Mengulas Generasi Kembali ke Akar Bersama Pakarnya

Mengulas Generasi Kembali ke Akar Bersama Pakarnya

Poster acara web seminar © GNFI

Istilah generasi milenial sudah akrab terdengar di Indonesia sejak lama. Bahkan kata milenial sendiri sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia yang awalnya dari kata millennial.

Milenial menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah berkaitan dengan milenium, dan berkaitan dengan generasi yang lahir diantara tahun 1980-an dan 2000-an. Istilah milenial sendiri diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis di Amerika, William Strauss dan Neil Howe pada beberapa bukunya.

Jika secara harfiah, memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi milenial. Namun biasanya, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun lahir.

Berangkat dari kata milenial, ada seorang peneliti anak muda dari Indonesia yang memiliki sebuah buku dengan bahasan berupa bagaimana upaya generasi muda dalam melanjutkan perjuangan bangsa ini, berjudul “Generasi Kembali ke Akar”.

Pada Jumat (17/1) lalu, GNFI mengadakan web seminar (webinar) yang disiarkan melalui aplikasi Zoom, dengan menghadiri penulis buku tersebut, yakni Dr. Muhammad Faisal selaku penulis dan juga youth researcher.

Kurang lebih sepuluh tahun lamanya Faisal melakukan survei kepada para generasi muda sehingga lahirlah buku Generasi Kembali ke Akar. Sebelumnya, Faisal juga sudah mengeluarkan buku serupa berjudul Generasi Phi.

Faisal penulis buku | Foto: enterthelab.com

Faisal lahir pada 13 Januari 1981. Selain sebagai penulis, Faisal juga merupakan seorang pendiri Youth Laboratory Indonesia yang bergerak dalam bidang biro riset pertama di Indonesia.

Dilihat dari riwayat akademik, Faisal memiliki riwayat pendidikan S1 hingga S3 mengambil ilmu psikologi kekhususan ilmu sosiologi politik. Hal tersebut tentunya berlawanan dengan apa yang sedang dijalankannya saat ini dengan mendedikasikan diri pada studi perilaku dan budaya anak muda Indonesia.

“Awalnya saya tidak bercita-cita menjadi seorang Youth Researcher. Lalu ada satu hal yang saya amati ketika melakukan survei bahwa pola jawaban anak muda susah dianalisa. Karena ada kecenderungan tendencies netra. Dari skala setuju sampai tidak setuju, rata-rata jawaban anak muda ini netral,” ujar Faisal, pria lulusan psikologi sosial-politik Universitas Indonesia.

Lalu, bagaimanakah isi dan pesan dari buku Generasi Kembali ke Akar? Berikut ulasannya.

Tema buku “Generasi Kembali ke Akar”

Tema utamanya berbicara tentang generasi muda dengan metode penelitian yang melibatkan interaksi langsung dengan mode demografi. Lalu dari penelitian tersebut, banyak cerita yang pada akhirnya dikumpulkan.

“Setelah sekian tahun melakukan penelitian untuk satu pola yang coba saya rangkai menjadi sebuah teori generasi yang khas di indonesia, akhirnya saya menemukan apa yang membedakan generasi milenial indonesia dengan generasi lainnya,” ujar Faisal pada sesi awal webinar.

Inspirasi buku “Generasi Kembali ke Akar”

Motivasi awal pembuatan buku tersebut ialah saat melihat suatu headline di Kompas yang terdapat kata milenial. Kemudian Faisal berpikir, milenial zaman sekarang banyak dinarasikan sebagai pasar konsumsi.

Misalnya saja pada pemilu tahun 2017 lalu. Milenial banyak dijadikan sebagai target dalam pemungutan suara. Tapi pada kenyataannya, milenial tidak serta merta ikutan saja dalam suara kantong Pemilu, tapi juga mencari jati diri dan menggali nilai pada daerah masing-masing.

“Milenial sekarang mulai tertarik pada kecenderungan literasi yang mana hal itu berlawanan dengan sosial media yang semakin digital. Banyak pula ruang kolektif yang menjadi perkumpulan untuk menggali potensi dan bakat anak muda,” tutur Faisal.

Buku Generasi Kembali ke Akar | Foto: gerai.kompas.id

Tantangan buku Generasi Kembali ke Akar

Salah satu premis atau pesan pada buku ialah generasi itu belum tentu arahnya linear. Artinya semakin digital, sekarang makin banyak teknologi. Akan tetapi pada kenyataannya, anak muda tidak serta-merta berteknologi saja, tapi juga bisa kembali ke akar dengan menggali nilai-nilai jati diri kebangsaan, kemanusiaan, sejarah, dan sebagainya.

Tantangan terberat saat menulis buku tersebut bagi Faisal ialah ketika harus melakukan hibernasi dan membaca kembali berbagai buku-buku sejarah, serta mencoba menghubungan hasil risetnya dengan sejarah yang ada.

Fenomena generasi muda saat ini

Ada banyak fenomena unik yang Faisal temukan saat sedang melakukan penelitian. Contohnya pada tahun 2011, Faisal bertemu dengan seorang kawannya dari Jepang yang datang ke Jakarta.

Kawannya tersebut bertanya tentang keunikan anak muda Indonesia dalam menggunakan sosial media.

Saat dilakukan penelitian, ternyata anak muda Indonesia bisa mengganti foto profil sebanyak dua hingga tiga kali dalam satu waktu di sosial media. Hal tersebut tentunya tidak ditemukan di Jepang.

Ada juga hal yang berbeda dengan negara lainnya. Jika di luar negeri semakin anak mudanya menggunakan sosial media maka semakin menjadi individualis, namun di Indonesia anak mudanya malah semakin kolektivis, seperti dengan membangun sebuah komunitas dari sosial media.

Pesan yang disampaikan dalam buku Generasi Kembali ke Akar

“Kita harus terus menaruh harapan dan optimisme terhadap anak muda karena dari periode ke periode, pada dasarnya republik ini dibangun oleh anak muda yang bersatu dari berbagai komunitas, seperti Jong Sumatera,” jelas Faisal.

Faisal melanjutkan bahwa semoga ke depan, imajinasi tentang bangsa Indonesia akan diteruskan oleh anak muda. Faisal yakin dengan karakter lama, imajinasi luar biasa itu akan muncul kembali.

Impian dan harapan untuk pemuda Indonesia lima tahun ke depan

Saat ini, Indonesia sedang berada pada era bonus demografi. Yang menarik saat melihat proporsi demografi dunia ialah, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan China akan menjadi negara yang tua karena anak mudanya sedikit di sana.

Berangkat dari hal tersebut, sebenarnya Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dari negara maju dengan anak muda yang jauh lebih banyak.

“Saya melihat lima tahun ke depan, anak muda bisa jadi kompetitif baru bagi Indonesia agar lebih maju. Bisa menjadikan bangsa indonesia menjadi bangsa yg besar,” harap Faisal.

Seperti kalimat dalam buku Generasi Kembali ke Akar, belajarlah dari alam. Ketika sebuah benih ditanamkan di tanah, benih itu akan memanjangkan akarnya ke bawah sebelum menjulang secara vertikal ke atas.

Maka, sebelum anak muda menghasilkan sebuah karya, masuk ke ruang publik, masuk ke masyarakat, berkreasi, dan menjadi pemimpin, generasi muda haruslah memiliki akar yang kuat ke bawah dengan harapan akan menjadi generasi yang menguatkan dirinya dan Indonesia.

Itulah ulasan pembahasan webinar GNFI yang membahas buku Generasi Kembali ke Akar. Semoga setelah mengikuti dan membaca ulasan ini, Kawan GNFI bisa menjadi generasi yang ikut dalam membangun Indonesia, ya!

Sampai jumpa di webinar GNFI selanjutnya!

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tapak Jejak Desa Takpala di Negeri Seribu Moko Sebelummnya

Tapak Jejak Desa Takpala di Negeri Seribu Moko

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya Selanjutnya

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya

Dessy Astuti
@desstutt

Dessy Astuti

Literasi-kata.blogspot.com

Si penyuka buku, bakso, dan kucing.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.