Kok Ada yang Percaya, Kerajaan-Kerajaan Baru itu Bisa Menghentikan Nuklir

Kok Ada yang Percaya, Kerajaan-Kerajaan Baru itu Bisa Menghentikan Nuklir

Ilustrasi © Unsplash.com

Baru-baru ini saya melihat wawancara TVOne dengan gubernur Jawa Tengah Mas Ganjar dan Jawa Barat Kang Emil tentang kerajaan-kerajaan baru yang muncul diwilayah kedua gubenur itu, yaitu Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire . Kang Emil menghimbau masyarakat – sesuai dengan nasihat ibudanya bahwa kalau ingin jadi orang saleh kumpullah orang saleh, kalau ingin jadi pintar bergaulah dengan orang pintar, jangan terkecoh dengan orang-orang seperti yang mendirikan kerajaan-kerajaan baru itu, apalagi Indonesia meghadapi tahun 2045.

Ya tahun 2045 itu Indonesia diprediksi menjadi negara nomor 5 terkuat didunia dibidang ekonominya. Price Waterhouse Cooper melaporkan ada 21 negara didunia ini yang ekonomi nya akan mendominasi dunia. Yang menarik adalah Indonesia diperingkat no 5 menyalip beberepa negara maju lainnya pada tahun 2030 itu, seperti Jerman, Inggris, Kanada, Spanyol, Rusia, Saudi Arabia dsb. GDP nya diprediksi sebesar USD 5,244 trilliun dan Indonesia optimis karena dari berbagai hal seperti kondisi makro ekonomi dan komposisi penduduk muda yang besar –atau yang sering disebut sebagai Bonus Demografi.

Karena itu sebaiknya semua komponen bangsa ini fokus pada upaya-upaya tercapainya kondisi Indonesia menjadi negara kuat di tahun 2045 itu, namun munculnya ide-ide mendirikan kerajaan –kerjaan baru itu menjadi “kerikil” bagi kemajuan negara yang ingin dicapai. Meskipun itu “kerikil” tapi perlu diamati secara cermat tentang kenapa dalam dunia modern, dengan kerkembangan IT yang begitu cepat diluar nalar kita seperti sekarang ini masih ada sekelompok masyarakat yang percaya pada ide pembentukan kerajaan baru itu.

Kedua gubernur diatas berpendapat bahwa masyarakat yang bergabung dalam kerajaan-kerajaan baru itu adalah masyarakat yang memiliki masalah perekonomiannya. Dalam hati saya berkata “I don’t buy that opinion”, karena di TV saya melihat wajah-wajah para pengikut kerajaan-kerajaan baru itu bukan wajah-wajah orang miskin, muka-mukanya cerah tidak menampilkan muka orang yang menderita; bahkan anggota – anggota kerajaan Sejagat yang ada di Jawa Tengah mau membayar uang Rp. 2 juta sampai Rp. 30 juta pada seorang raja yang bernama Totok Santoso – yang ternyata dari penelusuran TVOne pernah tinggal suatu rumah di pinggir rel Kereta Api di kawasan Ancol, Jakarta Utara.

"Raja dan Ratu" Kerajaan Agung Sejagat | Kumparan.com

Perlu kajian yang mendalam dari para ahli Perguruan Tinggi atau pemuka agama membedah fenomena baru di masyarakat kita ini, baik dari kajian sosiologi, psikologi, hukum, sejarah, agama dsb. Kok bisa-bisa nya masyarakat dengan wajah cerah dan punya penghasilan ekonomi yang cukup baik, bisa percaya pada ide kerajaan-kerajaan baru itu yang bisa meghentikan bom nuklir, bisa menciptakan perdamaian dunia, menjanjikan kan menggaji anggotanya dengan mata uang dolar dsb. Saya melihat test rudal hypersonic Rusia – melongo karena kecepatannya sangat tinggi dan sepertinya rudal Amerika Serikat seperti Patriot sulit menghentikan rudal barunya Rusia itu, apalagi kalau rudal itu adalah rudal nuklir. Lalu ada diantara kita percaya kalau kerajaan-kerajaan baru itu bisa menghentikan rudal nuklir ..? bagaimana nalarnya ya..?

Kedua Gubernur itu juga berpendapat bahwa alasan sekelompok masyarakat untuk gabung dengan kerajaan-kerajaan baru itu adalah karena perlu “Eksistensi”, bangga kalau pakai seragam militer, bangga bisa menjadi perdana menteri, atau menteri di kerajaan-kerajaan baru itu. Yang saya tidak habis pikir, masyarakat yang bergabung di kerajaan – kerajaan baru itu jumlahnya bisa ratusan.

Fenomena tergiurnya masyarakat terhadap kerajaan baru itu, juga terjadi pada bidang lain misalnya ekonomi dimana banyak orang yang ikut investasi bodong Memiles yang bisa mengeruk uang sampai Rp 750 milyar – yang sekarang lagi di periksa polisi di Polda Jawa Timur. Malahan ada anggota investor bodong itu yang protes pada pemerintah karena Memiles ditutup operasinya, sebab percaya bisa memperbaiki kondisi ekonominya. Seorang korban di Metro TV menceritakan bahwa dia sudah setor uang Rp 50 juta dengan iming-iming akan dapat properti dan uang Rp 10 milyar. Selain itu juga dibidang kepercayaan ada juga yang percaya seorang dukun bisa memanggil Malaikat dan Nabi.

Kedua gubernur itu berpendapat bahwa kasus-kasus seperti masyarakat yang percaya hal-hal yang diluar nalar seperti kerajaan baru itu disikapi dengan santai- santai saja, dianggap hiburan semata dan dianggap sebagai “Kerajaan Halu”. Namun nampaknya hal-hal seperti itu perlu ada kajian yang matang dari semua pihak, agar tujuan bangsa ini mejadi salah satu negara maju tercapai, kita harus fokus pada pada peningkatan produktivitas bangsa, pada peningkatan potensi anak muda agar bonus demografi yang kita miliki berdampak besar bagi kemajuan bangsa. Bukan berfokus pada hal-hal yang diluar nalar.

(Penulis adalah mentor senior di GNFI)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih100%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Setahun Lamanya, Rupiah yang Terkuat di Dunia Sebelummnya

Setahun Lamanya, Rupiah yang Terkuat di Dunia

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya Selanjutnya

Biar Anak Anda Sukses di Sekolah & di Kehidupan, Ini 3 Tipsnya

Ahmad Cholis Hamzah
@achamzah

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.