Brixlion, Mesin Penggerak Pada Jam Gadang yang Hanya Ada Dua di Dunia

Brixlion, Mesin Penggerak Pada Jam Gadang yang Hanya Ada Dua di Dunia

Jam Gadang Bukittinggi © Tripcetera

Kawan GNFI tahu tempat kelahiran wakil presiden pertama Indonesia, Moh. Hatta? Ya, Bukttinggi. Bukittinggi memiliki salah satu ikon yang selama ini dikenal masyarakat luas. Ikon tersebut adalah Jam Gadang yang menjadi ciri khas Bukittinggi, Sumatera Barat. Jam Gadang merupakan karya dari arsitek Jazid Radjo Mangkuto pada tahun 1926 yang merupakan hadiah dari Ratu Belanda pada masa pemerintahan Hindia Belanda untuk Rook Maker yang saat itu menjabat Sebagai Sekretaris Fort De Kock (Sekretaris Kota Bukittinggi).

Brixlion Mesin Penggerak Jam Manual | Foto : RIAU1.com

Nama Jam Gadang merupakan sebutan yang diberikan oleh masyarakat Minangkabau karena mengadaptasi bentuk jam tersebut yang besar. Arti ‘gadang’ dalam bahasa Minangkabau berarti besar, sesuai dengan bentuk jam tersebut yang selama ini menjadi pusat perhatian masyarakat, sehingga arti Jam Gadang adalah jam besar. Jam Gadang juga disebut-sebut menjadi kembaran Big Ben London, Inggris. Selain karena kemiripan antara bentuk fisik Jam Gadang dan Big Ben, namun juga karena penggunaan mesin penggerak yang digunakan pada Jam Gadang. Mesin yang bernama Brixlion adalah mesin penggerak manual yang dibuat oleh Bernard Vortmann yakni salah satu bangsawan Amerika Serikat. Brixlion hanya ada dua di dunia yakni hanya digunakan di Big Ben London dan Jam Gadang Bukittinggi.

Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng, tertera nama pabrik pembuat mesin tersebut, yakni Vortmann Relinghausen. Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa nama pembuat Brixlion atau mesin penggerak jam adalah Bernard Vortmann, nah nama belakang Vortmann merupakan identitas pemilik pabrik dan nama Recklinghausen adalah nama salah satu kota di Jerman yang menjadi tempat produksi Brixlion. Brixlion diproduksi pada tahun 1982.

Unik bukan?

Big Ben Londong, tempat di mana Brixlion digunakan selain di Jam Gadang Bukittinggi. | Foto : Radisson Travels

Ada beberapa keunikkan lain Jam Gadang di antaranya adalah bandul Jam Gadang hanya diganti satu kali sejak pertama kali dibangun, yakni saat terjadi gempa bumi 6,4 SR yang melanda Sumatera Barat pada tahun 2007. Bandul Jam Gadang putus akibat gempa. Selain itu, Jam Gadang merupakan penanda titik nol di Kota Bukittinggi dan perlu Kawan GNFI ketahui bahwa Jam Gadang tidak menggunakan besi penyangga dan adukan semen. Struktur bangunan Jam Gadang dibuat dengan bahan campuran kapur, pasir putih dan putih telur.

Kini Jam Gadang menjadi salah satu tempat wisata di Bukittinggi dan menjadi salah satu cagar budaya. Jadi, jika Kawan GNFI sedang berada di Bukitting jangan lupa untuk mampir melihat suasana vintage Jam Gadang, ya.


Catatan kaki: wikipedia | indonesiakaya

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih8%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi17%
Pilih TerpukauTerpukau25%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Beragam Infrastruktur Digital di Bandara Soetta Sebelummnya

Beragam Infrastruktur Digital di Bandara Soetta

Bersenyawa dengan Kukila: Harmoni Hidup antara Manusia dengan Kukila di Hutan Kemuning Selanjutnya

Bersenyawa dengan Kukila: Harmoni Hidup antara Manusia dengan Kukila di Hutan Kemuning

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

Salam. Panggil saja Widi.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.