Keunikan Pasar Karetan, dari Tidak Memakai Uang untuk Jual-Beli hingga Prestasi di Luar Negeri

Keunikan Pasar Karetan, dari Tidak Memakai Uang untuk Jual-Beli hingga Prestasi di Luar Negeri

Area untuk pementasan juga tersedia di Pasar Kareta, seperti untuk Live Music dan Story Telling © Jateng Pos

Kangen dengan jajanan tempo dulu? Atau dengan permainan tempo dulu?

Kawan GNFI bisa bernostalgia di pasar unik yang berada di tengah kebun karet. Pasar tersebut bernama Pasar Karetan yang berada di desa Meteseh kecamatan Boja Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Pasar Karetan ini hanya buka setiap hari Minggu mulai pukul 6 pagi hingga 11 siang. Lokasinya pun tidak cukup sulit untuk dijangkau karena dapat diakses melalui aplikasi penunjuk arah. Untuk menuju Pasar Karetan, wisatawan dapat menempuh dengan kendaraan pribadi dengan waktu tempuh 1 jam dari arah Simpang Lima Semarang dan sekitar 30 menit dari arah Bandara Ahmad Yani Semarang.

Nah, keunikan lain dari Pasar Karetan yakni, para pedagang hanya menjual makanan dan minuman tradisional seperti gethuk, tiwul, pecel, gemblong, dan lain-lain yang disajikan menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Semakin unik dengan para pedagang yang memakai pakaian adat ketika berada di stand jualan mereka. Menjaga kelestarian alam adalah salah satu konsep yang diterapkan oleh penggagas Pasar Karetan yakni masyarakat sekitar yang tergabung dalam Raja Pendapa dan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah. Oleh sebab itu, wadah makanan dan minuman digunakan dari bahan yang ramah lingkungan seperti batok kelapa yang digunakan sebagai mangkuk. Selain itu, pengunjung juga harus memarkirkan kendaraannya di lokasi yang sudah disiapkan untuk menjaga lokasi Pasar Karetan dari polusi udara akibat asap kendaraan.

Pasar Karetan sudah berjalan 2 tahun terhitung sejak tahun 2017. | Foto : Berita Jateng

Untuk membeli makanan dan minuman yang dijual di Pasar Karetan, wisatawan tidak dapat menggunakan uang rupiah untuk transaksi jual beli. Hal tersebut dikarenakan alat untuk bertransaksi di Pasar Karetan menggunakan Girik. Girik adalah koin kayu yang nilainya setara dengan Rp 2.500,00, Rp 5.000,00, dan Rp 10.000,00. Sehingga, wisatawan harus menukarkan uangnya terlebih dahulu ke tempat penukaran uang yang sudah tersedia di Pasar Karetan untuk bisa berbelanja aneka makanan dan minuman. Harga makanan dan minuman pun terbilang sangat terjangkau, terlebih cara penyajian yang ramah lingkungan serta nuansa sejuk yang hadir dari tengah kebun karet sangat memanjakan hati.

Nuansa tempo dulu tidak hanya tersajikan dari makanan dan minuman tradisional yang dijual oleh para pedagang. Namun, di Pasar Karetan juga tersedia wahana permainan untuk anak-anak. Bukan permainan berbasis digital seperti game online, justru permainan yang disediakan adalah permainan tradisional yang dapat melatih fisik dan motorik anak seperti ayunan, egrang hingga holahop yang terbuat dari bambu. Selain permaian, sekeliling Pasar Karetan juga dipenuhi hiasan-hiasan yang ciamik yang cocok dijadikan sebagai latar berselfie-ria. Pohon-pohon karet dihias dengan kain warna-warni sehingga memberikan kesan ‘hidup’ di tengah kebun karet.

Wahana permainan tidak hanya dinikmati oleh anak-anak, namun orang dewasa turut ingin mencobanya. | Foto : SuaraJatim.co.id

Fasilitas yang disediakan Pasar Karetan terbilang lengkap yakni mulai dari toilet, pendopo, mushola serta kereta odong-odong. Kereta odong-odong ini nantinya digunakan untuk mengantar wisatawan yang datang setelah memarkirkan kendaraannya di lapangan. Sehingga, wisatawan tidak perlu berjalan sejauh 500 hingga 800 meter untuk mencapai ke Pasar Karetan, karena kereta odong-odong akan mengantar wisatawan ke Pasar Karetan secara gratis. Menarik bukan?

Tidak hanya unik dan indah, Pasar Karetan juga pernah meraih prestasi, lho. Pada awal tahun ini, tepatnya pada 18 Januari 2019, Menteri Pariwisata periode sebelumnya, Arief Yahya menerima penghargaan atas penobatan Pasar Karetan sebagai Community Based Tourism 2019. Penghargaan tersebut diserahkan di Vietnam tepatnya di FLC Grand Halong Bay Resort. MenPar Arief Yahya mengungkapkan bahwa penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa komunitas GenPI Jawa Tengah mampu membangun destinasi digital pertama di Indonesia.

Nah, jadi ingin ke Pasar Karetan? Usahakan kawan GNFI berangkat pagi, ya. Karena pasar yang hanya buka seminggu sekali ini selalu ramai dan jajanan yang dijual cepat habis di borong oleh wisatawan. Sayang, jka sudah jauh-jauh ke Pasar Karetan tetapi tidak sempat menjajal makanan dan minuman yang dijajakan para pedagang.


Catatan kaki: Indonesia.go.id | suara.com | travelingyuk

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mengenal Sosok Dalang Cilik dari Kebumen Sebelummnya

Mengenal Sosok Dalang Cilik dari Kebumen

7 Gunung yang Menjadi Bagian dari 7 Keunikkan Kota Tomohon Selanjutnya

7 Gunung yang Menjadi Bagian dari 7 Keunikkan Kota Tomohon

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

Salam. Panggil saja Widi.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.