Garin Nugroho, Sutradara Pembawa Budaya Indonesia ke Dunia

Garin Nugroho, Sutradara Pembawa Budaya Indonesia ke Dunia
info gambar utama

Kucumbu Tubuh Indahku, sudah tahu bahwa melalui film ini sutradara Garin Nugroho mendapatkan sebuah piala berlabel sutradara terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2019? Ternyata itu bukan prestasi pertamanya dalam dunia seni di Indonesia, dirinya sudah sangat dikenal sebagai seniman, penulis, dan sutradara berkelas yang berupaya mengangkat nama baik Indonesia juga.

Film tersebut berhasil membawa pulang 8 piala dari 12 nominasi FFI, salah satu diantara lainnya adalah piala penghargaan untuk Film Terbaik dan Skenario Asli Terbaik. Garin menaruh banyak aksen budaya sebagai naratif kebanggaan dan seni visual dalam film. Alhasil dalam pembahasan itu, sutradara kelahiran Yogyakarta ini memiliki gaya dan khas tersendiri.

Film seperti Cinta Dalam Sepotong Roti, Soegija, Puisi Tak Terkuburkan, Opera Jawa, Guru Bangsa: Tjokroaminoto dan Isyarat merupakan deretan dari beberapa film lainnya yang memang sudah banyak sekali beliau hasilkan.

Filmnya acap kali menarik perhatian baik dari masyarakat bangsanya sendiri maupun negara asing di luar sana. Penghargaan seperti Asia Pasific Screen Awards dan Venice Independent Film Critic sudah seperti langganan baginya untuk membawa pulang trofi atas yang ia buat. Salah satu contoh pada film Kucumbu Tubuh Indahku, film ini berhasil meraih label cultural diversity award pada Asia Pasific Screen Awards.

Kali ini alumni Institut Kesenian Jakarta itu, terjun untuk menggarap sebuah teater. Sebuah penampilan kelas dunia dengan filosofi sederhana yang pastinya dengan budaya Indonesia akan kembali Garin lukiskan pada kanvas karirnya. Pentas yang berjudul Planet Sebuah Lament, yang telah dipentas di panggung teater Taman Ismail Marzuki.

Cuplikan Pentas Planet Sebuah Lament | Foto: Fimela.com
info gambar

"Sangat jarang kan kita menemukan hal (budaya) dengan kualitas dunia," kata Garin setelah pentas Planet Sebuah Lament.

Sebuah dedikasi yang sudah ia ingin capai dan ingin dalami, akhirnya tersampai juga pada pentas ini. "Sudah 7 tahun lalu saya menyukai lament namun belum ada jalan untuk menggarapnya, syukur sekarang dapat diwujudkan," lanjutnya.

Lament itu sendiri adalah sebuah ratapan, sebuah orkestra terbesar perasaan manusia, sebuah kehilangan juga sebuah harapan kebangkitan. Hal yang hidup dan hal yang dihidupi setiap manusia. Garin menginginkan sebuah kesederhanaan dalam pertunjukan ini, namun berkelas dan berbekesan dalam jiwa penontonnya. Sebuah karya yang tak hanya dapat dilihat namun dapat membuat mata terbelalak, bahwa negara ini, Indonesia memang kaya.

Cuplikan pentas Planet Sebuah Lament | Foto: Dokumentasi Media Image Dynamics
info gambar

Dalam pentas ini, nyanyian ratapan yang berasal dari budaya Indonesia Timur berhasil menghanyutkan siapapun yang melihatnya.

"Pentas ini akan tampil di Melbourne, kemudian Jerman dan Belanda itu baru tahap pertama, pastinya setelah itu akan keliling lagi" sambung Garin.

Baginya tidak ada perbedaan dalam menuangkan karya baik dalam film atau teater, keduanya memiliki kesulitan yang sama namun dengan tantangan spesifik tersendiri. Keduanya adalah media beliau agar budaya Indonesia terus dikenang dan disaksikan dunia, dirinya berharap banyak agar karyanya dicintai dari segala kalangan termasuk anak-anak millenial.

Cuplikan pentas Planet Sebuah Lament | Foto: Dokumentasi Media Image Dynamic
info gambar

"Industri kreatif harus memperluas lagi pembangunan fasilitas-fasilitas teknologi sehingga sama dengan panggung level dunia, expert-expert dalam hal ini harus dimiliki Indonesia" tutup sang sutradara berprestasi itu.**

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RN
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini