Diskusi Bung Hatta 3: Anak Muda Bisa Apa?

Diskusi Bung Hatta 3: Anak Muda Bisa Apa?

© Baby/Invasi Pictures

Good News from Indonesia (GNFI) bersama Invasi Pictures kembali mengadakan acara Diskusi Bung Hatta. Di edisi yang ketiga ini, judul yang diangkat adalah "Anak Muda Bisa Apa?".

Bertempat di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Diskusi Bung Hatta edisi ketiga dihadiri sekitar 114 peserta. Menampilkan empat pembicara yakni Alamanda Shantika, Hendy Jo, Dr. Muhammad Faisal, dan Wafa Taftazani, acara kali ini disaksikan peserta dengan penuh antusias.

Serial Diskusi Bung Hatta adalah sebuah upaya untuk mengangkat dan mengingatkan kembali kepada masyarakat tentang perlunya meneladani integritas para pendiri bangsa. Sebab, dengan persoalan negara yang semakin banyak, akan makin banyak pula solusi yang muncul. Namun, diperlukan keteladanan dari sosok pendiri bangsa, salah satunya Bung Hatta, agar pergerakan anak muda masa kini tidak salah arah.

Peserta antusias mendengarkan materi pembicara | Foto: Mona Destiana/GNFI

Pembicara pertama yang mengisi acara adalah Hendi Johari. Pria yang biasa dipanggil Hendi Jo ini merupakan jurnalis historia.id dan pendiri Komunitas Historika Indonesia.

Hendi Jo memberi gambaran dari perspektif sejarah, tentang seperti apa peran dan sepak terjang barisan generasi muda dalam upaya mencapai kemerdekaan Indonesia. Bagaimana mereka berjuang, keteladanan apa yang bisa dipetik dari mereka.

Ia juga mengungkapkan, berkaitan dengan momen Sumpah Pemuda ini keteladanan Bung Hatta bisa dicontoh generasi muda masa kini.

Kemudian Dr. Muhammad Faisal yang merupakan penulis buku Generasi Phi: Generasi Pengubah Indonesia dan pendiri Youth Laboratory Indonesia, menerangkan siklus empat generasi muda di Indonesia. Masing-masing generasi memiliki tantangan dan nilainya masing-masing.

Generasi-generasi itu adalah generasi alpha, beta, tetha, dan phi. Di generasi phi inilah cerminan generasi muda saat ini. Dr. Faisal juga menyebutkan perbedaan persoalan yang dihadapi generasi Bung Hatta dan anak muda masa kini.

Dulu di zaman muda Bung Hatta, generasinya menghadapi persoalan kolonialisme, kemiskinan, kerja paksa, dan kelaparan, Dari permasalahan itulah lahir nilai-nilai profetik seperti wawasan kedaerahan yang kuat, nasionalisme, dan idealisme. Mereka berjuang lewat pergerakan seperti Boedi Oetomo dan Serikat Islam.

Lalu di masa kini, anak muda berhadapan dengan persoalan krisis besar. Krisis moral, krisis SDA, pasar bebas, terorisme, dan ketidakstabilan politik jadi persoalan utama. Namun, dengan permasalahan inilah muncul nilai-nilai kreatif dan inovatif, dan mandiri. Pergerakannya banyak menggunakan media sosial, indie labels, dan jiwa entrepreneurship.

Para pembicara dan moderator (kiri) di Diskusi Bung Hatta edisi 3 | Foto: Mona Destiana/GNFI

Berlanjut ke pembicara ketiga yakni Wafa Taftazani. Pria yang menjabat sebagai Country Strategic Partnerships Manager (YouTube) di Google Indonesia dan Co-founder and Commissioner Modal Rakyat ini memberikan materi tentang bagaimana sebaiknya anak muda memanfaatkan teknologi di era modern saat ini.

Di sesi pembicara terakhir, Alamanda Shantika membagikan wawasannya mengenai apa yang bisa dilakukan anak muda saat ini untuk menjawab berbagai persoalan maupun peluang dari zaman yang semakin modern.

Pendiri Binar Academy ini juga memberi pandangannya tentang kemampuan anak-anak muda Indonesia untuk menghadirkan solusi yang dibutuhkan oleh orang banyak bahkan dunia. Dan bagaimana kita sebagai anak muda perlu optimis (tentunya dengan prasyarat tertentu) menghadapi ketidakpastian masa depan.

Kiri ke kanan: Alamanda Shantika, Wafa Taftazani, Meutia Hatta, Dr. Faisal, Hendi Jo, Wahyu Aji (CEO GNFI)

Serial Diskusi Bung Hatta merupakan rangkaian acara yang digelar sebelum perilisan film Janji Hatta. Film yang digarap oleh Invasi Pictures tersebut akan mulai diproduksi akhir tahun ini dan rencananya akan tayang di layar lebar tahun 2020.***

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Roko Molas Poco, Tradisi Unik Untuk Awali Pembangunan Rumah Adat Sebelummnya

Roko Molas Poco, Tradisi Unik Untuk Awali Pembangunan Rumah Adat

Dari Bandung ke Langit Himalaya Selanjutnya

Dari Bandung ke Langit Himalaya

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

Tidak bisa masak tapi suka makan. Tidak bisa main bola tapi suka nonton bola.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.