Belajar Toleransi pada Cina, dari Buku Kurma di Ladang Salju

Belajar Toleransi pada Cina, dari Buku Kurma di Ladang Salju

Sampul buku Kurma di Ladang Salju © Arina UJ

Saya mulai dari kalimat, pesan perdamaian dari Harbin, Cina. Buku ini menceritakan tentang catatan rihlah ilmiah dari bapak Ali Romdhoni selama di Harbin, Cina. Ada banyak hal menarik yang bisa dikulik dari buku ini.

Penulis mencoba mengurai segala kompleksitas dari sisi Harbin. Mulai dari kultur/budaya, tradisi, sosial, kesejarahan, bahkan sampai pada ranah politik kebangsaan.

Di bab-bab awal kita disuguhkan tentang pembahasan mengenai tradisi literasi masyarakat Cina. Menariknya di sini adalah ketika penulis menjabarkan tentang cara masyarakat Cina memaknai pengetahuan yang mereka miliki.

Masyarakat Cina dikenal dengan rahasia simbol, penyebutan tentang berbagai istilah asing beserta penyerapannya. Sampai pada titik pembelajaran huruf Han Zi yang jumlahnya ribuan.

Dari Han Zi inilah anak-anak di Cina sejak kecil dilatih tentang arti mengerjakan kerumitan-kerumitan hidup, sehingga nanti ketika dewasa mereka telah benar-benar siap menghadapi pertarungan global dan tantangan dunia bisnis.

Mereka sudah dibekali karakter diri sejak dini. Dilatih etos kerja yang kuat, kerja keras, pantang menyerah mematahkan kesulitan, kedisiplinan, ketelitian tingkat tinggi dan efesiensi menggunakan berbagai benda.

Rasulullah sendiri mengajak kita untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Shin atau Cina.

Selanjutnya adalah tentang tradisi musim panas di Cina yang biasanya berada pada bulan Juni-Agustus. Mereka memiliki tradisi berkunjung pada satu tempat. Semisal pantai, taman kota, Songhua River Bridge serta Heilongjiang Forest Botanical Garden.

Di sinilah pemandangan unik tercipta. Masyarakat Cina walau mengunjungi taman bunga yang begitu luas, tidak ada satupun yang memetik, atau menginjak pemandangan yang disuguhkan di depannya.

Mereka sangat pandai menjaga diri dan merawat sekitarnya. Mereka tahu untuk mendapatkan pemandangan indah itu, harus menunggu rentang musim satu tahun berikutnya.

Di musim libur pun banyak dari masyarakat Cina yang menghabiskan waktu di perpustakaan. Dari jam 8 pagi sampai 10 malam. Bahkan mereka istirahat 3-4 jam saja dalam sehari.

Mereka juga terbiasa membawa perbekalan sendiri ketika di perpustakaan, sehingga tidak ada istilah buka tutup pintu perpustakaan untuk keluar ke kantin.

Di perpustakaan juga sudah disediakan air mineral untuk mereka yang haus dan boleh tidur untuk melepas lelah sesaat. Mereka juga sangat menghargai orang yang sedang membaca di sampingnya, sehingga tidak ada suara yang terdengar kecuali bunyi pena jatuh dan kertas buku yang dibolak-balik.

Ada nilai yang bisa dipetik juga perihal kebiasaan masyarakat Cina yang menggunakan sumpit di setiap kesempatan makan. Ada nilai-nilai khusus di ruang makan yang selalu dihadirkan masyarakat Cina. Tentang kebersamaan, kolaborasi.

Terlebih budaya makan cepat mereka yang menadakan bahwa cara kerja mereka sangat gesit dan memiliki motivasi kerja yang sangat tinggi.

Hal menarik lain yang dikupas dalam buku ini adalah tentang konsep bertuhan masyarakat Cina. Diksi Tuhan yang coba ditampilkan dalam Bahasa Mandarin bernama 'Sangdhi'.

Mereka secara eksplisit banyak diperbincangkan tidak menampilkan wajah berketuhanan namun secara implisit mereka yakin ada zat yang lebih superior ketimbang dirinya.

Mereka menyepakati tradisi atau nilai-nilai luhur yang diwariskan pendahulunya. Konsep Taoisme, Konsufiunisme, walau pada perkembangannya sebagian mereka berbaur dengan agama-agama samawi (Islam, Kristen) dan agama lain. Kalau kita telisih, ini mirip-mirip seperti tradisi kejawen di masyarakat Jawa.

Kita belajar dari masyarakat Cina yang negerinya mendapat sebutan 'Tirai Bambu'. Mereka sangat rapat dan kuat menjaga akar tradisi. Dari kelihaian meluncurkan strategi menghadapi perang sampai perdagangan dengan jalan diplomasi bahkan dari segi penggunaan kultur bahasa, mereka lebih percaya diri dengan bahasa yang mereka miliki.

Dengan jumlah Han Zi yang ribuan itu, serasa tidak ada waktu untuk belajar bahasa orang lain. Ini menjadi renungan kita, bangsa Indonesia yang kaya dengan berbagai bahasa bahkan adat istiadat dan semua surga seakan ditumpahkan di negeri kita, namun yang kita fokuskan adalah perjamuan dari budaya asing.

