Makna Kehidupan dalam Tari Wutukala yang Dinamis

Makna Kehidupan dalam Tari Wutukala yang Dinamis

Tarian Wutukala dari Sorong, Papua Barat © Indonesiakaya.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Seorang pria berdiri di salah satu sudut pantai dengan pasir berwarna putih. Kemudian, ia mengajak beberapa teman untuk bergabung dengannya dalam satu tarian. Mereka semua membawa sebuah senjata sejenis tombak di tangan, dan seolah-olah bersiap akan melakukan sebuah perubahan.

Para pria tersebut menggunakan hiasan kepala berupa mahkota dari bulu cendrawasih serta tubuh mereka dipenuhi dengan lukisan etnik berwarna putih dan hitam. Untaian penutup bagian bawah tubuh mereka terbuat dari daun sagu terkibas gagah oleh angin laut.

Terdapat sekitar enam orang mulai menyatu dan membentuk sebuah formasi untuk mengawali sebuah tarian tradisional yang bernama Tari Wutukala.

Tari Wutukala merupakan sebuah tarian yang berasal dari Sorong, Papua Barat. Tarian ini dimiliki oleh suku Moy dan biasanya dilakukan dalam berbagai acara seremonial adat mereka.

Tari Wutukala biasa dilakukan dalam kelompok secara berpasangan antara kaum pria dan wanita, karena tari ini menceritakan sebuah aktifitas tradisional yang memang dilakukan oleh pria dan wanita secara bersama-sama.

Pada awal tarian, para laki-laki akan masuk terlebih dahulu dalam sebuah formasi yang menggambarkan bahwa mereka tengah berburu ikan.

Tidak lama setelah itu, kaum perempuan masuk dengan membawa sebuah tas khas Papua yang biasa disebut dengan noken. Tas ini akan dipakai sebagai tempat untuk ikan-ikan hasil buruan mereka nantinya.

Mereka terus menari menggambarkan tengah mencari ikan dengan bersemangat | Foto: Indonesiakaya

Biasanya, para perempuan menggunakan pakaian yang serasi dengan para laki-laki, seperti rok dari daun sagu serta hiasan kepala yang terbuat dari burung cendrawasih. Mereka pun mulai melakukan gerakan-gerakan yang menggambarkan mata pencaharian mereka dalam mencari ikan.

Penting untuk diketahui bahwa sejak dahulu suku Moy sendiri merupakan suku di wilayah pesisir Sorong yang memang mempunyai mata pencaharian utama sebagai seorang nelayan.

Kemudian, para pasangan yang digambarkan sedang berburu ikan ini pun mengalami kesulitan mendapatkan ikan dengan menggunakan senjata tombak. Ikan mulai sulit ditangkap dan mereka pun terancam tidak mendapatkan bahan makanan.

Keunikan serta keistimewaan tarian ini pun dimulai. Para pasangan ini merubah cara mencari ikan yang mereka lakukan dengan menggunakan tombak saja menjadi sebuah inovasi dengan menggunakan akar tuba. Kisahnya, para pria dari Suku Moy mulai turun ke air dan menaburkan akar tuba yang telah ditumbuk menjadi seperti bubuk.

Mereka menggunakan akar tuba karena tumbuhan ini mengandung sejenis ‘racun’ ringan yang akan membuat ikan-ikan pusing sehingga mudah untuk ditangkap.

Selanjutnya, para wanita mulai menangkap ikan-ikan yang pusing dan bermunculan di permukaan air. Panen ikan pun terjadi dan hasilnya mereka bagikan ke seluruh masyarakat suku Moy.

Dalam pertunjukan Tari Wutukala biasanya diiringi dengan musik tradisional tifa. Selain itu ada juga beberapa yang menambahkan alat musik seperti gitar, bass, ukulele, dan lain-lain agar lebih menarik.

Tarian ini diiringi oleh pengiring musik agar pesannya lebih tersampaikan | Foto: Indonesiakaya

Selain musik pengiring, Tari Wutukala juga diiringi oleh lagu daerah yang menggambarkan keceriaan serta rasa syukur masyarakat. Irama musik pengiring yang dimainkan tentu disesuaikan dengan lagu-lagu tersebut.

Dalam perkembangannya tari ini masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat Papua. Tari ini juga sering ditampilkan dalam berbagai acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya, serta promosi pariwisata.

Secara garis besar Tari Wutukala menceritakan sebuah tradisi penting yang menjadi bagian dari kehidupan suku Moy. Tarian ini merupakan peringatan atas inovasi yang mereka temukan dalam mata pencaharian umum suku Moy.

Makna dari Tari Wutukala sendiri yaitu sebuah ucap rasa syukur atas berkat Tuhan. Uniknya, limpahan berkat ini hadir dalam inovasi perburuan ikan yang mereka lakukan. Hal ini menunjukan sebuah sikap terbuka yang dimiliki suku Moy terhadap perubahan kehidupan yang terjadi.

Biasanya, tarian ini dilakukan oleh seorang tetua adat dan diikuti oleh beberapa pemuda yang menggambarkan semangat suku Moy dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


Catatan kaki: Indonesiakaya | Negerikuindonesia

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Mengenal Rupa-rupa Busana Khas Betawi Sebelummnya

Mengenal Rupa-rupa Busana Khas Betawi

Sejarah Hari Ini (1 Juni 1859) - Titik Awal Perniagaan Pelabuhan Pekalongan Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (1 Juni 1859) - Titik Awal Perniagaan Pelabuhan Pekalongan

Asriyati .
@asriyati

Asriyati .

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.