Apa Salah dan Dosamu Sayang, Timnas Indonesia Kok Sulit Juara

Apa Salah dan Dosamu Sayang, Timnas Indonesia Kok Sulit Juara
info gambar utama

Di perhalatan SEA Games 2019 cabang sepak bola putra, Indonesia harus rela memberikan emas kepada Vietnam yang berhasil menggasak Garuda Muda dengan skor 3-0 di Stadion Rizal Memorial, Filipina.

Usai kalah dengan Vietnam di final, Indonesia memperpanjang rekor tak pernah juara selama 28 tahun dalam perhelatan SEA Games. Terakhir kali Indonesia juara pada tahun 1991.

Ada apa dengan sepak bola Indonesia? Dengan penduduk lebih dari 250 juta, terbanyak keempat di dunia dan terbanyak di kawasan Asia Tenggara, mengapa sulit mencari 11 pemain terbaik yang bisa memberikan sebuah medali?

Padahal, sepak bola menjadi olahraga yang paling banyak digemari di Indonesia. Harusnya dengan fakta ini Indonesia mampu mendominasi turnamen-turnamen yang skalanya regional seperti Piala AFF senior. Tapi, itu pun Indonesia tak bisa.

Tidak bisa dimungkiri kualitas sepak bola Indonesia seiring waktu tidak ada perkembangan yang signifikan.

Dulu kita bisa dengan mudah menang dengan skor besar melawan negara seperti Kamboja, Laos, Filipina, tapi sekarang untuk bisa memenangkan pertandingan melawan negara tersebut kita harus bermain matian-matian untuk mencari sebuah kemenangan.

Bahkan melawan Malaysia saja kita masih deg-degan. Baru kalau lawannya Brunei atau Timor Leste, wajah tegang terlepas dari para pemain dan pendukung.

Apa ada yang salah pada sepak bola negeri kita ini? Saat pemain masih di bawah umur 18 tahun, kualitasnya setara bahkan mengunguli pemain-pemain negara-negara kuat Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam. Tetapi saat pemain-pemain tersebut mulai beranjak dewasa, kualitasnya perlahan menurun

Penduduk yang banyak dan sepak bola menjadi olaharaga yang paling digemari, seharusnya menjadi potensi Indonesia sebagai negara dengan sepak bola yang maju. Namun, potensi tersebut seakan hilang dengan permasalahan-permasalahan yang ada sepak bola Indonesia.

Segudang masalah seperti liga dengan jadwal yang semrawut, suporter anarkis, fasilitas yang tidak merata, oknum-oknum pengatur skor, dan minimnya pelatih lokal berkualitas adalah PR yang harus diselesaikan.

Memang tidak ada yang instan untuk mencapai sebuah prestasi, jadi PSSI harus menyelesaikan permasalahan tersebut secara konsisten, bertahap, dan dengan jangka waktu yang rasional.

PSSI juga harus berinovasi dalam memberikan kebijakan dan program untuk kemajuan sepak bola Indonesia.

Federasi pimpinan Mochamad Iriawan ini bisa memulai pembenahan dari usia dini dengan program berjenjang yang konsisten, sampai pemain mentas di level pro.

PSSI sebagai induk sepak bola Indonesia juga harus mendorong klub-klub berbenah untuk menyelesaikan masalah internal. Peningkatan fasilitas, gaji dibayar sesuai waktu, dan berbagai masalah lainnya.

Peningkatan kualitas pemain muda juga harus diiringi dengan pembenahan klub menjadi sehat, agar saat pemain sudah dewasa kualitasnya tidak menurun.

PSSI tidak bisa berjalan sendiri untuk membangkitkan sepak bola Indonesia, maka mereka kudu menggandeng pemerintah. Duet ini harus memiliki visi dan misi untuk tujuan yang jelas dalam beberapa tahun ke depan, dan selalu bersinergi untuk menjalankan langkah-langkah demi mencapai visi dan misinya.

Mimpi dan harapan masyarakat Indonesia untuk juara Piala AFF dan bermain di Piala Dunia bukanlah sesuatu yang mustahil. Tapi kalau permasalahan-permasalahan tersebut tidak kunjung ada langkah-langkah konkret untuk diatasi, sampai kapanpun juara hanya akan jadi angan-angan belaka.

Bahkan mungkin sampai sepak bola dimainkan robot sekalipun.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FR
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini