Inilah Studio Seni Kriya Logam yang Masih Eksis di Yogyakarta

Inilah Studio Seni Kriya Logam yang Masih Eksis di Yogyakarta
info gambar utama

Yogyakarta dikenal sebagai daerah yang khas di mata banyak orang. Bukan nama baru juga kalau orang mendengar kata Yogyakarta atau Jogja, langsung bisa berimajinasi apa yang pernah ia rasakan.

Banyak wisata yang unik dan kuliner ciamiknya menjadikan sebagai salah satu tujuan destinasi yang selalu dinantikan banyak orang di Indonesia dan mancanegara.

Selain memiliki pesona objek pariwisata, Yogyakarta juga memiliki komunitas seni dan budaya yang sangat aktif. Sepanjang tahun selalu ada saja acara seni dan budaya di Yogyakarta.

Tapi tahukah kamu jika Yogyakarta memiliki banyak petilasan bersejarah. Salah satunya Kerajaan Mataram Islam di Kotagede. Lokasinya yang terletak di pinggiran kota Yogyakarta membuat banyak mata wisatawan tak meliriknya.

Walaupun Kotagede secara geografis letaknya di pinggiran Kotagede, namun potensi tersembunyinya sangat banyak. Pinggiran juga tidak hanya berarti tempat saja, namun bisa dikatakan sebagai subjek atau komunitasnya.

Artinya, subjek-subjek yang tidak diuntungkan atau dirugikan secara ekonomi-politik di dalam struktur masyarakat tertentu, meskipun berada di kawasan utama.

Isu pinggiran ini menjadi perbincangan utama di mana Yogyakarta yang bertekad menjadikan dirinya sebagai kota warisan budaya dunia, harus mampu membaca semua sudut kawasannya.

Misalkan di kotagede masih ditemui banyak rumah asli Jawa bentuk limasan tua, di Kotagede masih ditemui makanan tradisional khas Jogja yang masih eksis hingga sampai saat ini, hingga komunitas keroncong yang setiap tahunnya menyelenggarakan festival keroncong kotagede.

Selain itu, jika mendengar nama Kotagede maka yang terbayang adalah tentang kerajinan logamnya. Banyak perajin logam di Kotagede yang masih aktif berkarya memproduksi kerajinan logam hingga sampai hari ini.

Salah satunya, Nursih Basuki Art Studio yang memproduksi karya-karya dari logam seperti tembaga dan kuningan. Namun terputusnya informasi, bahwa seni kriya logam memiliki sejarah historis kuat di Kotagede.

Faktanya banyak anak muda yang mulai tidak mengetahui sejarah seni kriya logam berkembang di Kotagede. Selain menjadi persoalan bersama, kita juga harus mulai belajar tentang perspektif seni kriya logam.

Dalam konteks kesenian, strategi melihat dunia dalam kerangka pandang sejarah ini nampaknya akan menjadikan kekuatan masyarakat seni.

Gagasan studio seni kriya logam bisa mempertemukan seniman dan pemerhati seni di Indonesia dengan mitra-mitra mereka dari berbagai latar belakang yang sama menarik, sama unik dan sama kompleks.

Studio seni kriya logam ini patut menjadi salah satu perhatian salah satu sedulur seni semua. Pernahkan kamu membayangkan bagaimana lembaran logam besar dipukul dengan teknik khusus hingga menimbulkan motif indah yang berkarakter?

Inilah yang akan ditawarkan oleh Nursih Basuki Art Studio. Banyak perajin logam di Kotagede yang masih aktif berkarya memproduksi kerajinan logam hingga sampai hari ini.

Salah satunya, Nursih Basuki Art Studio yang memproduksi karya-karya dari logam seperti tembaga dan kuningan. Studio kecil yang berisikan para perajin berpengalaman di Yogyakarta ini terletak di Dusun Mutihan RT.03, Wirokerten Banguntapan, Bantul, Yogyakarta atau 5 menit saja dari Pasar legi Kotagede.

Sejak awal, Nursih Basuki Art studio telah memfokuskan diri pada penciptaan hubungan interaktif antara seni kriya tradisional dan seni kriya kontemporer yang mengharagai proses kreatif sebagai sumber inspirasi.

Dalam praktik seni kontemporer, ada kelonggaran untuk menggunakan praktik seni kriya logam tradisional dalam hal proses kreatifnya. Misalkan seperti, jika dulu menggunakan minyak tanah maka sekarang bisa menggunakan gas elpiji, jika dulu menggambar menggunakan pensil dan spidol untuk desain, kini sudah ada computer, hingga pilihan laternatif lainnya seperti proses pengiriman ke luar kota.

Ke depan tentu dengan adanya studio seni kriya logam yang mampu bertahan seperti Nursih Basuki Art Studio, diharapkan mampu menjaga keberlangsungan pertukaran wacana seni antar perajin, kelompok inteltual dan akademisi serta masyarakat seni.

Dengan sinergi seperti itu, bukan hal yang sulit jika Yogyakarta dengan ambisinya sebagai kota warisan dunia akan terwujud.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini