Duka dalam Tarian Ma'badong

Duka dalam Tarian Ma'badong
info gambar utama

Mati, hal yang pasti datang bukan? Begitu pula bagi masyarakat Tana Toraja. Menurut mereka, kematian adalah peristiwa ketika jiwa seseorang akhirnya meninggalkan dunia ini, lalu memulai perjalanan panjang nan sulit ke Pooya (alam roh), tahap akhir dari akhirat, di mana jiwa akan bereinkarnasi.

"Misa' Kada di Po Tuo Pantan kada di Pomate", atau berarti "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" merupakan sebuah motto dari kabupaten Tana Toraja. Filosofis kata-kata sederhana, namun bermakna tersebut benar-benar tergambar oleh keharmonisan gaya hidup orang Toraja.

Salah satu contohnya pada saat acara kematian, pada saat itulah para kerabat, sanak famili berkumpul dan melakukan tarian Ma'badong. Sebuah tarian yang memiliki tujuan menghibur relasi yang ditinggalkan.

Ma'badong dilaksanakan oleh puluhan hingga ratusan orang. Dilakukan dengan melingkarkan barisan dengan jari tangan saling memegang erat antara satu sama lain. Lalu bergerak pelan sambil bernyanyi.

Tarian Ma'badong berisikan cerita kehidupan orang yang meninggal tersebut dan gambaran kesedihan karena ditinggal orang tercinta. Syair lantunan suara yang membentuk musik, mengutarakan relung hati bahwa walaupun mati, namun mereka yakin bahwa kehadiran orang yang meninggal tersebut masih berada di sekitar mereka.

Dokumentasi Ma'badong Toraja | Foto: localguidesconnect.com
info gambar

Ma'badong membuka nilai religius sekaligus rasa bersatu di antara sesama manusia. Setelah prosesi Ma'badong, jenazah akan dibawa dengan erong (wadah jenazah orang Toraja yang berbentuk seperti perahu atau kerbau). Orang Toraja menyakini bahwa di alam roh, orang mati memerlukan kendaraan.

Perayaan besar (Rambu solo) dijamukan kepada mereka yang datang untuk memberi penghormatan terakhir bagi si orang mati. Makanan, minuman bukan lagi masalah. Kebersamaan adalah sasarannya. Saling hadir dan mengisi kembali walaupun duka menyapa.

Ada yang bilang bahwa "di Toraja kematian itu mahal". Harus memiliki banyak kerbau untuk dikorbankan, harus memiliki banyak uang untuk mengadakan pesta kematian, dan lainnya.

Tapi bukankah itu tentang sebuah rasa kekeluargaan? Tamu disajikan hidangan, dan kerabat yang datang memberikan hadiah kepada keluarga yang ditinggal. Timbal balik yang menjadi kesatuan tercermin oleh masyarakat Toraja.

Dari hal tersebut mungkin kita dapat memetik sebuah narasi, bahwa kematian memang betul akan menjumpai siapapun. Namun kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah perjalanan baru.

Kematian juga bukan tentang siapa yang menghilang, tapi siapa yang tetap ada hingga akhir.

Referensi: id.wikipedia.org | kebudayaan.kemdikbud.go.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini