Aspek Desa Wisata Indonesia dalam Jajaran 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia

Aspek Desa Wisata Indonesia dalam Jajaran 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia

Keunikan Desa Wisata di Indonesia turut menarik hati wisatawan lokal dan mancanegara © jpp.go.id

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Keindahan Indonesia memang seakan tak pernah ada habisnya. Pada Oktober lalu, 4 Desa Wisata di Indonesia masuk dalam jajaran Sustainable Destinations Top 100 atau 100 Destinasi Berkelanjutan Tingkat Dunia yang merupakan merupakan program tahunan Green Destinations Foundation. Ada pun apresiasi ini bertujuan untuk menunjukkan kisah sukses dan praktik pariwisata berkelanjutan dari destinasi pariwisata di seluruh dunia. Empat desa tersebut terbagi di dua provinsi yakni provinsi Bali dengan Desa Pemuteran dan Desa Penglipuran, sementara dua desa lainnya berada di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Desa Nglanggeran dan Desan Pentingsari.

Kira-kira, apa yang membuat keempat desa wisata tersebut menjadi bagian dari 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia?

Berikut adalah profil singkat dari masing-masing desa beserta aspek penunjang sebagai desa wisata.

  1. Desa Pemuteran, Bali
Terumbu Karang Desa Pemuteran | Foto : Pergimulu.com

Desa Pemuteran berada di pesisir barat dari pulau Bali atau sekitar 55 km arah barat kota Singaraja dan 30 km dari Gilimanuk. Letak Desa Pemuteran berada di antara gugusan perbukitan dan laut, sehingga menjadikan tempat ini memiliki pemandangan yang sangat eksotis. Wilayah laut yang berada di Desa Pemutaran pun memiliki keindahan yang menarik wisatawan. Karang laut yang dipelihara secara profesional dan proyek penangkaran penyu juga dimiliki desa ini. Meskipun telah dikembangkan sebagai obyek wisata, pantai di Desa Pemuteran masih terjaga keasliannya. Aspek yang dijunjung Desa Pemuteran menjadi desa wisata adalah wilayah koservasi.

  1. Desa Panglipuran, Bali
Desa Adat | Foto : gnfi

Desa Panglipuran merupakan salah satu dari desa yang masih memegang teguh adat dan dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat. Mendapat julukan sebagai Desa Adat, mebuat Desa Penglipuran menerima banyak penghargaan baik nasional maupun internasional, salah satunya Suistainable Destinations Top 100 karena budayanya yang masih dipegang utuh serta kebersihan desa yang sangat terjaga. Selain memegang teguh adat, warga di Desa Penglipuran juga memiliki bangunan rumah yang unik. Semua bangunan rumah di desa ini tampak saling mirip satu sama lain, di mana setiap rumah selalu memiliki sebuah pintu gerbang dan uniknya lagi ukuran rumah para warga di desa ini juga sama persis.

  1. Desa Nglanggeran, Yogyakarta
Desa Wisata Nglanggeran | Foto : Travelink Indonesia

Desa Nglanggeran berada di wilayah Kabupaten Gunungkidul dan memiliki pesona yang menawan. Desa Nglanggeran menjadi desa wisata dengan mengedepankan aspek orisinalitas budaya yang dipegang oleh penduduk setempat hingga mendapat Penghargaan Pariwisata Berbasis Masyarakat ASEAN (CBT) pada bulan Januari 2017. Desa Wisata Gunug Api Purba ini berada 700 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1,5 hingga 2 jam dari puncak gunung.

  1. Desa Pentingsari, Yogyakarta
Desa Wisata Pentingsari mempertahankan kearifan lokal | Foto: Kahyangan.com

Desa Pentingsari adalah salah satu desa yang berada di Kabupaten Sleman, tepatnya di Kecamatan Cangkringan yang berada di bawah kaki Gunung Merapi. Hal tersebut mengakibatkan suasana di Desa Pentingsari selalu diselimuti hawa sejuk. Desa Pentingsari menjadi desa wisata sejak tahun 2008 dengan mengunggulkan keaslian budaya, alam dan sosial masyarakatnya. Alam yang ada di Desa Pentingsari masih terjaga kondisinya, sementara penduduk di Desa Pentingsari pun masih menajaga budaya Jawa yakni dapat dilihat dari rumah khas Jawa berupa Joglo dan sosial kemasyarkatannya pun terjalin dengan baik di mana tenaga kerja dan pengelola desa wisata merupakan warga lokal.

Secara umum, keempat desa wisata tersebut masuk dalam kategori Konservasi Lingkungan, Pemanfaatan Ekonomi untuk Masyarakat Lokal, dan Sosial-Budaya. Oleh sebab itu, sektor wisata masa kini tidak hanya mengedepankan pesona bendawi yakni pesona dari hal-hal yang dapat disentuh seperti alam dan bangunan, namun sektor wisata juga dapat disokong dari pesona non-bendawi seperti adat dan kultur sosial.


Catatan kaki: eksotis jogja | buleleng | bali.com | liputan6

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

10 Maskapai Paling Tepat Waktu Dunia. Adakah dari Indonesia? Sebelummnya

10 Maskapai Paling Tepat Waktu Dunia. Adakah dari Indonesia?

Aturan Baru WhatsApp Soal ‘’Meneruskan’’ Pesan Selanjutnya

Aturan Baru WhatsApp Soal ‘’Meneruskan’’ Pesan

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.