Ragam Perbedaan Pingitan yang Dilakukan Berbagai Suku di Indonesia

Ragam Perbedaan Pingitan yang Dilakukan Berbagai Suku di Indonesia

Ilustrasi Perempuan Indonesia dalam masa pingitan | Foto: nihaoindo.com

Salah satu adat istiadat orang Indonesia yang terkenal khususnya pada perempuan yang beranjak dewasa adalah masa pingitan. Dalam berbagai suku di Indonesia ternyata pingitan tak selalu dilakukan dengan cara yang sama.

Ragam budaya yang tak mempertemukan perempuan dengan orang-orang luar tersebut pun dilakukan oleh berbagai suku yang ada di Indonesia.

Pingitan

Proses siraman yang juga dilakukan dalam rangkaian pernikahan Jawa

Tradisi pingit yang paling dikenal masyarakat umunya adalah yang dilakukan oleh Suku Jawa. Tradisi tersebut sudah dilakukan sejak lama. Pada zaman dahulu, lama waktu pingit yang dilakukan dalam adat Jawa berkisar satu hingga dua bulan, namun seiring berjalannya waktu lama pingitan pun disesuaikan dengan perkembangan zaman dan dilakukan dengan cukup singkat.

Selama masa pingit calon mempelai perempuan tak boleh keluar rumah atau bertemu orang lain bahkan calon pengantin prianya. Masa tersebut juga menjadi waktu untuk melatih diri dan merawat diri sebelum resmi menjadi istri.

Karia

Adat Karia yang sedang berlangsung | Foto: sindonews.com

Tradisi ini dilakukan oleh Suku Muna yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Pingitan yang dilakukan oleh masyarakat setempat tak terbatas untuk perempuan yang akan menikah saja, tapi juga untuk mereka yang telah beranjak dewasa.

Prosesinya dilakukan seusai dengan waktu yang disekpakati yang umumnya memakan waktu selama sehari semalam hingga empat hari empat malam. Dalam kurun waktu tersebut anak perempuan ditempatkan di suatu ruangan tanpa penerangan atau perlengkapan tidur. Selama itu pula mereka diberi nasihat dan petuah.

Dipiare

None mantu dalam masa dipiare| Foto: budayajawa.id

Dipiare atau pingitan yang dilakukan Suku Betwai dahulu bisa dilakukan hingga sebulan lamanya, namun untuk mengikuti zaman prosesinya dipersingkat dan sekarang umumnya hanya dilakukan selama satu hingga dua hari.

Dalam masa dipiare, calon pengantin perempuan yang disebut sebagai 'none mantu' akan didampingi oleh seorang tukang piare. Dalam waktu itu tukang piare harus memperhatikan kegiatan, kesehatan dan merawat kecantikan none mantu. Umumnya none mantu akan melakukan berbagai perawatan dari diet, minum jamu hingga lulur. Beberapa pantangan harus dilakukan oleh none mantu.

Posuo atau Bakurung

Remaja perempuan yang sudah cukup umur untuk mengikuti Pouso | Foto: wadaya.rey1024.com

Ritual pingitan yang dilakukan Suku Buton ini merupakan sebuah penanda transisi bagi perempuan yang akan menjadi dewasa. Prosesinya dilakukan dalam tiga tahap dalam sebuah ruangan yang disebut Suo.

Tahap awal dilakukan dengan pemberian asap kemenyan pada peserta dan pengumuman dimulainya posuo pada keluarga.

Tahap kedua dilakukan setelah lima hari, yaitu dengan merubah penampilan dan arah tidur peserta.

Pada tahap akhir, tepatnya di malam kedelapan peserta pun dimandikan dengan alat khusus bernama wadah bhosu dan selanjutnya didandani layaknya wanita dewasa.

Bapingit

Perempuan Suku Banjar yang dipingit setelah menikah | Foto: rizmarizma.blogspot.com

Berbeda dengan masa pingitan lain, bapingit yang dilakukan Suku Banjar berlangsung setelah seorang perempuan resmi menikah dengan pasangannya. Selama melakukan bapingit seorang perempuan tak boleh bertemu dengan suami atau pemuda lainnya.

Umumnya masa tersebut juga menjadi waktu seseorang dalam masa bapingit untuk menamatkan alquran dan mempersiapkan perkawinan orang lain.

Dipingit dan puasa

Calon pengantin perempuan Sumbawa yang siap menikah setelah dipingit |foto: dwiasmaranti.wordpress.com

Calon pasangan pengantin di Sumbawa umumnya melakukan prosesi pingitan setelah bertukar cincin atau bertunangan. Selama masa tersebut kedua calon mempelai tak boleh saling bertemu dan harus berpuasa.

Pada hari terakhir masa pingitan calon pengantin pun tak diperbolehkan untuk mandi dengan tujuan agar tak turun hujan saat acara pernikahan dilangsungkan

Sumber: hipwee.com | okezone.com | budayajawa.id | inilahsultra.com | pernikahan.asia

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Menyaksikan Keanggunan Bangau di Desa Petulu Sebelummnya

Menyaksikan Keanggunan Bangau di Desa Petulu

Jelang Akhir Tahun, FPMSI Akan Gelar Diskusi Bersama Warganet Menuju Indonesia Maju Selanjutnya

Jelang Akhir Tahun, FPMSI Akan Gelar Diskusi Bersama Warganet Menuju Indonesia Maju

Ariefiani Harahap
@ariefiani_elf

Ariefiani Harahap

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.