Kepulauan Digital dan Lokomotif Masa Depan Indonesia

Kepulauan Digital dan Lokomotif Masa Depan Indonesia

Ilustrasi © Unsplash.com

Kita dahulu mengenal Asian Tiger, atau Macan Asia, Hong Kong, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan maju begitu pesat karena industrialisasi yang cepat, perdagangan, dan pengembangan keuangan yang membuat ke-empatnya tumbuh secara berkelanjutan. Kini, Hong Kong dan Singapura menjelma menjadi pusat keuangan terkemuka dunia, sementara Korsel dan Taiwan menjadi pusat industri manufaktur produk-produk teknologi.

Menurut artikel yang ditulis di Forbes, transformasi serupa kini sedang terjadi di Asia Tenggara. Bedanya, pertumbuhan ekonominya akan didorong oleh mobile economy. Di kawasan ini, tak ada yang lebih menggeliat hebat dibandingkan Indonesia, negara terbesar keempat di dunia berdasarkan jumlah penduduk. Berikut adalah beberapa fakta menakjubkan tentang mobile economy Indonesia:

  • Indonesia adalah negara muda. Usia rata-rata adalah 29, dan 60% dari populasi di bawah 40 tahun
  • Indonesia adalah salah satu negara yang paling mobile di dunia: dari 150 juta pengguna internet di Indonesia, 95%, atau 142 juta pengguna, adalah mobile.
  • Lebih dari 60% dari semua orang dewasa Indonesia sekarang memiliki smartphone.

Pengguna internet di Indonesia menghabiskan 206 menit sehari di media sosial, lebih lama dibandingkan dengan rata-rata global (124 menit). Platform teratas seperti Youtube, Whatsapp, dan Facebook semuanya digunakan oleh lebih dari 80% orang Indonesia online. Dan 76% dari semua pengguna internet di Indonesia berbelanja online dari ponsel mereka, tertinggi di dunia.

Beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan yang pesat dalam internet economy Indonesia. Selain e-commerce, permainan online, iklan, musik dan video berlangganan, serta layanan perjalanan online dan naik kendaraan / pengiriman makanan, semuanya menikmati adopsi dari konsumen muda Indonesia. Laporan mendalam oleh Google dan Temasek yang dirilis tahun lalu menyatakan:

"Digital Archipelago" Indonesia sedang bergerak hebat. Didukung oleh basis pengguna internet terbesar di kawasan ini (150 juta pengguna pada 2018), Indonesia memiliki ekonomi internet terbesar ($ 27 miliar pada 2018) dan pertumbuhan tercepat (49% CAGR 2015-2018) di dunia. Indonesia siap untuk tumbuh menjadi $ 100 miliar pada tahun 2025.

Booming ekonomi seluler Indonesia telah dipicu oleh lonjakan besar investasi ventura, sejumlah $ 6 miliar investasi berhasil diraih selama empat tahun terakhir. Seperti yang ditulis oleh salah satu pemodal ventura di Venture Beat, peluang di Indonesia hari ini adalah seperti berinvestasi di Cina pada 2008. Sejumlah “unicorn” juga bermunculan di Indonesia , seperti Tokopedia (e-commerce), Traveloka (reservasi perjalanan online), dan Go-Jek (ride-hailing).

Namun tantangan dan hambatan signifikan terhadap pertumbuhan tetap ada. Misalnya, meskipun data seluler relatif murah, kecepatan rata-rata internet sekitar 10 mbps, kurang dari setengah rata-rata global. Dan sementara penggunaan smartphone terus meningkat, ponsel yang relatif murah tidak memiliki banyak penyimpanan data, yang membuat pengguna pilih-pilih aplikasi mana yang mereka gunakan secara teratur.

Mungkin satu-satunya tantangan (dan sekaligus peluang) terbesar bagi ekonomi seluler Indonesia adalah dalam pembayaran dan uang elektronik. Google dan Temasek memperkirakan bahwa e-commerce di Indonesia akan mencapai $ 53 miliar pada tahun 2025. Pertumbuhan ini sangat mengesankan mengingat fakta bahwa kurang dari setengah orang Indonesia memiliki rekening bank, dan hanya 2,4% orang Indonesia memiliki kartu kredit. Di sinilah letak paradoks besar Indonesia. 56% persen dari seluruh penduduk Indonesia menghuni kota-kota besar dan semakin hidup dalam perangkat seluler. Setengah lainnya tinggal di daerah pedesaan dan tersebar di 17.000 pulau di mana uang tunai tetap menjadi alat tukar utama. Karena bank tradisional mengandalkan lokasi fisik untuk mendapatkan pelanggan, penyebaran ini membatasi ruang gerak mereka.

Dengan semakin banyaknya penduduk Indonesia yang tidak memiliki rekening bank saat ini menggunakan smartphone, peluang besar menanti bagi mobile payment and services. Gopay dan Ovo adalah dua pemain besar di Indonesia di ranah ini, disamping beberapa layanan mobile payment yang canggih dan kuat di sini. Inilah peran baru yang dimainkan, yakni mendorong inklusi keuangan dan mengubah kehidupan masyarakat, terutama mereka yang belum terjangkau layanan bank konvensional.

Bisa jadi, lokomotif besar pendorong ekonomi Indonesia di era ini dan masa depan adalah ekonomi digital, yang kemudian menyebar hingga mendorong tumbuhnya sektor lain seperti creative economy, tumbuhnya UKM, bahkan bisa jadi, manufaktur. Bagaimana bisa?

(bersambung)

==

Sebagiannya diterjemahkan dari artikel Elad Natanson di Forbes.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli50%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Perempuan Tanah Jahanam di Malam yang Kelam Sebelummnya

Perempuan Tanah Jahanam di Malam yang Kelam

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu Selanjutnya

Dijuluki Jurassic Park Mini, Kawasan Wisata Ini Seperti Zaman Batu

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.