Cendol dan Dawet, Serupa tapi tak Sama

Cendol dan Dawet, Serupa tapi tak Sama
info gambar utama

Cendol dawet, cendol dawet seger
Cendol cendol dawet dawet
Cendol cendol dawet dawet
Cendol dawet seger piro, lima ngatusan
Terus gak pake ketan
Ji ro lu pat nem pitu wolu

Itulah penggalan lirik dari lagu Pamer Bojo versi cendol dawet yang dinyanyikan oleh Didi Kempot sang maestro campursari. Akhir-akhir ini, kata cendol dan dawet memang menjadi lebih populer karena lagu tersebut.

Tidak hanya terkenal karena lirik lagu, beberapa tahun lalu, es cendol juga pernah diklaim oleh Malaysia dan Singapura sebagai minuman yang berasal dari negara tetangga tersebut.

Cendol dan dawet, keduanya merupakan minuman manis dengan rasa yang menyegarkan, manis, dan gurih, sehingga membuat siapa saja yang menyeruputnya saat cuaca panas dapat terlepas dari rasa dahaga.

Es cendol dan dawet dapat disajikan di gelas atau mangkuk | Foto: etnis.id
info gambar

Es cendol dan dawet mudah Kawan GNFI temui di pinggir jalan dengan biasa dijajakan oleh pedagang kaki lima atau gerobak dorong dengan harga yang sangat murah, yakni mulai dari Rp5.000 per gelas.

Tidak hanya dijajakan di pinggir jalan, Kawan GNFI juga bisa menemukan kedua minuman tersebut pada beberapa restoran yang biasa disajikan sebagai dessert.

Meski selalu disandingkan dan memiliki kesamaan, yaitu disajikan dengan campuran santan dan gula merah, nyatanya cendol dan dawet itu berbeda, lho!

Es cendol merupakan minuman khas dari Sunda tepatnya di Bandung, Jawa Barat, dengan bahan terbuat dari tepung kacang hijau atau tepung hunkwe. Dalam pembuatannya, tepung tersebut diayak dengan diberi warna hijau alami yang terbuat dari daun pandan atau daun suji.

Kemudian bahan tadi dijadikan adonan dengan dicetak panjang-panjang menggunakan pencetak khusus agar lebih rapi. Setelah matang, cendol biasa disajikan dengan parutan es bersama bahan lainnya, seperti bubur kacang hijau, buah nangka, biji selasih, buah durian, singkong potong dan sebagainya.

Es cendol dengan berbagai isian | Foto: happyfresh.id
info gambar

Minuman ini biasa disajikan sebagai pencuci mulut atau sebagai minuman selingan saat siang hari dengan tekstur yang kenyal saat digigit. Di Jawa Barat, istilah minum cendol disebut sebagai nyendol.

Berbeda dengan es cendol yang berasal dari Jawa Barat, es dawet sendiri berasal dari wilayah tanah Jawa tepatnya dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Namun, seiring perkembangan zaman, es dawet mulai menyebar ke seluruh kota mulai dari Solo, Semarang, hingga Jakarta.

Jika cendol terbuat dari tepung hunkwe, maka dawet terbuat dari tepung beras atau ketan dengan disajikan bersama dengan kuah santan dan gula jawa cair.

Proses pembuatan dan bahan pewarna antara cendol dan dawet hampir sama, hanya saja untuk dawet proses pencetakannya menggunakan perkakas dapur yang terdapat lubang, sehingga dawet memiliki bentuk cenderung memanjang dan lancip di ujungnya. Dari segi tekstur, dawet mempunyai tekstur yang lebih lembut saat dikunyah.

Es dawet kratonan Solo | Foto: solongangeni.com
info gambar

Di Jawa, ada berbagai macam es dawet yang bisa Kawan GNFI coba, seperti dawet ayu, dawet mawar, dawet durian, dawet Solo, dawet Magelang, dawet ireng, dan dawet sambal Kulonprogo.

Tidak hanya di Indonesia, bagi Kawan GNFI di luar negeri juga dapat menemukan dengan mudah keberadaan es cendol dan dawet di Kawasan Asia Tenggara dengan varian isi yang berbeda yaitu menggunakan kacang merah.

Pada 2018 lalu, minuman ini masuk sebagai salah satu dari 50 minuman manis terbaik yang ada di dunia versi CNN.

Nah, itulah perbedaan dari kedua minuman manis tersebut. Sekarang Kawan GNFI sudah bisa membedakannya, ya? Selamat menikmati cendol dan dawet!

Referensi: fimela | wikipedia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dessy Astuti lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dessy Astuti. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini