Batik Ciprat, Media Pemberdayaan Kaum Disabilitas di Berbagai Daerah

Batik Ciprat, Media Pemberdayaan Kaum Disabilitas di Berbagai Daerah

Batik Ciprat © YouTube

Sudah bukan rahasia jika batik adalah salah satu ikon Indonesia. Batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi telah dikukuhkan UNESCO pada 2 Oktober 2009, oleh sebab itu setiap tangal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Indonesia memiliki banyak sekali motif batik yang didasarkan pada daerah penghasil batik serta pesan-pesan luhur yang hendak disampaikan melalui goresan malam yang dituangkan di atas kain mori.

Salah satu jenis batik yang ada di Indonesia adalah Batik Ciprat. Batik dengan cara menyipratkan malam di atas kain mori ini memiliki motif yang abstrak dan berbeda di setiap kainnya. Namun, ada kisah inspiratif di balik Batik Ciprat yang kini laku di pasaran. Beberapa daerah di pulau Jawa menggunakan metode pembuatan Batik Ciprat sebagai media pemberdayaan terhadap orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.

Berikut adalah daerah-daerah dengan kelompok disabilitas pembuat Batik Ciprat.

  1. SLBN Semarang
Siswa SLBN Semarang membuat batik | Foto : Tribun

Digagas oleh salah satu guru di SLBN Semarang, Batik Ciprat muncul sebagai bentuk kreatifitas siswa SLBN. Pada tahun 2011, salah satu guru ketrampilan SLBN Semarang sedang melatih siswa penyandang tuna grahita untuk membuat batik menggunakan canting, namun para penyandang tuna grahita tersebut mengalami kesulitan dan mereka malah mencipratkan serta meneteskan malam di atas kain mori secara acak. Hasil cipratan tersebut ternyata menjadi motif yang menarik hingga akhirnya menjadi Batik Ciprat. Hingga saat ini pun Batik Ciprat dengan nama ESELBENS Poenya terus diproduksi dan laku keras di pasaran hingga turis mancanegara.

  1. Desa Simbatan – Magetan
Hasil Kain Batik Ciprat Langitan | Foto : Kampung Peduli

Maryani adalah sosok di balik Batik Ciprat yang menjadi seragam wajib ASN di Kabupaten Magetan. Seorang guru SLB di kecamatan Kawedaan ini pantang menyerah mengajak dan meminta ijin kepada orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Maryani melatih sebanyak 21 anak penyandang disabilitas untuk membuat Batik Ciprat di desa Simbatan. Upaya yang ia tekuni sejak tahun 2015 tersebut kini berbuah manis dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Batik karya Maryani bersama anak asuhnya dinamakan Batik Ciprat Langitan. Maryani berharap agar masyarakat tidak memandang sebelah mata pada anak-anak penyandang disabilitas, karena mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk dapat berkarya dan berbaur dengan masyarakat.

  1. Desa Giripeni – Kulon Progo
Batik Ciprat karya penyandang disabilitas yang tergabung dalam KSM Giri Kasih | Foto : Indonesia.go.id

Kelompok Swadaya Masyarakat dengan nama Giri Kasih dari desa Giripeni kabupaten Kulon Progo Yogyakarta ini memiliki 22 penyandang disabilitas sebagai pembatik Batik Ciprat. Kegiatan yang dimulai sejak tahun 2018 ini bekerja sama dengan berbagai pihak seperti UMKM dari Temanggung sebagai partner pemasaran. Motif yang menjadi favorit para pembeli adalah motif Angka 8 yang dihasilkan dari cotekan bambu serta motif Geblek yang dipesan sebagai seragam oleh salah satu PAUD di Kulon Progo serta seragam di sebuah kantor. Adanya pemberdayaan untuk penyandang disabilitas ini membawa dampak positif bagi penyandang disabilitas itu sendiri serta warga Kulon Progo pada umumnya.

  1. Desa Banyuasin – Purworejo
Batik Ciprat karya Yayasan DIRI | Foto : Fajar

Melalui Yayasan Difable Intelektual Restu Ibu (DIRI), Darminah bersama beberapa warga desa Banyuasin menjadi ibu asuh dari belasan penyandang disabilitas. Darminah dan ibu asuh lainnya ingin mengubah pandangan masyarakat tentang orang dengan kebutuhan khusus. Pemberdayaan kaum disabilitas melalui Batik Ciprat yang ia mulai 4 tahun lalu berhasil membuat produk Batik Ciprat karya kaum disabilitas dikenal oleh berbagai kalangan.

  1. Desa Resapombo – Blitar
Kampung Peduli Disabilitas Blitar | Foto : cekstok.com

Melalui Kelompok Swadaya Masyarakat Harapan Mulia, Rita Sukirni Panca Riani menjadi pendamping penyandang tuna grahita untuk membuat Batik Ciprat. Upaya pemberdayaan penyandang disabilitas di desa Resapombo sudah berlangsung 2 tahun dan menghasilkan banyak motif serta produk yang laku di pasaran. Selain itu, Batik Ciprat karya penyandang disabilitas KSM Harapan Mulia juga menerima pesanan motif dari para konsumen, yang nantinya akan ada pengarahan untuk pembuatan motif. KSM Harapan Mulia pun kerap kali didatangi oleh siswa-siswa dari berbagai sekolah sebagai kegiatan edukasi lapangan.

Daerah-daerah di atas adalah sedikit dari sekian banyak daerah yang menggunakan metode Batik Ciprat sebagai media pemberdayaan para penyandang disabilitas. Masih ada berbagai daerah lain yang menggunakan metode yang sama sebagai dukungan dan kepeduliannya terhadap para penyandang disabilitas. Memiliki kekurangan bukan menjadi batas diri untuk berkarya. Dukungan dari keluarga dan masyarakat sangat diperlukan karena setiap orang meskipun memiliki kebutuhan khusus berhak mendapat kesempatan yang sama untuk berkarya dan bermasyarakat.


Catatan kaki: indonesia.go.id | jatimtimes | kompas | okezone

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Di Tahun 2020 Masyarakat Banten Akan Bisa Nikmati KRL Sebelummnya

Di Tahun 2020 Masyarakat Banten Akan Bisa Nikmati KRL

66 dari 99 Km Tol Balikpapan-Samarinda Siap Beroperasi Selanjutnya

66 dari 99 Km Tol Balikpapan-Samarinda Siap Beroperasi

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

Salam. Panggil saja Widi.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.