Agar Budaya Jawa Tidak Hilang Ditelan Masa

Agar Budaya Jawa Tidak Hilang Ditelan Masa

Ilustrasi © Unsplash.com

Oleh: A. Cholis Hamzah

Disela- sela Kongres Indonesianis Dunia, saya menyempatkan bertemu dengan dua junior saya yang hebat. Saya sebut junior karena pada waktu saya mengikuti Pertukaran Pemuda ASEAN-Jepang tahun 1982, saya adalah anggota delegasi (35 orang) yang paling tua yaitu berumur 29 tahun sementara kedua sahabat saya itu masih usia 20 tahunan. Mereka adalah Dr. Indira Laksmi Gamayanti panggilannya Yanti dan Dr. Titik Mutia panggilannya Titik. Kedua ibu ini sama-sama alumni Universitas Gajah Mada (UGM) dimana jeng Yanti adalah psikolog-dosen di FK UGM, dan jeng Titik adalah dosen di FISIPOL UGM, dia pakar pollitik Timur Tengah. Keduanya asli Yogyakarta.

Jeng Yanti yang putri seorang Kolonel TNI AD, seorang dokter yang pernah menjabat sebagai Kepala Kesehatan Kodam Diponegoro Jawa Tengah dan Kodam Hasanudin Sulawesi Selatan (jaman pemerintahan Suharto dulu) - menujukkan klinik psikologi nya yang terletak di jl. Juwadi Kotabaru Yogyakarta, di kediaman mendiang neneknya yang asri, bangunan Belanda yang masih terawat dengan baik. klinik ini bernama Omah Perden sebuah lembaga pengembangan diri dari komunitas “Kemuning Kembar” dimana dia jadi ketuanya. Omah berarti rumah dan Perden dari kata Jawa “Perdi” yang artinya “diwulang wuruh amurih becike, diwanuhake nindakake tata pranoto kang becik” artinya diajarkan dan dibiasakan untuk melalukan sesuatu yang baik.

Jeng Yanti membuat pelatihan bagi ibu-ibu muda (yang tidak muda juga ada) bagaimana mengasuh balita dengan tradisi Jawa. Kegiatannya berdasar ilmu psikologi modern dengan memperhatikan tradisi budaya nusantara khususnya Jawa sebagai dasar dari media penyampaiannya. Dia juga menunjukkan pada saya Buku Panduan Pola Asuh Balita Berbasis Tradisi Jawa yang diterbitkan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dimana dia sebagai salah satu Tim Ahlinya.

Jeng Yanti sangat sibuk kegiatannnya maklum disamping sebagai dosen UGM, dia juga Ketua Ikatan Psikologi Klinis Indonesia dan menaruh perhatian pada bagaimana melestarikan budaya Jawa dengan cara melakukan pelatihan-pelatihan pada ibu-ibu, misalkan ketika seorang ibu bercengkerama dengan anak balitanya sambil duduk atau ditempat ayunan harus disertai nembang (melagukan) nyanyian tradisional Jawa Tak Lelo Lelo Le Dung atau ketika ibu memijiti balita diiiringi dengan lagu Sluku Sluku Batok. Pendeknya tradisi Jawa dari mulai ibu hamil, melahirkan dan mengasuh anak diajarkan. Dalam melakukan kegiatannya ini Yanti dibantu 2 dokter ahli syaraf, 15 psikolog dan beberapa edukator.

Ketika saya tanyakan kenapa dasar kegiatannya itu budaya Jawa, Yanti mengatakan bahwa dia sebagai orang Jawa Yogya khawatir suatu saat budaya Jawa itu hilang dan generasi muda Jawa tidak mengerti tentang bagaimana berbahasa Jawa. Karena itu mau tidak mau harus dilestarikan. Saya lalu ingat ada ilmuwan Amerika Serikat yang dengan susah payah pergi ke dusun terpencil di Nepal di kaki gunung Himalaya hanya untuk bertemu dengan dua penutur kata bahasa lokal yang akan punah (apalagi kalau dua orang ini meninggal dunia). Ilmuwan AS ini berupaya melestarikan bahasa lokal itu dari kepunahan. Saya juga meng-amini kekhawatiran jeng Yanti soal generasi muda Jawa tidak faham bahasa Jawa karena saya pernah dipanggil mahasiswa saya dengan kata “sampeyan”. Karena itu betul kekhawatiran Yanti tentang punahnya budaya Jawa di keluarga.

Sementara itu ditempat terpisah Dr. Titik Mutia disela-sela diskusi dengan saya soal politik Indonesia dan Timur Tengah - menceritakan cucunya yang minta di bacakan cerita menjelang tidur, dan Titik menawarkan cerita Gatotkaca, cucunya menolak dan meminta dibacakan cerita dari barat. Namun pada akhirnya cucunya bersedia mendengarkan cerita Gatutkaca dari eyang putrinya sampai tertidur lelap.

Baik Dr. Yanti maupun Dr. Titik mengatakan bahwa kita tidak menolak hal-hal positif dari luar negeri namun budaya luhur bangsa sendiri tidak boleh ditinggalkan dan dilupakan dan harus diajarkan pada generasi muda bangsa ini.

Dr. Yanti mengatakan “mas saya bukan Jawa sentris; malahan saya berharap di kota-kota, di propinsi-propinsi lain ada lembaga seperti ini yang mengajarkan budaya lokal nya, kearifan lokal nya masing-masing kepada keluarga dan anak-anak nya agar budaya nusantara ini lestari”.

Semoga harapan dia tercapai.

Pilih BanggaBangga58%
Pilih SedihSedih8%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

'Tetanggamu adalah Pasarmu' Sebelummnya

'Tetanggamu adalah Pasarmu'

Benteng  Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo Selanjutnya

Benteng Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo

Ahmad Cholis Hamzah
@achamzah

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.