Yuk! Intip Aneka Koleksi Prangko di Museum Prangko

Yuk! Intip Aneka Koleksi Prangko di Museum Prangko
info gambar utama

Masihkah Kawan GNFI ingat dengan surat yang diantar oleh para Pak Pos pada masa dulu?

Yap! Dahulu, sebelum adanya perkembangan teknologi, surat menyurat memang menjadi media perantara terbaik pada masanya.

Meski surat menyurat sudah dimakan oleh zaman, namun nyatanya hingga kini masih ada lho Pak Pos yang bersiliweran mengantar berbagai surat.

Berbicara tentang surat menyurat, tentunya tidak lepas dari amplop dan prangko. Pada dasarnya, surat yang ingin dikirim akan dimasukan ke dalam amplop dan ditempel dengan prangko sebagai bukti telah melakukan pembayaran pada jasa layanan pos.

Prangko sendiri pada hakikatnya ialah secarik kertas dengan berbagai macam gambar yang diterbitkan oleh pemerintah, dengan bagian belakang umumnya memuat perekat sedangkan pada bagian depan memuat suatu harga tertentu yang dimaksudkan untuk direkatkan pada amplop.

Contoh surat dengan prangko | Foto: mondasiregar.com
info gambar

Dengan menempelkan prangko pada sepucuk surat berarti biaya pengiriman surat tersebut telah dilunasi oleh pengirim surat, dan pos berkewajiban untuk menyampaikan surat tersebut kepada alamatnya yang dituju.

Ada banyak sekali jenis, gambar, dan bentuk prangko yang unik bahkan sudah langka. Untuk bernostalgia dengan berbagai prangko, Kawan GNFI bisa mengunjungi Museum Prangko yang menyimpan segudang aneka koleksi prangko sejak zaman dahulu.

Museum Prangko yang dicetuskan oleh Tien Soeharto ini berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, dengan harga tiket masuk Rp5.000 saja.

Saat berkunjung ke sana, Kawan GNFI akan disuguhkan dengan pemandangan bangunan museum yang bergaya Bali dan Jawa. Kompleks bangunan museum juga dihiasi dengan sejumlah ukuran dan patung dengan dikelilingi pagar tembok.

Terdapat pula dua pintu gerbang yang mengambil model dasar Candi Bentar dengan fungsi sebagai pintu dan pagar untuk jadi pemisah antara halaman luar dan halaman kompleks bangunan.

Pada halaman depan terdapat bola dunia dengan burung merpati di atasnya sedang membawa surat di paruhnya sebagai lambang tugas PT. Pos Indonesia telah menjangkau berbagai penjuru dunia.

Tampak depan bangunan Museum Prangko | Foto: Dessy Astuti/GNFI
info gambar

Di depan pintu masuk museum, berdiri patung Hanoman yang dalam pewayangan dikenal sebagai Dhuta Dharma pembawa berita, sedangkan di samping kiri dan kanan pintu masuk, terdapat dua lukisan besar gaya Bali karya pelukis Drs. Wayan Sutha yang menggambarkan bahwa pada masa sebelum kertas dikenal seperti sekarang, surat menyurat dahulu menggunakan ron daun tal.

Pada sisi kiri dan kanan museum terdapat pula dua bangunan. Sisi kiri sebagai kantor pos tambahan dan sisi kanan sebagai kantor pengelola museum.

Beralih ke dalam museum, ketika Kawan GNFI masuk ke dalam area museum, Kawan GNFI akan dapat langsung melihat serba-serbi koleksi prangko dengan hanya satu ruangan yang dibagi menjadi enam bagian ruang pamer.

Ruang pamer pertama menyajikan tentang sejarah prangko. Pada ruang pamer tersebut dijelaskan bahwa dahulu kala, pohon lontar menjadi media untuk menulis dengan pengutik yang melalui proses dimasak terlebih dahulu.

Ruang pamer pertama menyajikan peragaan sejarah prangko | Foto: Dessy Astuti/GNFI
info gambar

Sir Rowland Hill adalah sosok pencetus gagasan pemakaian prangko pada tahun 1840 di Inggris, dengan menerbitkan Penny Black prangko sebagai prangko pertama yang lahir ke dunia.

Pada Ruang pamer kedua menyajikan bagaimana proses pembuatan prangko pada zaman dahulu dan zaman sekarang.

Di ruang pamer ini, ditunjukan proses pembuatan prangko yang dilakukan di kantor Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) dengan delapan proses, yakni designing, plate making, printing, perforation, numbering, cutting, verification, dan packaging.

Beralih ke ruang pamer ketiga, yakni menyajikan koleksi prangko saat periode penerbitan sebelum kemerdekaan dan masa perang kemerdekaan. Pada ruang pamer ini terdapat sekitar 60 prangko yang ada sejak tahun 1864 hingga 1949.

Kemudian pada ruang pamer keempat, menyajikan periode penerbitan sesudah kemerdekaan dengan terdapat sekitar 189 koleksi beserta 26 koleksi prangko souvenirsheet.

Potret koleksi prangko | Foto: Dessy Astuti/GNFI
info gambar

Selanjutnya ruang pamer kelima menyajikan koleksi prangko berdasarkan tema, seperti pariwisata, kebudayaan, flora, fauna, serta sosial dan kemanusiaan,

Lalu ruang pamer keenam menyajikan prangko tematik pramuka dan olahraga, mulai dari saat jambore pertama di Cibubur sampai berbagai acara olahraga nasional dan dunia.

Terakhir ruang pamer ketujuh menampilkan kegiatan filateli dengan beberapa ilustrasi peragaan beberapa remaja sedang menyiapkan pameran prangko.

Tidak sampai di situ, terdapat pula berbagai koleksi prangko presiden Indonesia dari masa Presiden Soekarno hingga Presiden SBY, serta beragam prangko lambang provinsi dan bencana alam yang terpajang di dinding tengah ruang museum.

Bagi Kawan GNFI yang mengoleksi berbagai prangko, jangan lupa ya untuk membeli prangko di sana! Biasanya, petugas di sana akan menawarkan para pengunjung dan menunjukan berbagai koleksi prangko.***

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dessy Astuti lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dessy Astuti.

Terima kasih telah membaca sampai di sini