Masyarakat Cina juga mengajarkan kedermawanan melalui Dewa Zaoshen. Filosofi mereka adalah tentang banyaknya abu dapur di rumah dan ternyata mereka menciptakan petasan menjelang perayaan musim semi ada doa yang terselip di sana, di antara jenis dan bunyi petasan yang dihadirkan.

Masyarakat Cina juga sangat pandai mengenal strategi pembelajaran sejarah pada anak-anaknya agar tidak lupa dengan leluhurnya. Hal ini berkenaan dengan ziarah kubur lalu dilanjutkan mengunjungi museum. Tradisi ziarah kubur semacam ini juga kemudian diadaptasi pada masyarakat kita.

Model pendidikan di Cina juga sangat sistematis. Bahkan di dalam lingkup keluarga, mereka tidak hanya berperan sebagai orang tua si anak, namun juga sebagai teman diskusi, teman ngobrol dan role model bagi mereka.

Penerapan nilai-nilai tata krama dan cara menghargai perbedaan semua umat manusia sangat mereka pegang dan diajarkan pada anak-anaknya.

Saya pribadi tertarik pada urain buku ini di bab tentang kisah unit 731, bekas perang Ping Fang di pinggiran Kota Harbin yang juga menjadi laboratorium ilegal selama perang dunia dua.

Banyak orang menjadi proyek uji coba virus penyakit dan gas beracun hidup-hidup. Melibatkan semua usia, dari anak-anak sampai ibu hamil juga. Luka Cina terhadap Jepang ada di sini.

Hal ini mejadi pembelajaran sekali bahwa bangsa lain juga mengalami hal serupa seperti keadaan pada masa negeri kita terjajah. Untuk lebih detailnya wajib baca buku yang menarik ini.

Pada pembahasan tentang Islam di Cina. Mungkin masih menjadi minoritas, namun mereka sangat respek di tengah aungan dunia terhadap Islamophobia. Bahkan di upacara pernikahan mereka yang lekat dengan tradisi minum bir, mereka sangat menghormati saudara muslim dengan menyediakan makanan khusus halal.

Beberapa waktu lalu saat ada forum berdiskusi langsung dengan bapak Ali Romdhoni, ada tradisi unik bagi muslim Cina. Azan di luar masjid, yang ini belum kita jumpai di Indonesia.

Beliau sendiri juga sangat merasakan perbedaan iklim dengan tata cara peribadahan di negeri sendiri. Seperti pengaplikasian 'Maskh Al Khuffain' di dalam salat. Ini menjelaskan bahwa Islam hadir dengan ramah, penuh rahmah dan tidak membebani pemeluknya.

Bahkan untuk urusan busana, kita berkaca pada Cina yang sangat mengondisikan diri dengan iklim dan cuaca. Tidak langsung disangkutpautkan pada doktrin agama.

Islam juga penuh toleransi. Mungkin saudara-saudara kita ada yang masih memaknai bahwa makan harus benar-benar halal berikut cara peracikannya sebagai contoh restoran-restoran halal di Cina.

Namun di dalam fikih sendiri khususnya mazhab syafi'i menjelaskan bahwa kita cukup membaca bismillah ketika kita tidak tahu prosesnya. Kecuali hal yang sudah disepakati untuk diharamkan dalam Islam semisal daging babi dan khamr/segala yang memabukkan.

Hal ini tidak lain karena menghindari unsur kefasikan, syakh/keragu-raguan dan unsur kesehatan untuk mengantisipasi zat berbahaya di dalamnya seperti cacing pita dan sebagainya.

Kita perlu banyak belajar dari Cina namun tetap menjunjung tinggi kearifan negeri sendiri. Beberapa tahun ini isu anti Cina menyeruak. Hal ini tidak lain adalah genderang yang dibawa orang-orang kurang mendapat cinta dan tidak bertanggung jawab.

Justru kita belajar dari nasionalisme yang dihadirkan Cina. Selama ribuan tahun mereka kokoh merawat tradisi dan menjalin kekeraban antar saudara Cina yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Orang-orang tua pun di Cina, pedagang sayur melek teknologi.

Hal ini menjadi renungan bersama. Banyak hal yang mesti kita pelajari dari negeri bernama Shin ini. Terlebih ketika kita menengok puncak peradaban tembok besar Cina. Di sanalah tersirat betapa leluhur mereka sangat menyiapkan diri untuk anak cucunya.

Lebih lengkapnya, bacalah buku ini. Di dalamnya kaya akan hazanah pengetahuan dan renungan mendalam bagi kita Bangsa Indonesia.

Mari seyogyanya kita jaga, karena Indonesia adalah rumah kita bersama. Saya tidak mau membahas sisi kekurangan dalam buku ini, karena setiap buku memiliki sisinya tersendiri untuk disuguhkan kepada pembacanya.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli50%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Sertifikasi Pra-Nikah, Perlukah Diterapkan di Indonesia? Sebelummnya

Sertifikasi Pra-Nikah, Perlukah Diterapkan di Indonesia?

66 dari 99 Km Tol Balikpapan-Samarinda Siap Beroperasi Selanjutnya

66 dari 99 Km Tol Balikpapan-Samarinda Siap Beroperasi

Arina Ulfatul Jannah
@arinauje9_

Arina Ulfatul Jannah

arinaulfatuljannah.wordpress.com

Berusaha membaktikan diri pada Tuhan dan Bangsa

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.