Belajar Tangguh Sejak Dini

Belajar Tangguh Sejak Dini

Ilustrasi © Unsplash.com

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Sebelum saya balik ke Surabaya setelah menghadiri The World Indonesianist Congress, saya diantar jeng Dr. Titik Mutia sowan (berkunjung) ke rumah pemimpin delegasi Indonesia (atau disebut “National Leader”) Program Pertukaran Pemuda ASEAN – Jepang tahun 1982 yang saya dan jeng Titik ikut - namanya bapak Suhardo. Maklum saya sudah 36 tahun sejak program itu belum pernah bertemu beliau. Alhamdulillah, kami bertemu dirumah beliau yang asri di perkampungan khas Yogyakarta. Beliau sudah berumur 86 tahun, tidak bisa melihat karena glukoma dan katarak tapi masih ingat saya dan jeng Titik. Beliau didamping istri setia beliau Bu Mamik, mantan guru dan wasit olahraga serta pernah bertugas di Bandung, Jakarta bahkan ke Korea Selatan.

Seperti yang saya kemukakan di artikel pertama catatan perjalanan saya ini bahwa Yogyakarta banyak memberikan pelajaran kehidupan bagi saya, dan kali ini pelajaran itu dari bu Mamik. Kepada kami berdua beliau mengungkapkan keprihatinannya tentang ketangguhan anak-anak jaman sekarang dengan memberi contoh kegiatan perkemahan atau camping. Bu Mamik menjelaskan camping masa lalu anak-anak dididik merasakan kerja keras di area perkemahan, merasakan bagaimana mandi di sungai, bagaimana mencuci sepatu dan baju yang terkena lumpur, merasakan meniup-niup dedaunan kering agar mendapatkan api agar dapat makan di perkemahan itu. “Lha anak-anak sekarang makan di perkemahan dari catering..!!!” kata bu Mamik dengan mimik serius seorang pendidik. Anak seharusnya diajarkan hidup keras dan disiplin sejak dini serta sopan terhadap guru, biarkan mereka main bola dengan baju kotor agar mereka bersosialisasi dengan teman-temannya- kata beliau lagi.

Saya lalu membayangkan kehidupan nyata anak-anak dikota yang diantar orang tuannya naik mobil bila pergi ke sekolah. Akibatnya sering terjadi kemacetan panjang di jalan depan sekolah karena satu anak diantar satu mobil. Anak-anak itu turun dari mobil persis didepan pintu sekolah. Sebaliknya kedua cucu saya yang sekarang sekolah di Hiroshima Jepang setiap hari jalan kaki sekitar 2 km dari apartemennya ke sekolah. Dulu di Malang mereka diantar mamanya ke sekolah, sekarang mereka bersama-sama murid-murid Jepang dan Indonesia berjalan kaki dengan membawa tas punggung yang berat. Ya sistim pendidikan di Jepang mengajari anak-anak menjadi manusia yang “tough” atau tangguh.

Tentu pendapat saya tadi sangat subyektif karena saya menggunakan contoh anak-anak kita yang diantar mobil itu di perkotaan. Tapi kalau kita melihat kenyataan di daerah pedesaan dan pulau terpencil, kita menyaksikan ketangguhan anak-anak kita yang berjalan berkilo-kilo meter, naik turun lembah dan masuk kedalam sungai agar dapat menuju sekolah. Mereka ini sudah tangguh sejak dini meskipun ketangguhannya ini akibat dari terbatasnya infrasruktur. Namun minimal dengan berbagai keterbatasan, anak-anak kita itu betul-betul tanggung sejak awal.

Diatas semua itu, saya setuju dengan nasihat luhur bu Mamik dari Yogyakarta ini bahwa kita harus mendidik anak-anak untuk merasakan kerja dan hidup keras agar tidak manja.



Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Agar Budaya Jawa Tidak Hilang Ditelan Masa Sebelummnya

Agar Budaya Jawa Tidak Hilang Ditelan Masa

Benteng  Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo Selanjutnya

Benteng Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo

Ahmad Cholis Hamzah
@achamzah

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.