Kuliner Khas Betawi Yang Terkenal

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu Selanjutnya

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu

Good News From Indonesia
@gnfi

Good News From Indonesia

https://www.goodnewsfromindonesia.id

Akun resmi GNFI

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.