Mengenal Lasiyo, Pria Yang Dijuluki Sebagai Profesor Pisang

Mengenal Lasiyo, Pria Yang Dijuluki Sebagai Profesor Pisang
info gambar utama

Siapa sih yang nggak mau punya gelar profesor?, Kawan GNFI pasti juga pingin punya gelar yang satu ini. Gelar satu ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata, karena tidak sembarang orang dapat memilikinya. Biasanya gelar profesor ini, dimiliki oleh mereka yang mendedikasikan hidupnya dalam bidang riset dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Memang pada umumnya gelar yang satu ini adalah gelar yang identik dengan orang-orang akademis. Tapi Kawan GNFI pernah nggak sih dengar gelar yang satu ini, profesor pisang. Mungkin sempat tidak terpikir bahwa gelar ini ada, tapi seorang pria bernama Lasiyo asal Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta adalah pemilik dari gelar ini, Lasiyo profesor pisang.

Potret Lasiyo dan bibit pisang | Foto: ritxindonesia.com
info gambar

Kalau Kawan GNFI berpikir gelar profesor pisang ini Lasiyo dapatkan secara akademis, jawabanya bukan. Gelar ini Lasiyo dapatkan karena pencapainya terhadap dunia pertanian khususnya tanaman pisang. Semua berawal ketika gempa 5,6 skala Richter melanda Yogyakarta pada tahun 2006 silam yang juga menghancurkan rumahnya.

Dalam kondisi tersebut banyak warga yang mengalami rasa kalut. Dan untuk mengatasi hal tersebut Lasiyo berinisiatif untuk berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk membuat program yang dapat membantu warga. Niat baik dari Lasiyo tersebut mendapat sambutan yang baik dari pihak kelurahan. Dengan mengeluarkan Perdes (peraturan desa) yang bertujuan untuk membantu warga.

Salah satu daru peraturan tersebut adalah siapapun warga yang menanam pohon pisang raja satu hamparan tanah, dengan jumlah 50 batang. Maka akan dibelikan Rp 5.000,00 perbatang, dan Lasiyo juga adalah orang pertama yang melakukan penanaman pohon pisang tersebut. Lasiyo ketika itu menanam 100 batang pohon pisang raja.

Sebelum usulan Lasiyo tersebut disetujui, tidak sedikit yang menganggap usulan Lasiyo tersebut sulit untuk dilakukan. Namun Lasiyo tetap berusaha meyakinkan pihak dari kelurahan, hingga kemudian mendapat persejuan dari pihak kelurahan. Seiring berjalanya waktu pohon-pohn pisang tersebut mulai mebuahkan hasil dan pundi-pundi ekonomi bagia lasiyo dan warga sekitar. Tetapi Lasiyo tidak berhenti disitu saja, setelah berhasil menanam pisang Lasiyo mulai mendatangkan varietas-varietas pisang lainya, khususnya pisang lokal khas Indonesia.

Potret Lasiyo sedang memberi pelatihan | Foto: poncosari.bantulkab.go.id
info gambar

Selain melakukan pembudidayaan berbagai varietas pisang Lasiyo juga mengembangkan peptisida dengan melakukan eksperimen secara otodidak. Hasilnya Lasiyo mampu menciptakan peptisida yang mampu merangsang pertumbuhan bibit pisang menjadi lebih cepat. Yang normalnya memakan waktu empat bulan, dengan peptisida buatanya hanya memerlukan waktu sekitar dua bulan.

Pencapian dari Lasiyo ini juga pernah mengantarkanya sampai Internasional dengan menghadiri pertemuan Salo del Gusto Tella Madre pada tahun 2016 silam di Turin, Italia. Acara ini sendiri adalah pertemuan internasional yang dihadiri oleh para penggerak bidang pangan dan ilmu gastronomi yang ramah lingkungan. Selain itu lasiyo juga mendapatkan berbagai penghargaan dari pemerintah Yogyakarta juga pemerintah pusat atas capaianya tersebut.

Sumber: kompas.com | 8villages.com | radarjogja.co

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini