Sekarang, AI Bisa Dipakai untuk Konservasi Satwa

Sekarang, AI Bisa Dipakai untuk Konservasi Satwa

Platform Wildlife Insights © Google Indonesia

Banyaknya satwa langka di Indonesia membuat beberapa oknum memanfaatkannya. Ada berbagai macam kasus perburuan liar yang terjadi tahun ini, seperti pemburuan harimau Sumatra di Riau, hingga pemburuan satwa liar di Pulau Komodo.

Hal tersebut tentu menjadi suatu kasus yang perlu diwaspadai dan ditindak lebih lanjut demi keberlangsungan hidup satwa yang lebih baik. Untuk itu, Google bersama tujuh organisasi pelestarian lingkungan dunia salah satunya World Wide Fund for Nature (WWF) meluncurkan layanan Wildlife Insights.

Sebuah platform dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan itu diciptakan untuk membantu upaya konservasi para satwa.

Wildlife berteknologi AI | Foto: Youtube Google Earth

Untuk di Indonesia, Google berkerja sama dengan sejumlah organisasi pelestarian lingkungan dengan melakukan riset di Bukit Barisan, Sumatera Selatan, untuk mengetahui satwa mana yang terancam punah.

“Google ingin memperlihatkan bahwa peran AI dalam dunia konservasi memang penting. Di Sumatera Barat misalnya, ada sebuah organisasi, Rain Forest Connection yang juga menggunakan AI untuk mendeteksi suara gergaji yang ada di tengah hutan. Ini membantu mereka untuk mencegah praktik pembalakan hutan,” tutur Jason Tedjasukmana, selaku Head of Corporate Communication Google Indonesia dalam diskusi roundtable virtual bersama kawan media.

Menurut data dari WWF, di seluruh dunia, populasi mamalia, burung, ikan, reptilia, dan amfibi telah menyusut 60 persen sejak periode 1970-an.

Sebuah laporan global dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pun menemukan bahwa satu juta spesies binatang terancam punah saat ini. Bahkan, banyak di antaranya mungkin akan punah dalam satu dekade ke depan.

Dengan adanya teknologi tersebut diharapkan mampu untuk membantu menyelamatkan satwa-satwa yang selalu diburu dan terancam keberadaannya.

Untuk melindungi margasatwa dengan lebih baik, para peneliti dan ahli biologi mulai memanfaatkan kamera sensor gerak untuk memantau jumlah spesies di suatu wilayah beserta pola pergerakan dan aktivitas mereka.

Kamera sensor gerak mengambil sejumlah foto setiap kali dilewati hewan, yang kemudian dimanfaatkan peneliti untuk mempelajari lebih jauh keadaan populasi mereka.

Selama bertahun-tahun, ahli biologi telah menggunakan kamera sensor gerak untuk mempelajari binatang liar. Mesikpun begitu, mereka belum memiliki cara untuk membagikan dan memadukan data. Ini adalah masalah yang sangat besar dalam hal manajemen data.

Para konservasionis harus menghabiskan berjam-jam untuk menafsirkan citra dari kamera sensor gerak mereka, padahal banyak di antaranya hanyalah gambar kosong, menampilkan daun, atau menunjukkan sesuatu yang tidak bernilai.

Menurut Program Manager Google Earth Outreach, Tanya Birch, layanan Wildlife Insights memungkinkan para peneliti dan ahli biologi untuk memvisualisasikan berbagai jenis hewan dengan Google Maps.

"Dengan memanfaatkan Wildlife Insights, para peneliti dan ahli biologi dapat berfokus pada upaya pelestarian. Mereka dapat mengunggah data ke Google Cloud dan menganalisis citra dengan model AI pengidentifikasi spesies yang disediakan Google," ujar Tanya kepada kawan media melalui konferensi video di kantor Google Indonesia, pada Rabu (18/11) di kantor Google Indonesia, Jakarta.

Dengan Wildlife Insights, ahli biologi dapat mengelola, membagikan, menganalisis, dan memetakan data tentang margasatwa, kemudian mengambil keputusan yang lebih baik tentang spesies mana yang membutuhkan perlindungan beserta lokasinya.

Wildlife Insights menggunakan jaringan neural konvolusional multi-kelas yang didasarkan pada framework open source TensorFlow untuk melatih komputer mengenali sosok binatang dalam sebuah citra.

Akan tetapi, pemanfaatan AI barulah separuh jalan. Namun, tujuan adanya layanan ini adalah untuk membantu orang mengambil keputusan yang lebih tepat tentang satwa atau spesies mana yang membutuhkan perlindungan lebih baik, dan lokasi mana yang harus diprioritaskan dalam upaya perlindungan.

Google telah mengambil sejumlah langkah untuk melestarikan dan melindungi margasatwa, termasuk meniadakan produk margasatwa ilegal dari layanan Google Shopping, turut mendanai Global Coalition to End Online Wildlife Trafficking bersama WWF, serta menerapkan machine learning untuk melindungi paus bungkuk dan memahami pergerakan dan ekologi mereka secara lebih baik berdasarkan data akustik.

Tidak hanya tugas para peneliti untuk melindungi satwa, ini tentu menjadi tugas kita bersama, seperti halnya memanfaatkan teknologi yang ada untuk membantu melindungi bumi agar generasi masa depan dapat hidup di dunia yang kaya akan margasatwa ini.***

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau33%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kisah Manis Lumpia, Makanan yang Diakui UNESCO Sebelummnya

Kisah Manis Lumpia, Makanan yang Diakui UNESCO

Inilah Lele Berwarna Pink Dari Jepara Selanjutnya

Inilah Lele Berwarna Pink Dari Jepara

Dessy Astuti
@desstutt

Dessy Astuti

Literasi-kata.blogspot.com

Si penyuka buku, bakso, dan kucing.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.