Sun Bear, Spesies Beruang Terkecil di Dunia yang Ada di Indonesia

Sun Bear, Spesies Beruang Terkecil di Dunia yang Ada di Indonesia

Beruang Madu Sun Bear © Mongabay

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Apakah Kawan GNFI pernah menonton serial kartun anak-anak di mana salah satu tokohnya adalah seekor beruang yang sangat menyukai madu? Ya, beruang tersebut berwarna kuning, Winnie The Pooh nama serial kartun tersebut. Jika di dalam serial kartun beruang yang menyukai madu tersebut berwarna kuning, berbeda dengan beruang yang menyukai madu atau biasa disebut Beruang Madu yang ada di Indonesia. Warna kulit yang dimiliki Beruang Madu di Indonesia adalah hitam dengan corak kuning pada bagian bawah leher, yang akhirnya Beruang Madu tersebut dinamakan dengan Sun Bear karena adanya tanda di dada dan sekitar leher dari beruang tersebut yang menyerupai matahari terbit.

Sun Bear juga memiliki nama lain yakni Malayan Sun Bear dan memiliki nama latin Helarctos Malayanus dikenal dengan sebutan “Beruang Madu” di Indonesia dan merupakan beruang dengan ukuran badan terkecil dari beruang-beruang yang ada dibelahan bumi manapun. Namun, Sun Bear lebih dikenal dengan nama Beruang Madu oleh masyarakat Indonesia karena kebiasaan beruang tersebut yang suka meminum madu, meskipun madu bukanlah satu-satunya makanan beruang ini.

Sun Bear rebahan di atas batu | Foto : SUWalls

Habitat alami beruang terkecil di dunia ini adalah hutan dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Di Indonesia sendiri, Sun Bear dapat ditemukan di wilayah Sumatra dan Kalimantan, serta beberapa kebun binatang pun menjadi tempat Sun Bear hidup salah satunya Bandung Zoo atau kebun binatang yang ada di Bandung. Selain itu, Sun Bear juga tersebar di hutan yang beriklim tropis dan subtropis seperti hutan yang ada di negara-negara seperti Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, China, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand dan Vietnam.

Ciri yang menonjol dan membedakan antara Beruang Madu atau Sun Bear dengan beruang lainnya adalah Beruang Madu memiliki bulu yang berwarna hitam mengkilat dan memiliki tanda yang berwarna putih kekuningan dibagian leher atau dadanya yang berbentuk huruf “V” seperti matahari terbit. Selain itu, ukuran Beruang Madu juga terbilang kecil yakni panjang tubuh Sun Bear dewasa sekitar 1 meter hingga 1,5 meter dengan bobot Sun Bear jantan sekitar 75 kilogram, sementara Sun Bear betina memiliki bobot yang lebih ringan. Hal tersebut berbanding terbalik dengan beruang coklat yang biasa ditemukan di Amerika Utara dan Eurasia yang memiliki bobot hingga 700 kilogram. Oleh sebab itu, Sun Bear dikatakan sebagai beruang terkecil di dunia.

Kebakaran hutan yang dapat mengancam keberadaan dan populasi Sun Bear dan satwa lainnya | Foto : Greenpeace

Pada dasarnya, Sun Bear adalah hewan karnivora atau hewan pemakan daging, namun pada kenyataannya Sun Bear memiliki sifat omnivora atau pemakan segala. Hal tersebut dilihat dari salah satu sumber makanannya yakni madu, selain itu Sun Bear juga sering memakan serangga seperti semut dan rayap, tidak jarang juga ditemukan Sun Bear yang memakan buah-buahan hingga pucuk daun. Meskipun demikian, Sun Bear lebih menyukai sarang lebah yang berisi madu dan memakannya dari sarang lebah secara langsung.

Seperti yang Kawan GNFI ketahui, bahwa akhir-akhir ini terjadi alih fungsi lahan perhutanan menjadi berbagai jenis kegiatan seperti perkebunan, pembangunan hingga penebangan liar yang akhirnya membuat habitat asli Sun Bear semakin berkurang dan keberadaannya pun terancam. Keberadaan Sun Bear kini mendekati kepunahannya, spesies beruang ini adalah spesies yang di lindungi dan merupakan satwa langka. Oleh IUCN Red List atau Daftar Merah IUCN, Sun Bear merupakan salah satu spesies yang masuk ke daftar Red Data List dengan status Vulnerable (Rentan). Sun Bear juga termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia, di mana dalam PP No 7 tahun 1999, Beruang Madu telah dilindungi di Indonesia dan oleh CITES jenis ini telah dimasukkan dalam Appendix 1 yang berarti tidak dapat diperdagangkan secara internasional, baik secara utuh maupun bagian-bagian tubuhnya.


Catatan kaki: getborneo | greeners | rimbakita

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Jadi Makanan Favorit Suzanna, Inilah Ragam Sate dari Pulau Jawa (Bagian 1) Sebelummnya

Jadi Makanan Favorit Suzanna, Inilah Ragam Sate dari Pulau Jawa (Bagian 1)

Mengkonsumsi Kulit Jeruk Diklaim Dapat Menangkal Virus Corona Selanjutnya

Mengkonsumsi Kulit Jeruk Diklaim Dapat Menangkal Virus Corona

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.