Di manakah Letak Titik Nol Kilometer Jakarta?

Di manakah Letak Titik Nol Kilometer Jakarta?

Menara Syahbandar di Jakarta Utara © Dessy Astuti/GNFI

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Setiap daerah di Indonesia tentulah memiliki titik nol kilometer yang biasanya ditandai dengan sebuah monumen atau prasasti. Hal tersebut dinilai sebagai sebuah penanda yang tak jarang dijadikan untuk objek wisata oleh masyarakat.

Berbicara mengenai titik nol kilometer, apakah Kawan GNFI tahu di mana letak titik nol kilometer dari ibu kota Indonesia, Jakarta?

Pasti sebagian dari Kawan GNFI berpikir bahwa titik nol kilometer Jakarta berada di Monumen Nasional (Monas). Sayangnya hal tersebut keliru.

Menara Syahbandar | Foto: travel.detik.com

Jauh sebelum Jakarta memiliki julukan sebagai kota metropolitan, letak titik nol kilometernya ialah berada di Menara Syahbandar yang sekarang berdekatan dengan Museum Bahari, Jalan Pasar Ikan No.1, Jakarta Utara.

Menara tersebut masih berdiri dengan kokoh sejak tahun 80-an, tepatnya dibangun pada tahun 1839 pada zaman VOC.

Pada menara tersebut ada sebuah penanda berupa prasasti yang terbuat dari batu dengan bertuliskan huruf aksara Cina. Prasasti tersebut konon dituliskan oleh pedagang dari Cina saat ia tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa pada abad ke-17.

Prasasti tersebut bertuliskan “Tempat ini adalah kantor pengukuran dan penimbangan serta di sinilah titik nol Jakarta”.

Dilansir dari IDN Times, usai masa kemerdekaan, sejumlah bangunan di sekitar menara dirobohkan untuk perluasan jalan Pakin.

Sebagai gantinya, dibangunlah prasasti yang terletak di antara menara dan gedung administrasi.

Setelah sekian tahun lamanya menara ini dibangun, pada tahun 1977, bertepatan dengan peringatan ulang tahun DKI Jakarta ke-450, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pun menempatkan dan meresmikan tugu titik nol kilometer di menara ini.

Tugu titik nol kilometer | Foto: instagram/com/naila_aunika

Zaman dahulu, Menara Syahbandar memiliki fungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Sunda Kelapa, dan juga berfungsi sebagai kantor administrasi VOC.

Memiliki tinggi sekitar 18 meter, Menara Syahbandar dulunya adalah bangunan paling tinggi yang ada di Batavia sebelum adanya bangunan-bangunan menjulang tinggi seperti sekarang.

Bangunan berwarna putih serta memiliki pintu dan jendela yang ukurannya cukup besar, menara yang dijuluki sebagai “Menara Pisa”-nya Jakarta ini mempunyai ciri bangunan yang khas yaitu miring.

Kemiringan menara tersebut kini sudah mencapai sekitar empat derajat ke arah selatan. Kemiringan menara tersebut bukan tanpa sebab, melainkan karena dulunya, menara tersebut sering dilewati oleh lalu lalang kendaraan besar, seperti kontainer dan truk-truk besar lainnya sehingga membuat turunnya permukaan tanah.

Jika dulu penjaga Menara Syahbandar dapat melihat keadaan Pelabuhan Sunda Kelapa dengan jelas, kini semuanya sudah tidak dapat terlihat lagi karena terhalang dengan bangunan-bangunan yang berdiri di sekitarnya.

Kawasan Menara Syahbandar tempo dulu | Foto: ririnagustia.wordpress.com

Dilansir dari detik.com, Menara Syahbandar memiliki tiga lantai, yaitu di lantai dasar bagian tengah berukuran enam sampai tujuh meter dan paling atas yang berfungsi sebagai ruang pengamatan dengan empat jendela.

Di bawah lantai dasar, terdapat ruangan yang dulu berfungsi sebagai tempat untuk mengurung awak kapal yang melanggar peraturan pelabuhan.

Kemudian bagian bawah menara ini, konon terdapat terowongan bawah tanah yang tembus sampai Museum Fatahillah dan bahkan Masjid Istiqlal.

Namun karena alasan keselamatan, kini area menuju terowongan bawah tanah di menara ini sudah ditutup.

Pada bagian luar menara, hingga kini masih dapat ditemui meriam-meriam peninggalan Belanda yang semakin menambah suasana klasik menara ini.

Namun kini, titik nol kilometer Jakarta sendiri sudah dipindahkan ke Monumen Nasional, dan Menara Syahbandar dijadikan museum, bersamaan dengan Museum Bahari.

Untuk dapat berkunjung dan menaiki lantai atas menara tersebut, Kawan GNFI hanya cukup merogoh kocek sebesar Rp5.000 saja.

Pada menara tersebut terdapat beragam koleksi kelautan pula, mulai dari lampu suar kristal, lensa utama mercusuar, teropong, hingga alat maritim lainnya.***

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
PetaBencana.id, Platform Pelaporan Bencana di Media Sosial Sebelummnya

PetaBencana.id, Platform Pelaporan Bencana di Media Sosial

Peringkat 2 Dunia, Inilah Penantang "Silicon Valley" dari Indonesia di Masa Depan Selanjutnya

Peringkat 2 Dunia, Inilah Penantang "Silicon Valley" dari Indonesia di Masa Depan

Dessy Astuti
@desstutt

Dessy Astuti

Literasi-kata.blogspot.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.