Bergerak Bersama untuk Jendela Dunia

Bergerak Bersama untuk Jendela Dunia

Ilustrasi pendidikan anak Indonesia © belapendidikan.com

Daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) masih menjadi hambatan kemajuan Indonesia, terlebih dalam dunia pendidikan.

Permasalahan yang ada antara lain persediaan tenaga pendidik yang kurang, distribusi tidak seimbang, insentif rendah, guru yang kurang kompeten, dan ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang ditempuh, serta angka putus sekolah yang masih tinggi.

Berangkat dari sejumlah permasalahan di atas, pendidikan di daerah 3T memang perlu dikelola secara baik agar bisa sejajar dengan daerah lainnya.

Hal tersebut dapat terwujud dengan adanya kerja sama dari semua komponen, seperti halnya ketiga komunitas ini: Wahana Visi Indonesia, Ruang Berbagi Ilmu, dan Kitong Bisa!

Wahana Visi Indonesia (WVI) merupakan Yayasan Sosial kemanusiaan Kristen sejak 1998 yang bekerja untuk membuat perubahan berkesinambungan pada kehidupan anak, keluarga, dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.

WVI mendedikasikan diri untuk bekerjasama dengan masyarakat yang paling rentan tanpa membedakan agama, ras, etnis, dan gender.

Salah satu aktivitas WVI | Foto: wahanavisi.org

Melayani 52 wilayah di Indonesia, WVI mempunyai tujuan untuk menyukseskan program pendidikan pemerintah. Baru-baru ini, WVI berkolaborasi dengan daerah di Papua, yaitu Wamena dan Lani Jaya.

WVI juga memiliki beberapa program, salah satunya Community Review and Planning (CRP). Program tersebut melibatkan pemerintah dan masyarakat untuk menyusun program bersama yang sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing.

Tidak hanya WVI, Ruang Berbagi Ilmu (RuBI) pun ikut andil bergerak dalam mengatasi permasalahan 3T.

RUBI merupakan gerakan kerelawanan yang mengajak masyarakat dari pelbagai latar belakang untuk terjun langsung dalam usaha peningkatan kualitas penggerak pendidikan di seluruh Indonesia.

Dengan membawa visi untuk bersama mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas penggerak pendidikan di Indonesia, RuBI yang sudah berdiri sejak 2015 ini hadir di beberapa pelosok negeri, seperti Aceh Barat Daya, Kepulauan Yapen, Pegunungan Bintang, Kapuas Hulu, Fakfak, dan masih banyak lagi.

Aktivitas RuBI tahun keempat | Foto: ruangberbagiilmu.com

Dengan slogan “Bergerak Bersama, Berbagi Selamanya”, relawan RuBI ternyata tidak hanya orang-orang dari latar belakang yang konsen dengan pendidikan.

“Mereka merupakan orang-orang dengan kegelisahan yang sama tentang keadaan guru-guru yang ada di daerah 3T. Para relawan dilatih sesuai dengan kebutuhan di masing-masing daerah 3T,” Ujar Asta Dewanti, Collaboration Committe RuBI.

Selain dua komunitas di atas, Kitong Bisa! juga menjadi salah satu komunitas yang peduli dengan pendidikan di daerah 3T.

Kitong Bisa! didirikan sejak 2009 sebagai pusat pembelajaran di Serui, Papua, dengan tujuan untuk menginspirasi anak-anak Papua agar mendapatkan pendidikan yang lebih baik, menjadi sukses, dan keluar dari garis kemiskinan.

Kitong Bisa Learning Center Jayapura – Trauma Healing | Foto: kitongbisa.com

Tak hanya itu, Kitong Bisa! juga membangun tujuh learning center berbasis wirausaha yang mengembangkan anak-anak Papua untuk belajar berwirausaha, seperti di Serui, Fakfak, Yapen, Jayapura, Merauke, dan lainnya.

“Hanya pendidikan yang bisa merubah seseorang. Keinginan untuk belajar adalah modal utama untuk berubah. Orang tua anak-anak di Papua belum menjadikan pendidikan sebagai prioritas, maka dari itu hadirlah Kitong Bisa untuk mereka,” tutur Sonnya Marice selaku CEO Kitong Bisa!

Pada 2015, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia merekrut Kitong Bisa! melalui program beasiswa Australia Awards untuk memberikan pelatihan di 5 provinsi yang berfokus geografis, yaitu Aceh, NTT, NTB, Papua dan Papua Barat.

Pelatihan itu untuk meningkatkan kemampuan kaum muda di daerah tersebut untuk memulai inisiatif sosial agar dapat menyelesaikan masalah sosial di daerah mereka. Sebagai hasil dari program ini, 4 pusat pembelajaran lainnya dibentuk dan telah beroperasi hingga saat ini.

Tiga komunitas di atas merupakan tiga dari sekian banyak komunitas yang peduli dengan pendidikan daerah 3T di Indonesia. Semangat yang mereka punya dapat menjadi contoh untuk Kawan GNFI agar ikut berkontribusi pada dunia pendidikan.

Semoga pendidikan Indonesia dapat terus bergerak ke arah yang lebih baik ya!***

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih67%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ini Skema Tarif Tol Pertama di Kalimantan Sebelummnya

Ini Skema Tarif Tol Pertama di Kalimantan

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya Selanjutnya

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya

Dessy Astuti
@desstutt

Dessy Astuti

Literasi-kata.blogspot.com

Si penyuka buku, bakso, dan kucing.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.