Tujuh Tahun Lagi, Indonesia Akan Berada di Atas Amerika Serikat, di Sektor ini

Tujuh Tahun Lagi, Indonesia Akan Berada di Atas Amerika Serikat, di Sektor ini

Ilustrasi © Unsplash.com

Proyek-proyek geothermal baru yang sedang dibangun di Indonesiadiharapkan akan segera beroperasi di Indonesia beberapa tahun ke depan, dan akan membuat Indonesia menyusul AS sebagai penghasil energi panas bumi terbesar di dunia.

Saat ini, empat dari 10 proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di dunia ada di Indonesia, dan dalam hal keseluruhan output keluaran hanya di belakang AS, yang mempunyai 1/4 kapasitas pembangkit energi panas bumi yang terpasang di dunia.

GlobalData baru-baru ini mengungkapkan bahwa proyek-proyek pembangkit panas buni yang akan sedang dibangun di Indonesia, akan mencakup tambahan lima gigawatt (GW) kapasitas panas bumi saat mereka mulai beroperasi. Para analisis energi dunia mengungkapkan bahwa fasilitas Pembangkit Panas Buni Gunung Salak di Indonesia, yang beroperasi sejak tahun 1994, memiliki kapasitas aktif terbesar saat ini 375 megawatt (MW), sementara proyek Sarulla 1, diluncurkan dua tahun lalu, berada di posisi kedua dengan output 330MW.

Islandia, Filipina, Kenya, dan Turki juga merupakan rumah bagi pembangkit panas bumi yang signifikan, sementara fasilitas Cerro Prieto II dan III di Meksiko menyediakan kapasitas gabungan 440 MW.

Direktur GlobalData, Ankit Mathur mengatakan: “Meksiko memiliki jumlah proyek terbesar kedua di antara daftar 10 proyek panas bumi teratas.

"Namun, pasar panas bumi Meksiko kemungkinan akan menyaksikan pertumbuhan yang sangat sedikit hingga 2030, dengan hanya tiga atau empat proyek dalam pipa dalam tahap pengembangan awal."

Investasi global dalam tenaga panas bumi mencapai $ 4 miliar pada tahun 2023
Meskipun jarang menjadi berita utama, namun energi panas bumi tetap memberikan kontribusi yang signifikan terhadap campuran energi bersih global, dan memiliki keunggulan penting dari ketersediaan yang konstan tanpa terpengaruh pada kondisi lingkungan.

IEA (International Energy Agency) memperkirakan bahwa, pada 2017 saja, pembangkit listrik tenaga panas bumi global diperkirakan mencapai 84,8 terawatt jam (TWh), sementara kapasitas kumulatifnya mencapai 14GW.

Sumber : GlobalData

Analis GlobalData menyatakan bahwa kurangnya akses ke keuangan dan risiko investasi terkait telah membuktikan hambatan signifikan terhadap pertumbuhan sektor ini, dengan kapasitas energi panas bumi yang telah mendaftarkan laju pertumbuhan tahunan gabungan hanya 3,2% antara tahun 2000 dan 2018.

Investasi di sektor ini diperkirakan akan tumbuh menjadi $ 4 milyar pada tahun 2023, naik dari sekitar $ 3,2 milyar pada tahun 2018.

Awal tahun ini, Bank Dunia menghiasi pinjaman $ 150 juta untuk Indonesia yang dialokasikan untuk investasi dalam infrastruktur tenaga panas bumi yang sedang tumbuh, disertai dengan $ 127,5 juta dana hibah lagi dari Green Climate Fund and the Clean Technology Fund, dua lembaga yang mendukung pembangunan energi ramah lingkungan.

Sumber: NS Energy

Pilih BanggaBangga38%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau38%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mengintip Cara Kerja Bendung Katulampa Sebelummnya

Mengintip Cara Kerja Bendung Katulampa

Islamic Center Indonesia akan Dibangun di Kota Dingin di AS Selanjutnya

Islamic Center Indonesia akan Dibangun di Kota Dingin di AS

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.